OPINI
Merubah PIKIRAN (MINDSET) dan Cara PANDANGAN Yang BENAR

0
14

Mengapa Bangsa Bangsa Di Eropa lebih Creatif dibanding Bangsa bangsa di Asia ?

« *Bagi kebanyakan orang Asia,
dalam budaya mereka,
ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain).

Passion _(rasa cinta terhadap sesuatu) kurang dihargai Akibatnya,
bidang kreativitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.

«. Bagi orang Asia,
Banyaknya kekayaan yang dimiliki LEBIH diHARGAI
……daripada …..
CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila ,lebih banyak orang menyukai cerita, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu… begitupun tidak heran pula bila
perilaku koruptif pun ditolerir/diterima sebagai sesuatu yg wajar.

««. Bagi orang Asia,
Pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian*. Misalnya, ujian Nasional, tes masuk PT dll, semua berbasis hafalan_.
_Sampai tingkat sarjana, mahasiswa *diharuskan hafal _rumus-rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya_
bukan diarahkan untuk memahami
kapan dan bagaimana menggunakan rumus-rumus tersebut.

«««. Karena berbasis hafalan, murid-murid di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran.

Mereka dididik menjadi tahu sedikit- sedikit tentang banyak hal tapi tidak menguasai apapun

«««« Karena berbasis hafalan
, banyak pelajar Asia
bisa jadi juara dalam Olimpiade Fisika, dan Matematika.
…..Tapi …..
jarang ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.

««««« Bagi kebanyakan bangsa Asia, ……. bertanya artinya bodoh,…. makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan sekolah. Karena…. takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta Asia jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru/narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Mari kita bersama-sama Belajar lebih Bijak dalam Mendidik anak anak dan cucu cucu kita

Ada beberapa solusi
sebagai berikut:

1. Hargai proses.
Hargailah orang karena pengabdiannya bukan karena kekayaannya.

2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban.
Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya.

3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan,
apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban utk X x Y harus dihafalkan?

Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar-benar dikuasainya.

4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu,

bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang.

5. Dasar kreativitas adalah rasa penasaran berani ambil resiko.

AYO banyak BERTANYA!

6. Guru adalah fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya.
Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAHU !

7. Passion manusia adalah Anugerah TUHAN…

sebagai orang tua kita Bertanggung-jawab untuk mengarahkan anak kita _untuk menemukan passionnya dan mensupportnya._

_Sehingga kita bisa menghasilkan bibit-bibit tunas bangsa yahg penuh “kreatifit, inovatif” tapi juga memiliki integritas dan idealisme tinggi untuk masa depan bangsa.

Oleh : MOHAMMAD JAENI, S. Pd. M
Pd

Penulis adalah : Ketua LSM Solidaritas Kreatifitas Anak Muda, Jurnalis Gempur News, Jurnalis ID news, Jurnalis One Indonesia satu, Accounting Executive PT. Midtou Aryacom, Business Manager PT. Sentral Multi Gemilang, pengurus Gerakan Optimis Indonesia dan Politisi PSI (Partai Solidaritas Indonesia)