Program Vaksinasi Covid-19 Upaya Putuskan Rantai Penularan Virus Corona

0
6

JAKARTA – Presiden Joko Widodo menjalani vaksinasi Covid-19 perdana buatan perusahaan asal China, Sinovac, pada Rabu (13/01) di Istana Negara, Jakarta. Momen tersebut menandai dimulainya program vaksinasi massal Covid-19 di Indonesia.

“Program vaksinasi Covid-19 penting dilakukan untuk memutus rantai penularan virus corona,” kata Jokowi.

Tanpa menyinggung tes dan pelacakan kontak yang disebut WHO sebagai tulang punggung respons penanganan pandemi Covid-19, Jokowi cuma mengingatkan pentingya tetap menjaga disiplin terhadap protokol kesehatan.

“Meskipun telah dilaksanakan vaksinasi, saya ingin mengingatkan kembali tentang pentinya disiplin terhadap protokol kesehatan. Ini tetap terus kita lakukan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan hindar kerumunan,” ungkapnya.

Jokowi mengatakan bahwa vaksinasi akan dilanjutkan “di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia. Namun demikian, pakar vaksin memprediksi pelaksanaan vaksinasi tahap pertama di berbagai wilayah di Indonesia akan menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam proses distribusi dan penyimpanan.

Menurut ahli imunisasi sekaligus mantan pejabat tinggi Kementerian Kesehatan, Jane Soepardi, persoalan vaksinasi Covid-19 secara umum akan terjadi pada proses distribusi. Peluang munculnya hambatan terjadi saat vaksin didistribusikan ke lingkup terbawah, yaitu dari otoritas kabupaten atau kota ke puskesmas. Armada dan peralatan yang tidak menjamin kestabilan suhu, kata dia, rentan merusak vaksin.

“Masalah bisa terjadi pada proses distribusi, saat vaksin keluar dari satu depo ke depo lain,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (12/01) dikutip dari Antara.

Dari Bio Farma sampai ke depo provinsi pasti aman, kata dia, karena standarnya gunakan pesawat atau truk khusus berpendingin. Lalu biasanya dinas kesehatan kabupaten mengambil ke provinsi. Standarnya kabupaten punya mobil berlemari es yang khusus mengangkut vaksin, tidak boleh untuk angkut yang lain.

“Rata-rata kabupaten punya ini. Mereka mengambil dengan kendaraan yang memadai. Di Papua harus pakai pesawat. Nah yang terakhir dari kabupaten ke puskesmas dan rumah sakit. Biasanya puskesmas ambil menggunakan motor. Di situlah kemungkinan terjadinya masalah. Itu praktik di lapangan,” kata Jane. (tim)