Sepenggal Cerita Kehidupan Mantan PSK

Sepenggal Cerita Kehidupan Mantan PSK

 

LUMAJANG Gempurnews.com –
Badannya yang kurus dibungkus daster panjang, tak mengurangi kecantikan wajah perempuan yang sedang duduk di bangku bambu depan rumahnya. Di sebelahnya duduk seorang anak lelaki yang sedang bermain gambar.

“Ini satu satunya anak saya. Seharusnya, dia sudah kelas SMP, tapi dia sering sakit sakitan,” ungkap wanita kurus yang ternyata bernama Nurul itu saat dikunjungi Gempurnews.com di rumahnya, Dusun pinggiran Desa di Kabupaten Lumajang selatan, beberapa waktu lalu.

Perempuan itu dikenal tetangganya mantan pekerja seks komersial (PSK) di salah satu lokalisasi prostitusi.

“Sudah setahun ini saya berhenti bekerja,” tuturnya.

Sebelumnya, Nurul mengaku bekerja menjadi PSK demi mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Ia juga pernah bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKI) di Korea. Namun, karena tidak tega meninggalkan anaknya yang sakit-sakitan dan orangtua yang sudah tua, ia memilih pulang ke Lumajang.

“Saat itu, suami juga kerja serabutan. Kadang menjual rumput, nyangkul, kuli bangunan, tukang pijet, pokoknya penghasilannya tidak menentu. Sedangkan saya kan masih harus merawat bapak dan ibu yang sudah tua,” ceritanya.

Suatu hari, ia ditawari bekerja sebagai pembantu rumah tangga di salah satu Perumahan Elite oleh salah seorang temannya.

“Tetapi, ternyata saya dijual sama teman saya itu. Dia tahu saya butuh banyak uang. Sedih sekali rasanya. Mau melawan saya gak mampu, akhirnya saya pasrah pada nasib. Saya ingat hari pertama melayani 2 orang laki-laki. Tidak pernah saya bayangkan,” kata perempuan itu, sambil menghela napas barat.

Pada dasarnya dia mengaku marah kepada temannya yang telah membuat dirinya seperti ini. Namun, temannya itu hanya mengatakan, “Ah itu ndak penting. Yang penting kan dapat uang. Kamu mau kerja apa? SD saja cuna sampai kelas 3.” ujar Lilik, temannya itu.

Perempuan berusia 32 tahun tersebut akhirnya memilih bekerja sebagai PSK, tetapi tidak tinggal di lokalisasi pelacuran. Ia berangkat sore dan pulang sebelum jam 12 malam.

Hal tersebut ia lakukan agar suami dan anaknya tidak curiga.

“Saya bilang ke suami dan anak bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang pengusaha ice cream. Jadi, saya selalu bisa pulang,” kata dia.

Tiba tiba, ada hal yang membuat ia merasa sedih, ketika suatu siang petugas razia membawa dirinya dan teman teman seprofesinya digiring ke kantor Satpol PP Pemkab Lumajang.

Ditengah perjalanan, ia sempat melihat anaknya tengah berjalan sendirian di dekat alun alun kota, baju yang dipakainya sedikit robek dekat pundak. Hatinya menjerit melihat pemandangan seperti itu. Untung, dia bertahan untuk tidak menangis.

“Sambil membayangkan wajah anak saya, hati kecil saya bertanya, Apakah dia tahu kalau ibunya ikut terkena razia lokalisasi? Waktu itu saya pakai masker dan topi. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana malunya dia kalau tahu ibunya dikarak diatas mobil,” ucapnya lirih.

Saat kembali di rumahnya, anaknya sempat bercerita, jika tadi siang ia berpapasan dengan arak arakan mobil Satpol PP dengan ditumpangi banyak wanita.

Dia mengatakan, “Kata mbah Miadi, mereka yang diangkut itu adalah wanita nakal yang terkena razia lokalisasi ya mak!?,” kata anak saya. “Kasian ya mereka ya mak. Semoga Allah membuka jalan mereka biar cepat tobat. Setelah itu, anak laki laki saya mencium tangan saya lama sekali. Saya hanya menahan tangis. Saya yakin anak saya tahu, tapi dia diam saja,” kata Nurul.

Sejak kejadian itu, anaknya yang menggantikan suaminya mengantar Nurul berangkat kerja.

“Tidak berhenti di lokalisasi, tapi di rumah warga kan dekat dengan kampung,” kata Nurul.

Selama mengantar jemput Nurul, anak lelakinya sama sekali tidak pernah menyinggung tentang pekerjaannya hingga tahun lalu.

“Setelah besar, dia langsung bilang ke saya, mak enggak usah kerja jadi pembantu lagi, wis. Di rumah aja biar saya yang kerja,” ujarnya.

Ternyata anak satu satunya tersebut bekerja di salah satu bengkel besar sepeda motor milik pengusaha asal Jakarta.

“Saya langsung nangis semalaman. Bersyukur akhirnya saya rasa lepas dari beban kehidupan yang amat berat itu,” ungkap Nurul.

Kini, Nurul tinggal di rumahnya dan menerima jasa jahitan dari tetangga sekitarnya.

“Alhamdulilah ada saja jahitan dari tetangga. Sesekali juga nerima pesanan kue, apalagi kalau puasa, setiapmau Lebaran bisa ramai,” ungkap Nurul lirih.

Nurul yang saat wawancara dulu hanya memakai daster kain tipis yang membalut tubuhnya, namun saat ini ia nampak semakin cantik dengan kain panjang dan kerudung yang dikenakannya. Ia mengaku sering datang ke bekas lokalisasi prostitusi tempatnya bekerja dulu. Bukan untuk bekerja lagi tetapi untuk mengikuti pengajian malam Reboan dalam rangka pembinaan penguatan mental warga kampung prostitusi, yang diselenggarakan Pemkab Lumajang. (RED)


No comments

Write a comment
No Comments Yet! You can be first to comment this post!

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*