Kampung Adat Cireundeu Lestarikan Prosesi Ngaras dan Jatukrami

0
18

KOTA CIMAHI – Sunda merupakan salah satu sukubangsa di Indonesia, yang sangat kaya akan tradisi dan nilai budaya. Salah satu prosesi yang sudah menjadi kebiasaan prosesi adalah Ngaras.

Ngaras adalah prosesi siraman pada pengantin wanita yang kemudian dulanjutkan dengan membasuh kaki kedua orang tua pengantin wanita.

Tak ayal, dalam prosesi itu banyak yang menitikan airmata, karena biasanya diringi oleh kidung atau tembang yang menceritakan perjuangan orang tua pengantin wanita dalam membesarkan anak putrinya.

Dikisahkan dalam kidung seorang ibu yang mengandung buah hatinya selama 9 bulan. Hingga kemudian melahirkan sampai merawatnya menuju kedewasaan. Namun ketika waktunya tiba, orangtua pengantin wanita harus rela dan melepaskan buah hati yang dicintainya untuk menjalani biduk rumah tangganya sendiri bersama lelaki terpilih.

Prosesi ngaras ini juga bermakna pesan dari orang tua mempelai wanita bahwa ketika nanti menjalani rumah tangga, akan melalui proses yang pernah dilalui oleh kedua orang tua calon pengantin wanita.

Setelah Prosesi ini selesai, maka dilanjutkan dengan prosesi Jatukrami yaitu melaksanakan janji pernikahan diiringi dengan prosesi Sawer panganten dan diiringi oleh tembang yang isinya memberikan petuah dalam menjalankan biduk rumah tangga agar menhndari perceraian dan tetap setia hingga dipisahkan oleh kematian.

Begitu indah prosesi ngaras dan Jatukrami yang dilaksanakan oleh Suku Sunda, khususnya yang masih memegang adat budaya Sunda sampai saat ini.

Proses Ngaras dan Jatukrami, hingga kini tetap lestari, khususnya di Kampung adat Cireundeu Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi.

Jurnalis : Achmad.