Harga Tomat dan Cabai Naik Drastis, Harga Garam Anjlok

Harga Tomat dan Cabai Naik Drastis, Harga Garam Anjlok

 

NASIONAL
Gempurnews.com –
Sejumlah harga komoditas sayur menunjukan tren kenaikan di pasar tradisional. Mulai dari harga cabai, hingga tomat melambung tinggi.

Pedagang sayur di Pasar Rumput, Ria (23) mengaku memang harga komoditas tengah meroket tinggi pada hari ini. Ria membanderol cabai keriting merah dan cabai rawit merah kompak di harga Rp 60 ribu per kilogram (kg).

“Tinggi-tinggi sekarang sayur semua. Cabai rawit hijau lebih mahal lagi malah. Udah nyentuh Rp 70 ribu per kilogram,” tuturnya.

Masuk Akhir Pekan, Harga Cabai Merangkak Naik
Tak hanya jenis cabai saja, harga tomat juga dibanderol tinggi pada hari ini. kenaikannya bisa berkisar Rp 3ribu – Rp 4 ribu per kg.

Pedagang sayur lain, Sumiyati (34) kini menjual harga tomat senilai Rp 16 ribu per kg. Padahal biasanya hanya Rp 13 ribu per kg.

“Sekarang sudah enggak bisa lagi jual kita Rp 10 ribu per kg. Enggak untung. Dulu-dulu kan masih bisa,” tegasnya.

Sumiyati menjelaskan, salah satu penyebab atau pemicu kenaikan harga tomat di pasar tradisional menurutnya karena kini sedang memasuki musim kemarau.

“Makanya sekarang jualnya antara Rp 16ribu per kg.

Sementara itu, hari ini Sumiyati menjual harga cabai merah keriting Rp63 ribu per kg, cabai rawit merah Rp59 ribu per kg. Sedangkan bawang merah normal yaitu Rp35 ribu per kg dan bawang putih seharga Rp40 ribu per kg.

Jelang Puasa, Harga Bahan Pokok Stabil
Pedagang memilah cabai di pasar induk Kramat Jati, Jakarta, Jumat (26/4). Kementerian Perdagangan siap menjaga harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok menjelang Puasa dan Lebaran 2019.

Saat dikonfirmasi secara terpisah, Kasubdit Pemasaran Kementerian Pertanian, Unan, mengatakan kenaikan harga tomat memang dipengaruhi oleh musim kemarau.

Selain itu, harga tomat yang sempat anjlok di awal tahun kemarin juga membuat para petani enggan menanam tanaman tomat.

“Oleh sebab itu, pasokan tomat berkurang,” katanya.

Dia menargetkan harga tomat akan kembali normal pada saat Idul Adha nanti. Saat ini, jelasnya, para petani sudah mulai melakukan penanaman tomat kembali.

“Pada saat Idul Adha nanti Insha Allah harga akan normal karena tomat yang tanam sudah banyak lagi,” pungkasnya.

Sementara harga garam diberitakan Jatuh Rp400 per Kg, Petambak garam mengeluhkan jatuhnya harga garam konsumsi. Tidak tanggung-tanggung, harga garam jatuh hingga 50 persen.

Sekretaris Jenderal Persatuan Petambak Garam Indonesia (PPGI) Waji Fatah Fadhilah mengatakan harga garam dari petambak di Kecamatan Krangkeng, Indramayu, cuma Rp400 per kilogram (Kg) dari harga normal di kisaran Rp750-Rp800 per Kg.

Menurut dia, anjloknya harga garam konsumsi karena rendahnya penyerapan oleh PT Garam (Persero), industri makanan dan minuman, maupun pembeli lokal.

Ia menuturkan PT Garam biasanya menyerap 20 ribu ton-50 ribu ton garam pada periode Juni-Juli yang bertepatan dengan masa panen. Namun, hingga kini perusahaan pelat merah itu belum juga menyerap garam rakyat.

“Yang jelas penyerapan agak lambat, mungkin karena ada sisa impor garam. Jadi masih banyak persediaan, sehingga garam di petani tidak terserap,” imbuhnya kepada media, Rabu (10/7).

Penurunan penyerapan garam, lanjutnya, membuat ketersediaan garam konsumsi menumpuk lantaran memasuki periode panen garam yang berlangsung sepanjang Juli hingga Oktober.

Di Kecamatan Krangkeng, terdiri dari 5 desa penghasil garam konsumsi. Saat siklus panen, setiap desa mampu menghasilkan 30 ribu ton garam. Itu berarti, ada pasokan 15 ribu ton garam konsumsi di Indramayu. Jumlah itu belum memperhitungkan pasokan lama yang tersimpan di gudang sebanyak 5.000-8.000 ton.

Akibatnya, garam konsumsi di Indramayu menumpuk hingga kurang lebih 23 ribu ton. Kondisi ini membuat petambak kesulitan. Walhasil, mereka hanya bisa menjual garam konsumsi kepada pengusaha lokal yang memiliki keterbatasan tingkat penyerapan.

“Biasanya kami jual ke lokal dari Jakarta, Lampung, Riau. Per bulan mereka hanya menyerap 10 ton -20 ton untuk satu perusahaan, karena memang kecil,” katanya.

Ia tidak menampik petambak memiliki keterbatasan dalam menyediakan garam industri dengan kandungan NaCl antara 95 persen hingga 97 persen. Sebab, garam konsumsi yang dihasilkan petambak hanya memiliki kadar NaCl sebesar 94 persen. Akibatnya, penyerapan garam konsumsi hanya terbatas pada sektor makanan dan minuman.

“Garam dari impor tidak bisa dimakan, maka diambil sekian persen dari rakyat. Hanya, kebutuhannya minim karena ada garam impor,” paparnya.

Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah untuk memaksimalkan pembinaan kepada petambak terkait pengolahan garam industri. Pemerintah disebut belum melakukan pembinaan langsung kepada petambak garam, sehingga petambak belum bisa menyediakan kebutuhan industri.

“Petani belum bisa jaga kualitas, lalu dari industri belum ada kebutuhan angka NaCl yang jelas. Pemerintah sendiri belum ada binaan langsung terkait garam industri. Sebetulnya, pemerintah harus ada binaan paling tidak 100 orang per kecamatan, jangan binaannya hanya di atas meja,” tandasnya.
(REZ/RED)


No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*