Petaka Perempuan Pelanggar Kesepakatan

0
1647
Ilustrasi praktek perdukunan/foto: google image

 

Surti sesekali menatap pantulan wajahnya dari cermin di depannya.

Perasaan sedih membuatnya merasakan sesak di dadanya.

“Hampir 1 tahun ini pendapatanku terus merosot. Apa yang terjadi padaku,” gumam Surti sembari mengelus pipinya yang mulai tumbuh garis kerut.

Dalam lamunannya, dia pun mulai menyadari apabila pekerjaan yang digeluti saat ini sangat mengandalkan kecantikan wajah.

Sambil terus mengusap pipi, Surti menggerutu, “Hmm… apa hendak dikata, umurku hampir kepala empat. Tidak secantik lainnya, yang baru saja mengeluti dunia hiburan malam.”

Lantas ia menghapus riasan yang menutupi wajahnya. Satu persatu aksesoris yang menghiasi tubuhnya pun ia lepas agar bisa melepas penat setelah semalaman begadang.

“Aku harus istirahat supaya nanti malam kondisiku prima,” kata Surti dalam hati.

Akhirnya, aurora berwarna jingga pun mewarnai langit yang menyambut datangnya malam.

“Sekarang waktunya cari uang,” kata Surti dengan nada semangat.

Namun, hampir menjelang tengah malam, ia berniat pulang lebih awal.

Perasan kecewa, kesal dan sakit hati bercampur hingga ia membuat keputusan untuk pulang lebih cepat.

Saat ia bersiap untuk keluar dari ruangan berhias kelap-kelip lampu dengan dentuman musik yang memekakkan telinga, tiba-tiba teman dekatnya, Gina, memegang dan menyeret ia ke kamar. “Eh jangan pulang dulu. Kamu kenapa.”

“Gak apa-apa?” timpal Surti.

Sontak wajah Gina pun mengerut sambil berkata, “gak mungkin!! Kamu kan sahabatku, ayo ceritakan masalahmu. Mungkin aku bisa bantu.”

“Hmm… baiklah,” jawabnya.

Lantas mereka berbincang di sofa kecil yang terletak di pojok kamar.

Surti pun mulai bercerita jika dalam beberapa bulan terakhir, pelanggannya mulai menjauh.

“Apa karena aku sudah tidak cantik lagi ya?” tanya ia.

“Hahahaha….”

Sontak Surti pun kaget dengan gelak tawa Gina.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Surti.

Dengan menahan tawa, Gina pun menjawab, “cuma gitu masalahmu?”

“Iya kenapa?” ketus Surti.

Gina pun menceritakan perihal pemakaian susuk yang ampuh dan bisa membuat pemakainya menarik perhatian laki-laki pemburu kenikmatan akan terlena.

“Percayalah.. Kalau laki-laki sydah terlena denganmu, mereka akan memberikan apa saja yang kamu mau,” kata Gina meyakinkan Surti.

Surti kaget, ia langsung berdiri dan menolak mentah-mentah tawaran teman dekatnya ini.

Ia tahu kalau sekarang dirinya kalah cantik dengan teman seprofesinya yang lebih muda, namun memakai hal gaib seperti itu rasanya bukan pilihan yang cocok.

“Ah.. Sudahlah.. Aku gak mau dengan hal gituan,” timpal Surti sambil ngeloyor meninggalkan temannya.

Mengetahui Surti pergi, dengan sedikit berteriak Gina berkata, “jika kamu berubah pikiran, aku siap antarkan!!”

Sesampai di kamar, Surti segera menghempaskan badannya di tempat tidur.

Namun malam itu karena perkataan Gina, ia dibuat tidak bisa tidur. Bergerak ke posisi manapun membuat hati Surti tidak karuan dan gelisah.

Sebenarnya ia tidak mau terjerumus ke dalam hal klenik seperti itu, tetapi di hati terkecil ia juga merasa ingin terus bertahan di pekerjaannya untuk membiayai kehidupan orangtua dan anaknya di kampung.

Kesokan hari Surti memutuskan untuk mengikuti saran Gina.

Mereka berdua pergi ke tempat orang pintar yang dipanggilnya mbah Ratmi itu.

Sesampainya di rumah si mbah, ia sedikit tidak menyangka karena rumah mbah Ratmi tidak seperti rumah dukun pada umumnya, yang identik dengan kesan suram dan gelap.

Mbah Ratmi keluar dari rumah dengan menggunakan kebaya tipis bercorak bunga warna hijau, kain batik warna coklat serta penutup kepala berenda yang biasa dipakai nenek-nenek kebanyakan.

“Sini… masuk,” ucapnya

Perlahan Surti dan Gina masuk ke ruang tamu mbah Ratmi. Mereka duduk di depan meja hitam panjang yang terlerak di sudut ruangan.

Lantas mbah Ratmi datang membawa satu kotak hitam yang belum diketahui apa isinya.

“Siapa yang mau pakai susuk,” ujar si mbah

“Ini mbah teman saya, kalau saya sih udah,” ucap Gina sambil tersenyum.

Surti sontak menengok, ia pun baru menyadari kalau teman dekatnya ini sudah memakai susuk terlebih dahulu.

