Suku Anak Dalam Tinggal Dirumah Beratap Rumbia Berdinding Kayu

0
646

JAMBI Gempurnews.com – Suku Anak Dalam Jambi, adalah orang rimba yang bermukim di pedalaman dan bertempat tinggal di dalam rumah beratap rumbia berdinding kayu. Pekerjaan mereka berburu dan berladang. Sehari-hari tanpa baju, kecuali cawat penutup kemaluan.

Berrdasarkan Dirjen Bina Masyarakat Terasing Depsos RI, 1998 :55-56, secara mitologi, Suku Anak Dalam masih menganggap satu keturunan dengan Puyang Lebar Telapak yang berasal dari Desa Cambai, Muara Enim.

Menurut pengingatan mereka, yang didapat dari penuturan kakek-neneknya, bahwa sebelum mereka bertempat tinggal di wilayah Sako Suban, mereka tinggal di dusun Belani, wilayah Muara Rupit.

Mereka hijrah karena terdesak waktu perang ketika zaman kesultanan Palembang dan ketika masa penjajahan kolonial Belanda.

Secara tepat waktu kapan mereka hijrah tidak diketahui lagi yang mereka (Suku Anak Dalam) ingat berdasarkan penuturan, hanya masa kesultanan Palembang dan masa penjajahan Belanda.

Dari Dusun Belani, Suku Anak-Dalam mundur lebih masuk ke hutan dan sampai di wilayah Sako Suban.

Di wilayah Sako Suban ini, mereka bermukim di wilayah daratan diantara sungai Sako Suban dan sungai Sialang, keduanya sebagai anak dari sungai Batanghari Leko. Wilayah pemukiman yang mereka tempati disebut dengan Tunggul Mangris.

Menurut Departemen sosial dalam data dan informasi Depsos RI (1990) menyebutkan asal usul Suku Anak Dalam yaitu: Sejak Tahun 1624.

Kesultanan Palembang dan Kerajaan Jambi yang sebenarnya masih satu rumpun, terus menerus bersitegang dan pertempuran di Air Hitam, akhirnya pecah pada tahun 1629.

Versi ini menunjukkan mengapa saat ini ada dua kelompok masyarakat Anak Dalam dengan bahasa, bentuk fisik, tempat tinggal dan adat istiadat yang berbeda.

Kelompok keturunan pasukan palembang, menempati belantara Musi Rawas (Sumatera Selatan) berbahasa Melayu, berkulit kuning dengan postur tubuh ras Mongoloid seperti orang Palembang sekarang.

Kelompok lainnya tinggal di kawasan hutan Jambi berkulit sawo matang, rambut ikal, mata menjorok ke dalam. Mereka tergolong ras wedoid (campuran wedda dan negrito).

Pemerintah sudah berusaha keras untuk menyejahterakan Suku Anak Dalam melalui program pemberian Rumah layak huni, pakaian layak pakai, pemberian pendidikan, pengembalian lahan mereka yang dikuasai pengusaha, dan pemberian bantuan makanan, transportasi dan pengobatan gratis.

Tujuan ini semua dilakukan semata-mata agar Suku Anak Dalam dapat hidup layak dan mengikuti perkembangan zaman.

Namun sayang, upaya baik dari pemerintah kurang berjalan mulus. Suku Anak Dalam adalah orang yang sangat memegang erat budaya dan tidak dengan mudah menerima budaya luar.

Mereka sangat terikat dengan adat istiadat nenek moyang, sehingga rumah yang di bangun pemerintah, mereka tinggalkan begitu saja dan mereka memilih kembali ke habitatnya. mereka hidup berpindah pindah dari satu hutan ke hutan lainnya.

Walaupun demikian ada beberapa Suku Anak Dalam sudah berpenampilan layaknya masyarakat biasa; memiliki rumah, handphone, kendaraan motor dan kebun sawit serta bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Niat baik dan rencana masa depan yang sudah dirancang oleh pemerintah terhadap mereka harus dilakukan dengan sabar dan bertahap.

Pendidikan adalah langkah awal yang harus ditempuh. Sehingga melalui pendidikan ini diharapkan kehidupan Suku Anak Dalam lebih terbuka, berpendidikan, moderat, tidak mudah dimanfaatkan oleh oknum tertentu serta mendapatkan kehidupan yang layak sebagaimana amanat UUD 1945.

Mengingatr hal itu, Pesiden Jokowi baru baru ini mengunjungi masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi. Jokowi ingin mengetahui secara langsung apa keinginan masyarakat Suku Anak Dalam. (red)
dari berbagai sumber