LUMAJANG Gempurnews.com –
Sejak H-1 hingga H+5 lebaran tahun ini, lokasi Jembatan perak yang membentang diatas sungai Besuk Sat itu terpantau dipadati pengunjung. Hal itu dilihat dari banyaknya motor dan beberapa mobil parkir di ujung jembatan dan sudut-sudut yang rindang.
Suasana kabut dan hamparan pemandangan pengunungan Semeru nan hijau dan sejuknya udara area wisata Piket Nol menjadikan Jembatan Perak sangat cocok untuk Rest Area saat melintas di jalur Malang-Lumajang.
Pemadangan lain, nampak pula di bawah sana, ceruk sungai penuh pasir aliran lahar Gunung Semeru (Pasir Lumajang) yang di minati banyak orang meskipun harganya cukup tinggi di pasaran.
Tak hanya itu, beberapa titik di sekitar jembatan masih tampak jembatan lama yang sudah mangkrak terbentang diantara dua sisi bukit batu yang curam.
Jembatan peninggalan zaman Belanda itu masih tetap kokoh meskipun rangka besinya mulai berkarat. Pagar jembatannys hampir lenyap, dan kini hanya tersisa badan jembatan dengan aspal yang mulai berlubang-lubang dan ditumbuhi rumput.
Menurut Warsiman, salah seorang penjual makanan yang mangkal di ujung jembatan, menceritakan bahwa jembatan lama itu dibangun sekitar tahun 1925-1930 oleh pemerintah Kolonial Belanda.
“Namun jembatan itu kabarnya pernah dihancurkan para pejuang saat masa revolusi untuk menghambat pergerakan pasukan Belanda yang merangsek dari Malang menuju Lumajang,” kata Warsiman.
“Begitu revolusi sudah selesai, jembatan pun dibangun kembali. Itu cerita kakek saya,” imbuhnya pada media ini.
Informasinya, Jembatan Perak baru di bangun pada tahun 2001, terletak di sisi timur jembatan lama dengan panjang sekitar 130 meter.
Jembatan inilah yang sekarang jadi urat nadi pegerakan ekonomi dari Malang ke Lumajang dan sebaliknya. Sekaligus sebagai Rest Area wisata yang gratis dengan kuliner sederhana murah meriah. Ditempat inilah pengunjung menikmati pemandangan alam sambil selfy selfy. (bam)



