Batasi Fast Food
Turunkan Obesitas

0
16

Apakah kesehatan manusia terutama di Indonesia saat ini sudah pasti aman dan terjamin dari berbagai macam kemungkinan bahaya? Dari data Riskesdas 2018 masih banyak hal yang perlu diperhatikan, yaitu masih terjadinya peningkatan angka obesitas sentral dari usia diatas 15 tahun sebanyak 7,8% dari tahun 2007 sampai 2013 dan terus mengalami peningkatan hingga 4,4% dari tahun 2013 sampai tahun 2018. Dari data tersebut maka masalah obesitas di Indonesia masih sangat perlu diperhatikan oleh kita semua.

Hal ini tentunya bukan merupakan suatu prestasi bagi kita sebagai orang Indonesia, karena perlu diketahui bahwa angka obesitas yang terus meningkat dapat meningkatkan pula kemungkinan terjadinya diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, penyakit kanker jenis tertentu serta kematian dini. Dari data tersebut maka kita perlu memahami dengan benar bahwa obesitas bukan merupakan hal sepele.

Di Indonesia sendiri, obesitas terus meningkat terutama pada kalangan yang berstatus sosial ekonomi tinggi dengan presentase sebanyak 25% terkena obesitas dan obesitas sentral. Sedangkan pada kalangan yang berstatus sosial ekonomi rendah memiliki presentase obesitas yang lebih rendah yaitu sebanyak 20,3%. Hal tersebut menunjukkan bahwa kalangan yang tingkat status sosial ekonomi cukup tinggi lebih beresiko 4,7% terkena obesitas dibandingkan dengan orang dengan tingkat sosial ekonomi rendah.

Konsumsi makanan cepat saji atau fast food merupakan salah satu faktor terjadinya obesitas. Faktor konsumsi makanan cepat saji yang berlebih dan sering, konsumsi soft drink secara berlebih juga dapat mengakibatkan kecenderungan resiko obesitas sebesar 1,4 kali lebih tinggi, maka dari itu perlu adanya pembatasan konsumsi fast food untuk mencegah terjadinya peningkatan angka obesitas di Indonesia.

Makanan cepat saji lebih sering dipilih karena dianggap mudah didapatkan serta cepat dalam penyajiannya. Konsumsi makanan cepat saji lebih sering dipilih karena mudah dijumpai dibanyak restoran serta mudah didapat. Pada hasil suatu penelitian, didapat hasil 80% orang dewasa pergi ke restoran cepat saji setidaknya satu bulan sekali dan 28% orang pergi kesana secara rutin dua kali atau lebih dalam satu minggu. Ditemukan pula keterkaitan antara konsumsi makanan cepat saji dengan kualitas diet yang buruk, faktor konsumsi makanan yang dapat mengakibatkan obesitas, termasuk konsumsi makanan tinggi kalori, lemak dan minuman dengan tambahan pemanis buatan. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan makanan dan minuman yang benar adalah salah satu faktor penting dalam menurunkan resiko terjadinya obesitas.

Penambahan pemanis buatan pada produk makanan dapat meningkatkan terjadinya resiko obesitas. Pemanis tambahan biasanya dapat ditemukan di berbagai jenis makanan. Konsumsinya dengan frekuensi yang cukup tinggi dapat dikaitkan dengan penyakit degeneratif kronis, antara lain yaitu diabetes mellitus dan obesitas dimana produk makanan dan minuman yang mengandung pemanis tambahan yang cukup tinggi biasanya dapat diidentifikasi melalui komposisi dan informasi nilai zat gizi yang terdapat pada setiap kemasan produk. Maka dari itu, pemilihan konsumsi makanan cepat saji juga harus memperhatikan kadar pemanis buatan yang terdapat pada makanan tersebut supaya tidak berlebihan dalam mengonsumsinya.

Ketika obesitas sudah terjadi dan menyerang tubuh seseorang, ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menurunkan berat badan. Beberapa faktor gaya hidup yang dapat dirubah untuk menurunkan berat badan diantaranya : memodifikasi asupan makanan, meningkatkan aktivitas fisik, berolahraga rata-rata selama 1 jam setiap hari, makan sarapan setiap hari, menimbang berat badan diri sendiri setiap minggu, meelihat televisi dalam waktu kurang dari 10 jam setiap minggu serta dengan bantuan program penurunan berat badan. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa modifikasi asupan seperti frekuensi konsumsi makanan cepat saji serta pemilihan makanan yang tepat dapat menununkan berat badan dan menjadikan pola hidup yang sehat dan asupan gizi seimbang.