Surti pun semakin menyadari mengapa akhir-akhir ini Gina sangat gencar dipanggil untuk menemani tamu yang berdompet tebal. Alhasil pendapatan yang ia punya bertambah besar.

Lamunan Surti tentang tamu-tamu Gina pun buyar saat mbah Ratmi mulai membuka kotak hitamnya.

Di dalam kotak hitam itu, terdapat berbagai bentuk benda yang menyerupai jarum.

“Ini susuk namanya,” tutur si mbah memberitahu.

Surti memperhatikan masing-masing bentuk susuk tersebut, ada yang berwarna emas, perak, tembaga hingga susuk dari bunga kantil.

Menurut si mbah fungsi dari masing-masing susuk tersebut akan berbeda pada setiap orang. Ia berkata jika yang paling ampuh dan bisa menggelapkan mata seseorang adalah susuk berlian.

Surti berpikir jika ia memilih susuk berlian maka harga yang harus dibayar akan sangat besar, dan ia tidak memiliki cukup uang untuk itu. Akhirnya, saat itu ia memutuskan untuk memakai susuk jarum emas.

Agar hasil maksimal, tanpa pikir panjang Surti langsung mengizinkan si mbah untuk meletakkan susuk tersebut di beberapa area wajah. Mulai dari samping mata yang bertujuan agar tatapan Surti bisa menarik perhatian lawan jenis, di samping bibir agar senyumannya menawan, kedua sisi pipi hingga diletakkan di bagian pinggulnya dengan maksud gerakannya lebih luwes dan menarik perhatian.

Perlahan jarum-jarum seukuran kurang lebih 1 cm itu dimasukkan ke dalam kulit Surti.

Saat itu ia hanya meringis menahan sakit dari tancapan jarum.

Setelah selesai, mbah Ratmi menjelaskan jika ada pantangan yang harus ia lakukan selama memakai susuk, diantaranya tidak boleh makan sate dengan tusukan, tidak boleh melakukan ibadah dan menyebut tuhan serta harus bisa menerima segala risiko yang berlaku.

Surti mengangguk tanda menyetujui kesepakatan tersebut.

*

Sejak itu, apa yang dikatakan mbah Ratmi benar, sekarang penghasilan Surti lebih besar dari biasanya. Bahkan melebihi teman yang lebih muda.

Tak jarang beberapa pria datang langsung kepadanya untuk memberikan sejumlah uang. Tidak sedikit pula pria yang mengajaknya menikah.

Namun bukan pernikahan yang jadi tujuan utama Surti, melainkan uang untuk membiayai hidup dirinya dan keluarga di kampung.

Sekarang ia dikenal sebagai penghibur tersohor di tempatnya mengais rupiah karena kecantikan yang dia punya.

Tak ayal, teman-teman seprofesi Surti menaruh kecurigaan dan berprasangka jika ia menggunakan ilmu hitam untuk menarik perhatian pria.

Hingga akhirnya, seorang teman yang merasa tersaingi mencoba untuk menguji apakah benar Surti memakai susuk.

Ia pun sengaja memberikan sepuluh sate dengan tusukan sebagai sajian hingga daun kelor di meja kamar Surti saat waktunya makan malam.

Surti terlihat tidak nyaman karena saat itu makanan yang disuguhkan hanya nasi dengan sate ayam.

Seorang temannya berceletuk jika seseorang memakai susuk maka dia menghindari yang namanya makan sate.

Mendengar hal tersebut membuat Surti memberanikan diri untuk mengambil satu tusuk untuk dimakan.

Waktu makan malam pun berakhir dan diteruskan dengan melayani tamu-tamu yang berkunjung hingga menjelang pagi.

Keesokan hari saat bangun dari tidur, wajah Surti berubah menjadi lebih tua dari umurnya.

Keriput hingga kulitnya yang tidak kencang membuat ia frustasi.

Akibatnya, Surti tidak berani untuk keluar rumah dan mengurung diri di kamar.

Ia pun menolak kunjungan tetangga dan temannya yang ingin menjenguk.

Seiring berjalannya waktu, teman-teman Surti pun mengetahui jika ia memakai guna-guna untuk memikat lelaki dan mendapat kekayaan.

Kini Surti terlihat sangat kurus hanya menyisakan tulang. Ia hanya bisa terbaring menunggu ajal menjemputnya.

Beberapa orang yang berusaha membantunya berkata jika penderitaan Surti bisa diakhiri dan bahkan mungkin bisa membuatnya segera berpulang kehadirat Illahi asal jarum susuk di tubuhnya diambil langsung oleh orang yang memasukkan.

Namun sayang, mbah Ratmi yang andil besar dalam hidupnya sudah tiada. Akibatnya Surti harus menanggung kepedihan dan penyesalan seumur hidup.

Dalam penyesalannya, ia ingin segera mengakhiri hidupnya dengan segala cara. Namun apalah daya, kini ia tak bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya. Ia hanya bisa berbaring dan menatap langit-langit kamarnya yang mulai terlepas sembari menahan rasa sakit dari segala jenis penyakit yang tidak bisa dijelaskan secara ilmu medis.

*) Tulisan ini diangkat dari kisah yang berkembang di masyarakat. Kesamaan nama dan kejadian hanya kebetulan belaka.

**) Penulis: Agus Hermawan