YANG TERLUPAKAN

0
14

(Oleh : Sulianto)

Sejak tanggal 5 september 2020, ketika Dewan Perwakilan Rakyat melaksanakan paripurna ke-7 masa persidangan 2020-2021, dikomplek parlemen senayan Jakarta, dan mengetuk palu sebagai tanda disyahkannya Omnibus Law Ciptakerja menjadi undang-undang, sehingga memancing reaksi dari para mahasiswa dan kaum buruh.

Gelombang unjukrasapun tak terelakkan, banyak jatuh korban dari para pengunjukrasa dan aparat, hingga harus dilakukan perawatan medis.

Hal tersebut hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat dimasyarakat, mahasiswa dan kaum buruh, termasuk tokoh elit negeri ini, yang ikut menyuarakan dibatalkannya Undang-undang tersebut.

Sementara diujung sana, para pekerja bangunan masih terus bekerja dalam menyelesaikan sebuah bangunan, mereka bekerja dan bekerja dengan segala kemampuan dan tanggungjawab dengan apa yang harus diselesaikan tepat waktu yang telah ditentukan, dengan didampingi oleh tenaga teknis dan perancang bangunan handal dan profesional.

Siang itu kang jarwo, sang mandor buru buru pamit kepada para pekerja untuk pulang lebih awal, karena anak semata wayangnya sedang ulangtahun.

Para pekerjapun terus melanjutkan aktifitasnya tanpa ada pengawasan dan pendampingan, akan tetapi mereka tetap semangat dan penuh tanggungjawab dalam menjalankan pekerjaannya sampai batas waktu istirahat.

Disudut bangunan megah, para pekerja mendirikan barak untuk tempat istirahat, masak dan sekaligus sebagai tempat tidur.

Sore itu kang maman dan kawan kawan sesama pekerja, menyimak berita dari sebuah televisi swasta, tentang unjukrasa dari berbagai daerah yang menyuarakan hak kaum buruh.

Memang kang Jarwo menyiapkan televisi dibarak tersebut dengan harapan para pekerja dapat menikmati hiburan seusai bekerja seharian, disamping itu mereka rata rata dari luar kota yang jauh dengan keluarga.

Terjadi obrolan hangat dibarak sempit dan pengap itu, akan tetapi didalamnya dihuni oleh orang orang perkasa, yang selalu memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan negeri ini dengan segala kemampuannya, gedung pencakar langit, jalan tol penghubung antar kota, bandara, sampai membangun Istanapun dipastikan melibatkan mereka.

Keahlian mereka tidak tertuang dalam diktum dikementerian apapun, bahkan di kementerian yang menangani kaum pekerja, keahlian merekapun tidak masuk didalamnya.

Tiba tiba, dari luar cak gito yang baru mandi masuk barak dan langsung komentar tentang berita di televisi.

“Lapo, kok yo gelem geleme melu unjukrasa ngono iku, mbok kerjo malah oleh duwit,” ujar gito dengan santainya.

Tentu celetukan gito mengusik teman temannya yang sejak tadi menyimak berita di televisi dan secara tidak langsung juga terbawa arus prokontra diantara teman dalam barak tersebut.

” lho, awakmu ki piye to git, poro mahasiswa iku berjuang kanggo nasib poro buruh, mulo nyemak lek ono brita,” protes kang agus.

Kang Mistari yang sejak awal nampak serius menyimak televisi, ikut menyalahkan Gito yang memang sifatnya acuh tak acuh itu.

“Gito ojo dijak mikir ngene ki, pokok ono kopi karo udut wis lali sembarang,” timpal Mistari.

Teman temannya semua nampak serius dan sesekali berkomentar, ada yang mendukung gerakan unjukrasa, adapula yang menentang dan sebagian tidak peduli dengan apa yang terjadi diluar sana.

Sementara Gito, duduk diatas tumpukan kayu bangunan diluar barak, menikmati kopi pahit dan menghisap rokok kretek yang menjadi favoritnya.

Dua puluh menit berlalu, siaran televisi tentang unjukrasa usai, tetapi dalam barak para pekerja bangunan tadi masih belum berhenti membahas topik unjukrasa.

” la iyo, kok sampean kabeh podo serius temen, melu mbahas masalah hak buruh, opo nek kasil awake dewe melu ngrasakne…?,” suara Gito dari luar terdengar dari dalam barak.

Obrolanpun makin seru dan menjurus pada perdebatan, akhirnya Gitopun ikut nimbrung dengan teman temannya.

“Ngene lo git, mosok nasipe tukang bangunan koyok awake dewe pancet ngene ae, kudu didukung gerakan mahasiswa kuwi,” Kang iwan ikut bersuara dengan nada protes kapada gito.

