Permohonan Maaf Disampaikan PT.IUC, Kepada Umat Kaharingan 

0
36

 

BARITO UTARA –Management PT.Indexim Utama Corporation (IUC) menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat agama Hindu Kaharingan,jika diduga areal kerja perusahaan tersebut masuk areal hutan sakral atau wilayah yang disucikan menurut umat Hindu Kaharingan.

Hal ini bermunculan setelah pihak Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan Desa Muara Mea melalui Ketuanya Ragen mengirim surat tertanggal 24 Juni 2020 kepada pimpinan PT.IUC dengan isi surat meminta pemberhentian aktivitas perusahaan di zona hutan sakral Gunung Peyuyan.

Dalam surat tersebut disebutkan bahwa,lembaga Agama Hindu Kaharingan, lembaga adat,dan seluruh masyarakat Desa Muara Mea merasa keberatan, karena adanya perusakan di kawasan sakral Gunung Peyuyan,akibat aktivitas PT.Indexim Utama Corporation.

Gunung Peyuyan ini adalah tempat suci bagi roh leluhur yang telah meninggal dunia dan diyakini dari jaman nenek moyang dahulu hingga sekarang. Surat ditembuskan kepada 18 pihak terkait.

“Kami memohon maaf kepada saudara-saudara umat Hindu Kaharingan, jika itu wilayah hutan sakral, kami siap bertemu untuk musyawarah dan mufakat,”kata Wakil GM PT. IUC Supri Muyono didampingi Manager Camp Drs.Awiandie Tanseng,ketika diminta konfirmasi di sekretaeiat PWI Barito Utara di Muara Teweh,Selasa (28/7/20).

Menurut Supri, pihaknya menyerahkan kepada pemerintah.

Dalam hal ini Tripika Gunung Purei dan Pemdes Muara Mea untuk menyelesaikan masalah ini.”Kini sudah ditangani Tripika.Ada tim yang dibentuk untuk menyelesaikan masalah tersebut.Kami siap mengikuti apa keputusan yang dikeluarkan oleh tim,” ujar H.Supri.

Ia menyampaikan hal ini,bahwa pihaknya tidak ada niat untuk menggarap ataupun menghancurkan wilayah yang dianggap warga Umat Hindu Kaharingan sebagai areal sakral.Sebab lokasi tersebut juga sudah pernah diklaim pada tahun 2006 dan sudah dilakukan denda adat atau ritual adat, namun masuk dalam areal wilayah kerja PT.Sindo Lumber.

“Kami kira permasalahan tersebut sudah clear and clean.Sebab sebelumnya, pada hari Selasa 17 Maret 2020 telah diadakan kegiatan ritual selamatan tolak bala,tebangan blok RKT 2020 sebagai wujud menghargai dan menghormati adat istiadat dan kepercayaan setempat.Kami pun mengadakan ritual selamatan dipimpin langsung oleh Damang Kepala Adat Kecamatan Gunung Purei Sahayuni dihadiri Ketua Adat Panih, Ketua BPD Darmansyah serta beberapa tokoh adat warga Desa Muara Mea lainnya,termasuk juga Ketua Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan Desa Muara Mea Ragen,” ungkap H.Supri.

Selanjutnya,Selasa 21 April 2020 bertempat di Kantor Desa Muara Mea dalam rangka sosialisasi program PMDH Kelola Sosial IUPHHK PT Indexim Utama pada SK RKT PT Indexim Utama tahun 2020 dengan target produksi,blok tebangan RKT tahun 2020 dan pembukaan wilayah hutan dengan pembuatan jalan menuju blok RKT tahun 2020 di duga wilayah Gunung Peyuyan yang dianggap mereka sakral

Kegiatan tersebut yang dihadiri oleh Kepala Desa Muara Mea beserta perangkatnya,BPD dan tokoh masyarakat desa setempat juga tidak ada sanggahan ataupun larangan dari pihak desa mengenai areal rencana kerja tahunan (RKT)

Ia berharap permasalahan ini dapat diselesaikan ditingkat desa ataupun kecamatan melalui musyawarah mufakat dan tidak perlu melebar sampai keatas,lebih baik dilakukan musyawarah agar dapat hasil kesepakatan secara bijak.

“Karena kami beroperasi didaerah tersebut sudah sejak tahun 1970,sehingga kami menganggap warga disana merupakan bagian dari kami,bahkan pembinaan desa sekitar hutan(PMDH)terus kami lakukan,bahkan sampai ke seluruh desa sekitar di Kecamatan Gunung Purei,” ucapnya.

Saat ini lanjut Supri, PT.Indexim telah menghentikan semua kegiatan yang diduga wilayah Gunung Peyuyan. Padahal pihaknya mendapat perizinan areal tersebut berasal dari pemerintah,namun tetap berkoordinasi dengan warga setempat.

“Kami tidak tahu apakah areal yang kena garap itu masuk wilayah sakral Gunung Peyuyan atau tidak, Sebab tidak ada tanda-tanda disana, kalaupun itu masuk sampai ke lerengnya yang diduga. (SS)