DIARY : Nostalgiaku Meradang Dalam Segala Kehampaan

0
30

 

gempurnews.com — Kutulis curahan hatiku ini untuk menghempas semua problema yang cengeng. Sebab seringkali aku tergoda oleh sejumlah lantunan nostalgia yang meradang diriku dalam segala kehampaan. Tetapi meskipun begitu aku tetap yakin pada Tuhan dan pada kehidupan itu sendiri. Sebab dukaku ini bukanlah istimewa.

Aku merasa jika aku hanya menyukai ketampananmu saat itu. Kuakui aku pernah tergila gila padamu. Sayangnya kini kau tiada. Kau telah pergi ke kota lain meneruskan kuliah. Aku jadi kehilanganmu. Membuat aku seperti orang yang patah hati. Rasanya mukaku begitu tebal. Malu sekali bertemu dengan keluargamu. Lebih lebih denganmu. Aku bingung. Betapa dungunya aku.

Suatu hari ketika aku duduk di taman bunga tempat kita pernah bertemu, terkenang aku pada potongan kisah yang membuatku takut menyintai seseorang seperti dirimu. Aku trauma berat.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana kau berkhianat padaku. Kau sikat pula teman sekolahku disaat aku telah kehilangan kesucianku, setelah kau renggut keperawananku. Kau tinggalkan aku begitu saja. Kau hempaskan aku pada celah hitam yang terlanjur kering dan membeku.

Aku kecewa sekali padamu Pernahkah kau sadari betapa susahnya aku untuk bangkit melupakan semua itu.Walaupun pada akhirnya kusadari pula bahwa ternyata engkau hanyalah sebuah virus yang mematikan. Kuakui hatiku terasa sangat pedih, mataku tak sudah-sudah mengeluarkan tangis. Hatiku teriris.

Tuhan, Beri aku kesempatan mencabut semua kenangan tentangnya dengan tidak seperih ini. Biarlah dengan sekuat hati aku menutup kembali hati yang terkoyak ini. Aku pasrah, Tuhan.

Akhirnya, diujung catatanku, dengan penuh ketegaran kulangkahkan kaki menjauh dari kota yang pernah membawaku ke mimpi indah bersamamu. Aku bertekat memulai semuanya dari nol kembali.

Sekarang, aku merasa jika aku hanyalah seorang wanita frustasi yang tak memiliki arti. Kalian laki laki adalah gombal. Kendati begitu tak kan kulupakan sebuah janji yang pernah kau ucapkan. Sebab bagiku, janji yang telah terucap, tak kan kulari darinya selama nafasku berhembus. Kukan berusaha memenuhinya entah sampai kapan. Mungkin suatu hari nanti, jika takdirku berlaku dan janjipun terpenuhi. **