Harkamtibmas Antisipasi Intoleransi Dan Radikalisme, Menangkal Issu, Hoax Dan Teror Kepada Ulama, Kapolres Malang Gelar FGD

657 0

Gempur News – Indonesia – Polda Jatim – Polres Malang. KABAR POLISI. Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung SH.S.I.K.Msi dalam rangka Harkamtibmas antisipasi Intoleransi dan radikalisme, menangkal issu, hoax, dan teror kepada ulama’ yang dikemas dalam sesi Forum Group Discussion (FGD), selasa (13/3/2018).

Nampak para undangan yang hadir pada acara ini antara lain Pasi Ops Kodim 0818 Wil Malang Batu Kapt. Inf. Panji Wismono. Kasat Pol PP H.HOLIDIN, Anang Harwiyono dari Rumah Sakit Jiwa Lawang, Ketua PCNU Kabupaten Malang dr Umar Utsman, Kepala Kesbangpol, Kadin Kesehatan, Kadin Sosial, Kabag Kerjasama, Kabaghukum, Kabagkesra, Direktur RSJ Lawang, Rektor Universitas Raden Rahmad Kepanjen Hasan Abadi S.Ag.,M.Ag, Ketua Banser, Ketua Jamaah Jafarmania, Ketua Jamaah Riyadhul Jannah, Ketua Jamaah Al Hikmah, Ketua Jamaah Al Maghbul, Ketua Jamaah Wahidiyah, Ketua Pengasuh Ponpes Miftahul Huda Pakisaji, dan Koordinator Keamanan Ponpes Kab Malang.

Dalam sambutannya Kapolres Malang menjelaskan Kefuaan ini sebagai tindak lanjut silaturohmindlm rangka jaga kamtibmas dalam hadapi /antisipasi Inteolransi dan rasikalisme menangkal issu hiax dan teror kepada ulama jangan sampai gupuh tergesa – gesa dalam menghadapi situasi ini dan kita harus bisa lebih cerdas menganalisa / tabayun dan alhamdulillah masyarakat Malang sangat cerdas.

Lebih lanjut Kapolres Malang menjelaskan hasil inventarisir issu dri 45 se Indonesia ada kasus , dan hanya 4 kasus yang benar – benar nyata dan sudah terungkap, pelaku nya memang orang gila dan yang mampu menyatakan gila hanya pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Masih Kapolres Dan Kecamatan Lawang ada penyerangan kepada ulama ternyata memang benar pelaku nya adalah benar – benar orang gila dan sudah clear , jangan sampai disusupi Hoax.

Ketua PBNU dan Ustad Somad mengajak bahwa kita harus cerdas menggunakan medsos dalam kebaikan dan siar.

Pernyataan dari Kapolri bahwa Hasil survey diseluruh Indonesia ”tidak Ada Kegiatan yang menyerang ulama”.Untuk antisipasi hal – hal negatif tersebut, diperintahkan kepada seluruh BBKTM dan koordinasi dengan pihak Desa dan Babinsa agar keluarga dari orang diduga sakit jiwa agar menjaga keluarganya yang sakit tersebut dan terus berkoordinasi dengan Dinsos, terang Kapolres.

Antisipasi dari adanya issu PKI bangkit, dan di benturkan dengan kaum Muslimiin khususnya NU, melihat sejarah masa lampau, kita tetap waspada atas faham PKI, lihat semua dengan fakta bahwa penulis Francis Fukuyama menyatakan pemenangnya adalah faham demokrasi dan mulai 2002 bahwa faham sosialis sudah bubar dengan ciri – ciri runtuhnya Uni sovyet , Tembok Berlin dan sekarang China telah menuju arah lebih Liberal, ungkap Kapolres.

Kapolres menegaskan hasil sambang tokoh dengan KH Prof Tolkhah Hasan mantan Menteri Agama bahwa tantangan kita lebih berat karena adanya berita bohong , rasa kebencian karena perbedaan agama suku kepercayaan, jangan gupuhan dan laksanakan tabayun melihat sesuatunya dan segera laporkan serta serahkan kepada Polri dalam bidang Kamtibmas.

Pada kesempatan itu pula Rektor UNIRA Kepanjen Malang Hasan Abadi S.Ag.,M.Ag dalam sambutannya menyampaikan asal – usul Hoax artinya Hocus benar – benar menipu.Era saat ini perang tidak perlu lagi berhadapan , namun dengan teknologi misalnya perang menggunakan cara PROXY, perdagangan bebas/ WTO diseluruh ) dunia.

