Kegiatan Produksi PT.IUC Tidak Menggarap Hutan Sakral Gunung Peyuyan 

0
41

 

BARITO UTARA — Wakil Ganeral Manager (GM) PT.Indexim Utama Corpation (PT.IUC) Ir.H.Supri Muyono menyatakan bahwa pihaknya sejak awal siap ingin bermusyawarah dengan warga masyarakat Desa Muara Mea, Kecamatan Gunung Purei, Kabupaten Barito Utara Kalteng yang beragama Hindu Kaharingan.

“Kami telah mengutus saudara Drs.Awiandie Tanseng, Manager Camp turun ke Desa Muara Mea untuk menyampaikan niat kami, untuk bermusyawarah dengan warga Desa Muara Mea yang beragama Hindu Kaharingan dan menyatakan kesiapan kami bermusyawarah dalam suasana kekeluargaan,” kata Ir.H.Supri Muyono pada pertemuan dengan PWI Barito Utara di Sekretariat PWI, Selasa (28/7/20).

Disampaikannya, bahwa pihaknya tidak ada niat untuk menghancurkan  wilayah yang dianggap warga beragama Hindu Kaharingan adalah areal sakral.Sebab lokasi tersebut juga pernah diklaim pada tahun 2006 dan sudah dilakukan denda adat ataupun dilakukan kegiatan ritual adat,dengan areal yang sama pada  waktu itu masuk wilayah kerja PT.Sindo Lumber.

“Kami kira permasalahan itu sudah clear and clean, sebab sebelumnya, pada hari Selasa 17 Maret 2020 telah dilakukan kegiatan ritual selamatan Tolak Bala,dengan tujuan agar pekerja tebang blok di RKT 2020, terhindar dari malabahaya,itu semua dilakukan sebagai wujud menghargai dan menghormati adat istiadat setempat.

“Kegiatan ritual adat tolak bala itupun dilaksanakan, dipimpin  langsung sesepuh Desa Damang Kepala Adat Kecamatan Gunung Purei Sahayuni, dihadiri Ketua Adat Panih, Ketua BPD Darmansyah serta beberapa tokoh adat warga Desa Muara Mea lainnya,” kata Supri yang didampingi Manager Camp Drs. Awiandie Tanseng.

Selanjutnya Sosialisasi musyawarah pada hari Selasa 21 April 2020 bertempat di Kantor Desa Muara Mea, yang dihadiri oleh Kepala Desa Muara Mea,BPD dan tokoh adat masyarakat desa setempat,itu juga tidak ada sanggahan ataupun larangan dari pihak desa mengenai areal Rencana Kerja Tahunan (RKT) pada sosialisasi program PMDH Kelola Sosial IUPHHK PT.IUC pada SK.RKT PT.IUC tahun 2020 dengan target produksi,blok tebangan RKT tahun 2020 serta sosialisasi pembukaan wilayah hutan dengan pembuatan jalan menuju blok RKT tahun 2020 di bawah Gunung Peyuyan, dengan tidak mengganggu areal gunung dan hutan yang dianggap sakral.

“Ia berharap permasalahan ini dapat diselesaikan ditingkat desa, ataupun kecamatan melalui musyawarah mufakat dan tidak perlu melebar sampai melibatkan lembaga yang belum tahu pasti tentang seluk beluk gunung Peyuyan tersebut,hal ini sebaiknya dilakukan musyawarah mufakat duduk bersama dengan tokoh adat Muara Mea.

“Karena kami beroperasi didaerah tersebut sudah sejak tahun 1970, sehingga kami menganggap warga Desa Muara Mea dan sekitarnya, merupakan bagian dari kami, bahkan pembinaan Desa Hutan  (PMDH)terus kami lakukan, bahkan sampai ke seluruh desa sekitar Kecamatan Gunung Purei,”ucap
H.Supri.

Dalam mekanisme Produksi di Prusahaan kami ini, telah mendapat perizinan areal RKT tahun 2020 berasal dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng,namun tetap berkoordinasi dengan pihak warga setempat,”imbuhnya.
“Kami anggap areal RKT tahun 2020 ini,tidak masuk wilayah hutan sakral Gunung Peyuyan, pasalnya kami sudah berkoordinasi dengan tokoh adat warga Muara Mea, bahkan sudah melakukan ritual adat tolak bala dan itupun diareal yang sedang diproduksi, bahwa tidak ada menunjukan patok atau tanda-tanda Sakral disana, walaupun itu masuk sampai ke lerengnya gunung Peyuyan yang dianggap areal sakral.” Kami dari pihak PT.IUC dan seluruh karyawan memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh umat Hindu Kaharingan,”tutup Supri. (SS).