BUPATI Sidak Kandang Babi Milik Lukas

1118 0

LUMAJANG Gempurnews.com — Limbah dari peternakan babi di Dusun Duren Desa Dawuhan Lor Kecamatan Sukodono dirasa mengganggu kenyamanan masyarakat. Kotoran babi tersebut di buang langsung ke sungai dekat peternakan yang juga berada tidak jauh dari permukiman setempat.

Ada beberapa warga keluhkan bau limbah peternakan babi milik Lukas Hartono, warga Gadingsari Lumajang. Kabarnya sudah lama mereka mengeluh karena kandang ternak babi setiap hari mengeluarkan aroma bau limbah yang sangat menyengat. Terlebih pembuangan limbah peternakan babi itu tak dikelola dengan baik, bahkan dibuang kealiran sungai, kata mereka.

Dengan adanya keluhan warga tersebut, Bupati Lumajang, Thoriqul Haq langsung melaksakan Inspeksi mendadak (Sidak) kelokasi peternakan babi guna mengetahui informasi secara langsung yang tengah dihadapi warga.

“Saya lihat langsung tadi di dalam, ternyata benar limbah bau sangat menyengat. Ini pasti mengganggu masyarakat setempat. Saya juga lihat secara langsung, ternyata tempat pembuangan limbahnya juga langsung ke sungai. Artinya, limbah tidak dikelola dengan baik oleh peternak babi,” ujarnya.

Saat ditanya awak media, Cak Thoriq, panggilan akrab Bupati Lumajang mengungkapkan akan melayangkan surat panggilan untuk mengklarifikasikan tentang semua hal yang ada di peternakan babi tersebut. Pihaknya dalam waktu dekat ini akan mengechek langsung surat perizinan yang dimiliki oleh pemiliknya.

Pihaknya berkeinginan akan mempertemukan masyarakat sekitar dengan peternakya.

“Saya sudah mendapatkan informasi tadi, bahwa sekian waktu tempat ini tertutup untuk masyarakat, sehingga tidak ada dialog antara peternakan ini dengan masyarakat lingkungan sekitar,” pungkas Thoriq.

Salah seorang warga menuturkan masyarakat sering mengeluhkan keberadaan limbah peternakan babi itu. Bahkan keluhan tersebut disampaikan sudah cukup lama.

“Limbahnya dibuang ke sungai. Makanya kotoran itu dirasa merugikan masyarakat,” paparnya, Senin (15/03/2019) pagi.

Namun berbeda dengan penuturan Ida, salah seorang warga yang menempati rumah persis didepan kandang babi tersebut, dirinya mengaku tidak pernah terganggu oleh bau limbah dari kandang babi itu. Begitu juga dengan penuturan warga lainnya yang bertempat tinggal tak jauh dengan letak kandang babi berada, mereka mengaku tak terlalu terganggu dengan bau limbah kandang tersebut.

Beberapa gelintir orang ada pula yang menyampaikan pendapatnya, intinya, pemilik peternakan sudah membuat sistem pengelolaan limbah kotoran babi yang tidak langsung dibuang ke sungai, sudah ada pembuangan pertama sebelum mengalir ke sungai.

“Saya tahu kok, pembuangan limbah kotoran ternak itu sudah dibuatkan oleh pengelola peternakan, malah katanya sekarang akan diperbaiki lagi untuk menjamin tidak akan mengeluarkan bau,” tuturnya kepada media ini.

“P Lukas orangnya baik kok, malah tiap tahun bagi bagi beras ke lingkungan sekitar,” imbuhnya.

Ketika ditemui ditempat kediamannya, Lukas, pemilik kandang peternakan babi tersebut mengaku sudah mendengar kalau ada kunjungan Bupati kekandang miliknya. Pihaknya mengaku senang adanya kunjungan itu. Apalagi katanya meminta kepada pemilik peternakan untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat.

“Kebetulan saya pas tidak berada diKandang. Kalau waktu kunjungan itu Pak Bupati ketemu, saya bisa menjelaskan semua,” kata Lukas.

“Kandang saya sudah lama ada disitu, sudah 30 tahun saya buat. Perizinannya pun saya lengkapi,” terang Lukas sambil menunjukkan kertas proses perijinan pembangunan kandang ternak babi.

“Untuk pakan ternak juga saya bikin tidak dikandang sana, agar tidak bau. Kalau dulu memang nyampur pakan disana. Tapi sekarang sudah tidak lagi.

Sedang untuk pembuangan limbah kotoran babi, pihaknya mengaku sudah ada sejak dulu.
“Sudah lama aya buatkan, tapi yang model kuno. Sekarang akan saya perbarui semua, saya jamin nol bau,” tambah Lukas.

Dalam upaya menjaga polusi lingkungan Lukas juga membuat tempat pembuatan pakan ternak babi yang diproses melalui bahan organik.

“Kalau dulu pembuatan pakan ternak babi saya campur dikandang, karena kwatir menimbulkan bau, akhirnya saya buatkan tempat disini, (gudang – red),” imbuh Lukas. (duk/bam/red)

Related Post