LUMAJANG Gempurnews.com
Ada pepatah kuno yang menyatakan bahwa : “Majunya desa majunya negara, mundurnya desa hancurnya Negara”. Pepatah ini bukan hanya sekedar untaian kata tanpa makna, sebab Indonesia adalah sebuah negara dengan jumlah desa yang begitu besar. Jika tidak diperhatikan lebih serius maka akan menjadi masalah tersendii.
Dalam menjalankan roda pemerintahan, sebuah desa dipimpin oleh seorang kepala desa. Kepala desa inilah yang bertanggung jawab terhadap roda pemerintahan di desa.
Peran kepala desa sangat penting, karena seorang kepala desa yang dipilih langsung oleh rakyat harus bisa menerjemahkan janji-janji politik yang telah disampaikan melalui kerja nyata.
Misalnya, Sampurno adalah seorang pemuda desa yang tergerak hatinya untuk mengabdi di desa tempat tinggalnya.
Melalui pemilihan kepala desa beberapa tahun lalu, pemuda yang berekonomi pas-pasan ini mencoba peruntungan dengan mencalonkan diri menjadi kepala desa di desa Pakel Kecamatan Gucialit Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur.
Untuk menjadi kepala desa, tentu tidak mudah. Banyak rintangan yang harus dilaluinya, apalagi pencalonan seorang kepala desa selalu saja identik dengan politik uang.
Namun Sampurno yakin dengan bermodal ketulusan dan jiwa sosial yang tinggi, pemuda ini akhirnya terpilih menjadi kepala desa mengalahkan lawannya dengan selisih suara yang cukup signifikan.
Kini seorang Sampurno membuktikan bahwa hanya bermodal tekat dan niat tulus ia bisa menjadi kepala desa.
Pakel merupakan desa dengan penduduk sekitar 3000 ribu jiwa, dengan letak geografis di area perbukitan dan terkenal dengan udara yang begitu dingin dan sejuk, juga sebagai penghasil tanaman kebun. Penduduknya yang ramah serta rukun dan damai, menggambarakan keteduhan yang mempesona.
Perjalanan seorang Sampurno memimpin desa dengan sangat terbuka. Bergulirnya semua program di desa Pakel, Sampurno bersinggungan langsung dengan masyarakat, mengkoordinasikan tiap-tiap RT untuk membentuk wadah yang mendengar keluhan-keluhan warga kemudian memetakan masalah yang ada.
Masalah yang ditampung tersebut akan dibahas sampai tingkat desa dan lahirlah suatu kebijakan untuk mengatasinya. Semua kegiatan ini dilakukan dengan ikhlas tanpa bermaksud mengeruk pendapatan lebih sebagai imbalan dari siapapun. Bahkan seringkali, Sampurno merogoh koceknya sendiri untuk membiayai kegiatan yang sifatnya sangat mendesak utuk ditangani.
Dari sepak terjang yang dilakukan oleh Sampurno, yang juga setiap malam jum’at legi selalu digelar khataman Qur’an untuk tujuan keselamatan warga desa ini, maka warga yang dulunya tidak medukung pencalonannya, sekarang mulai mengenal dan menaruh harapan yang sangat besar untuk kehidupan di desanya. Tak jarang pula rejeki yang diterimanya sering ia pakai untuk kegiatan social seperti menghadiri hajatan warga dan memberi santunan warga yang meninggal dunia.
Dalam pantauan media ini, Samprluro terbaca sebagai seorang kepala desa yang mampu memberikan contoh bahwa jabatan tidak digunakan untuk mengeruk keuntungan, tetapi digunakan untuk mengabdi kepada masyarakat. (Duk/Bam) reporter




