LUMAJANG Gempurnews.com – Perayaan Lebaran Islam Aboge memang kerap berbeda dibanding ketetapan pemerintah.
Komunitas Aboge memiliki perhitungan waktu sendiri berdasar kalender Jawa Alif, Rebo, Wage.
Lebaran mereka juga dirayakan sebagaimana umumnya umat muslim, yakni saling bersilaturahmi, kunjung mengunjungi tetangga atau sanak saudara.
Hanya saja, mereka punya tradisi ziarah bersama ke makam
Orang yang dianggap sebagai penyebar Islam di wilayahnya.
Selain itu mereka juga menggelar selametan yakni babaran dengan berkumpul bersama dan makan bersama.
Menurut, mbok Sari (70) satu satunya penganut Islam Aboge asal Desa Karangbendo yang ditemui media ini mengatakan, “Penanggalan Aboge sudah sejak lama jadi pedoman untuk menentukan hari besarnya. Adanya hasil perhitungan yang berbeda, tak perlu dipertentangkan. Tapi dimaknai untuk memperkukuh sikap toleransi,” ujar mbok Sari.
“Perbedaan ini jangan dipertentangkan dan diperuncing jadi konflik. Perbedaan waktu bukan hal baru,” imbuhnya.
Sari menambahkan, biasanya, usai salat berjamaah, mereka punya tradisi kenduri bersama. Selain itu, setiap warga saling bersalaman dan bermaafan sembari melantunkan salawat berlanggam Jawa. (duk/bam)