Sore itu gito menjadi omelan , cemoohan dan sindiran dari teman sekerjanya, akan tetapi gito bersikap tenang dan tidak menunjukkan sikap marah, justru tersenyum dan terkesan meremehkan apa yang menjadi pembahasan sekerjanya.

Dengan menggeser tempat duduknya, gito berusaha lebih dekat, memberi penjelasan kepada teman temannya, yang sejak tadi saling beda pendapat.

Gitopun memulai pembicaraan dengan mengucapkan salam, “Assalamualaikum,”…., sehingga suasana hening dan seperti dalam rapat resmi antara Camat dengan kepala desa dalam musrencam.

“Ngene lo co, ojo kemrungsung, ojo mikir aneh aneh, mikir piye garapane awake dewe cepet mari, lan oleh duwit kanggo anak bojo,” Suara gito tegas.

Tentu kata kata gito mendapat protes keras dari teman temannnya, bahkan kang Nova yang tadinya diam, ikut memarahi gito.

Hal itu justru membuat gito tertawa cekikikan.

“Oalah co, mosok sampean gak sadar, lek pemerintah ngundakno gaji buruh, opo gajine awake dewe melu mundak…?,” cetus gito sambil bercanda.

Seketika suasana dibarak menjadi hening, para pekerja saling berpandang pandangan, ada yang menggerutu, tertunduk, tapi ada juga yang tetap bertahan pada pendiriannya untuk membahas apa yang terjadi.

Gitopun melanjutkan pebicaraannya, dengan santai tetapi penuh percaya diri, sore itu, Gito bak guru besar yang memberikan kuliah umum dan menjadi perhatian teman temannya.

Dari obrolan ringan yang terjadi dibarak, semua para pekerja tadi memahami jika gerakan apapun, dan undang undang yang barupun tidak berpengaruh pada keahlian mereka, dan mereka tetap bertahan dengan kesendiriannya, tanpa ada perlindungan, tanpa ada hak untuk melakukan protes, bahkan jika dipecatpun mereka tidak berdaya.

Ironis memang, hasil karya mereka telah diakui dan dinikmati oleh dunia, tetapi hingga kini belum ada wadah dan regulasi yang mengayomi dan membina mereka.

Diujung jalan, nampak seorang yang sedang santai dan memandangi gedung tinggi yang dalam proses penyelesaian.

Totok Supriyadi, atau yang akrab dipanggil kang Totok ini, merupakan pendiri Asosiasi Pekerja Konstruksi Jawa Timur ini berbagi cerita dan pengalamannya.

Bapak kelahiran Probolinggo, 48 tahun silam ini sudah malang melintang di berbagai perusahaan kontraktor nasioanal maupun internasioanal, dan banyak terlibat mulai sebagai surveyor hingga supertendent dalam pembangunan pabrik, bandara, dermaga maupun hotel berbintang.

Profesi yang mendatangkan rupiah yang cukup lumayan besarpun harus ditinggalkannya, karena merasa tidak ada keadilan dan perlindungan hukum akan profesi yang digelutinya.

“Ibarat habis manis sepah dibuang mas,” keluh kang Totok.

Sambil menghisap cerutunya, kang Totok melanjutkan obrolannya dan agak serius lagi dalam menyikapi nasib para tukang yang pernah digelutinya.

“Sing mbangun Istana, monas, masjid Istiqlal iku yo tukang mas, tapi sepanjang sejarah negeri ini, tak sehelai penghargaanpun kepada keahlian mereka,” keluh kang totok.

Kang Totokpun mencoba menyitir buku Mansoury, dengan menyebutkan “Negara Yahudi besar dan maju karena adanya pemikiran kelompok tukang batu dan kayu”

Memang keahlian mereka bekerja disektor nonformal, yang dalam pelaksanaannya hanya berdasarkan kesepakatan kedua pihak, antara pekerja (kuli bangunan) dengan pemborong atau pihak pengguan jasa mereka.

Untuk mengenang masa lalu dan menghargai para tukang kuli bangunan, Totokpun membangun sebuah “PATUNG TUKANG” ditengah kota kelahirannya Probolinggo, dan patung tersebut masih berdiri kokoh diantara lalu lalang lalulintas, serta deru mesin ekonomi yang terus berjalan, entah sampai kapan…?

Akankah dapat bertahan seperti para pekerja yang selalu membangun dan membangun….?
Ataukah akan tergerus dengan keserakahan kota…?

Andai patung itupun lenyap, tetapi keahlian nyata dari mereka tetap di butuhkan, pahlawan yang disayang sesaat dibutuhkan, meskipun akhirnya juga terlupakan.

(Jelang Hari Pahlawan ’20)