Bupati Mojokerto: “Mohon Doa Restu Untuk Menyukseskan Saya Memimpin Kembali”

0
23

MOJOKERTO — Bupati Mojokerto H. Pungkasiadi di depan seluruh kepala Desa se kecamatan Ngoro menyampaikan agenda politik menjelang pilkada. Difasilitasi Camat Ngoro, kegiatan berlangsung di lapangan belakang Kantor Kecamatan Ngoro-Mojokerto pada Kamis, 10/9/2020.

Kegiatan yang diinisiasi Camat Ngoro bertajuk Ngopi bareng Bupati patut dipertanyakan. Pasalnya kegiatan yang mengundang seluruh kepala desa ini menggunakan surat resmi kedinasan.

Sifat surat yang berkategori penting ini tampak tidak koresponden dengan implementasi kegiatan. Saat awak media menelusuri di lapangan, ditemukan bahwa format acara tak memberikan kesan penting. Hanya ada sambutan dari Camat, ketua AKD dan Bupati. Itupun disusupi agenda politik menjelang pilkada.

Dari keterangan Bupati Mojokerto, ia telah telah resmi mendaftar di KPU sebagai salah satu bacalon bupati Mojokerto untuk pemilu Kada tahun ini.

“Isyallah malam ini akan ada pengumuman hasil tes kesehatan”, ungkap Bacabup Mojokerto dari PDIP ini (10/9/2020).

Walaupun belum memasuki masa kampanye, di depan seluruh kepala desa pria yang menggunakan peci ini menguraikan agan-angannya untuk kabupaten Mojokerto.

Masih dalam kutipan sambutan bupati, orang nomor satu di Mojokerto ini menyampaikan bahwa angan-angan itu semua akan masuk menjadi visi dan misi dalam pertarungan Pilkada.

“Jadi saya mohon doa restu untuk menyukseskan saya memimpin kembali kabupaten Mojokerto, intinya itu”, tambah bupati dalam sambutannya dengan lugas dan jelas.

Permohonan tersebut sontak disambut tepuk tangan dari kumpulan kepala desa yang hadir pada saat itu. Bahkan Sugiarto yang merupakan ketua asosiasi kepala desa dengan terang-terangan menyatakan sikapnya sewaktu memberikan sambutan berikutnya.

“Aku los ae, pokok e bapak kudu disukseskan jadi bupati periode berikut e”, pernyataan tegas Sugiarto dengan logat khas Jawa di depan forum.

Beberapa hari setelah kejadian, awak media mencoba mengkonfirmasi langsung ke Plt. Camat Ngoro. Kepada wartawan Faizun mengaku tidak dapat berbuat apa-apa terkait adanyanya kegiatan tersebut.

“Kalau diibaratkan, saya ini cuma anak yang manut sama bapak nya”, terang pria berkaca mata ini untuk menjelaskan dalang dari pengumpulan Kades.

Yang mengejutkan dari kegiatan ini bukan saja kehadiran para kepala desa setempat, namun juga oknum Panwaslu. Terhadap hal ini wartawan meminta komentar dari Camat.

“Oknum Panwaslu Ngak komentar apa-apa mas terkait kejadian kemarin”, tambah pak Camat ketika ditanya wartawan tentang sikap Panwaslu terhadap dirinya.

“Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pasal 29 disebutkan kepala desa dilarang untuk melakukan kegiatan politik praktis, baik itu berupa tindakan atau perbuatan seperti ikut serta terlibat dalam kegiatan kampanye atau juga membuat keputusan-keputusan dan kebijakan yang menguntungkan golongan tertentu.” 

Mungkinkah sekelas Bupati, anggota Panwaslu dan ketua Asosisasi Kepala Desa tidak paham dengan aturan yang berlaku? Atau mungkinkah ada kekuatan atau faktor lain dibelakang jabatan yang melekat ini. Walla hu a’lam. (Tius)