Lebih lanjut Rektor UNIRA, negara -negara maju apabila akan melakukan upaya untuk kepentingannya ,sudah menggunakan survey , penelitian dan data yang akurat, sedangkan sedangkan negara berkembang masih dengan cara tradisional, misalnya dibidang ekonomi launching – launching barang mewah diadakan di Indonesia, karena Indonesia merupakan market yang luar biasa bagi negara asing.

Masih Rektor, antispasi pola – pola tertentu yang menggunakan orang diduga gila di ponpes dengan menggunakan medsos sebagai medianya denganenggunakan issu baik secara nasional dan issu lokal;
misalnya seperti pelaku kelompok MCA dan analisa kedepannya dengan tujuan tertentu dalam pilgub dan Pilpres 2019.

Abror dari Pon-Pes AL Khoirot Lawang, Ada kejadian yang memang seakan – akan memang sudah disetting dan sengaja dan berurutan, Hoax bisa datang dari pemerintah dan masyarakat biar Polisi yang menangani dan membuktikan, tandasnya.

Uztad Turmudzi dari Ponpes Al Huda Sumberpucung mengusulkan kepada Polri apabila issu – issues tersebut apabila ada benar dan salah agar segera disampaikan kepada masyarakat.

Menanggapi hal – hal issu dan berita hoax / bohong Kabag OPS Polres Malang Kompol Sunardi menjelaskan “Kejadian yang di Ponpes Lawang apabila benar – benar terjadi bahwa segera lapokan ke Polri terdekat jangan ditangani sendiri dan jangan sampai menjadi viral yang akhirnya menjadi issu yang tidak baik dalam Kamtibmas dan Polri ttp koordinasi dengan satuan samping dan jangan sampai membebani sataun samping tersebut dan kita cari solusinya serta hasil kegiatan Polri sudah disampaikanke masyarakat baik via media cetak dan elekteonik”.

Rektor UNIRA menambahkan “Sejak jaman penjajahan kasus devide et impera /pecah belah/ adu domba , sudah berjalan dan sampai sekarang namun memakai cara dan system lain yang akhirnya merusak tatanan yang sdh ada, yang akhirnya membuat kegaduhan masyarakat, di era saat ini kita sudah mengadakan penggalangan dan perjuangan dengan cara – cara seperti dialog, Amar Makruf nahi munkar selanjutnya lakukan ceck and balancing, masyarakat, pemerintah, dan Polri harus saling percaya dan bersinergi untuk menciptakan Trush/kepercayaan bersama dalam menghadapi ancaman global serta jangan sampai Indonesia menjadi seperti negara – negara di Timur Tengah”. Era sekarang ini ada istilah baru ” JEMARIMU adalah Jerujimu, “… karena Klik dan Share di medsos serta tidak bisa ditarik, imbuh Rektor.

Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Malang Erlan pada sambutannya mengatakan “Saat pertama kali mendapat penyerahan ODGJ dan anak – anak Punk, dari operasi gabungan , tetap menerima karena sama – sama instansi pemerintah walau sebelumnya belum ada koordinasi, karena tidak punya anggaran, tetap dilayani dengan rasa kemanusian dan untuk anak – anak Punk dipersilahkan pulang ke keluarganya, sedangkan untuk ODGJ diserahkan kepasa keluarganya”.

Sesuai Pergub Jatim 103 tahun 2017 Dinsos bukan tempat penampungan namun hanya “MEREKOMENDASI” bahwa orang tersebut layak dikirim ke RSJ dengan dasar surat pengantar dari Desa, Kecamatan dan Puskesmas, tandas Erlan.

Dari RSJ Lawang Hidayati Rini Kepala Keuangan dan Adminiatrasi mengungkapkan bahwa “intinya tidak keberatan dalam penanganan ODGJ karena anggaran datangnya dari Pemda, mohon secepatnya ada MOU antar instansi dalam penanganan ODGJ”.

Mohon dapatnya untuk pasien ODGJ tidak datang pada malam hari karena penanggung jawab ( Psikater ) tidak selalu ada dimalam hari, harus dipilah mana ODGJ yang memiliki keluarga dan tidak dan siap bekerja sama dengan instansi manapun dalam penanganan ODGJ, pungkas Hariyati. (Eko)

Related Post