HPSN Kampung Adat Cireundeu Digelar Tanpa Kehadiran Pejabat Pemkot Cimahi

0
23

CIMAHI – Minggu (21/02/2021), masyarakat kampung adat Cireundeu Kelurahan Leuwigajah Kecamatan Cimahi Selatan menggelar Hari Peduli Sampah Nasional.

Meski digelar dengan sederhana, namun suasana khidmat sangat terasa pada acara yang diikuti oleh sesepuh adat dan masyarakat adat Cireundeu, serta Bimas dan Kasie Trantibum Kelurahan Leuwigajah.

Sembari diiringi denting kecapi, Abah Widi yang merupakan sesepuh kampung adat Cireundeu, membuka acara tersebut.

Begitu Abah Widi membuka acara, sontak semua yang hadir berjalan kaki menuju tempat upacara tabur bunga dan doa bersama dengan iringan alat musik Karinding.

Kekhidmatan suasana saat mengelilingi bukit membuat bulu kuduk merinding. Betapa tidak, di bukit yang kini mulai menghijau itu pernah terjadi kisah memilukan yakni meledaknya tumpukan sampah akibat gas methan.
Konon, ledakan itu membuat sedikitnya 157 jiwa melayang. Bahkan 60 orang, hingga kini tidak pernah diketahui jasadnya.

Abah Widi selaku sesepuh adat di Kampung adat Cireundeu memberikan wejangan bahwa alam itu tidak harus diobati oleh manusia karena bisa mengobati sendiri.
Misalnya, terang Abah Widi, peserta yang ada dilokasi ini, bisa melihat gunungan sampah yang pernah ada dulu telah mulai memulihkan diri. Terbukti, kini telah menghijau meski dulu merupakan gunungan sampah.

Di masa mendatang, pemerintah bisa menggunakan lahan yangbtelag pulih seperti sediakala untuk keperluan apa saja asal bukan untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

“Menurut orang Sunda, sampah itu dekat dengan Bala, yang merupakan singkatan dari Ba dan La,” terang Abah Widi.

Bala, jelas Abah Widi, merupakan kependekan dari kata Bau dan Lalat yang bisa menimbulkan penyakit.

Selama kurang lebih 22 tahun, masyarakat kampung adat Cireundeu tidak pernah mempermasalahkan dijadikan lahan itu sebagai tempat pembuangan sampah. Kesabaran masyarakat Cireundeu didasari keyakinan bahwa semua aktivitas di pembuangan sampah iti akan berakhir dengan sendirinya.

“Kami sekarang sudah senang melihat bukit yang mulai menghijau. Mata air berangsur-angsur kembali normal. Bahkan saya berani minum airnya yang berasal dari kaki Gunung Kunci, Gunung Pasir Panjang, Gunung Batu Aki dan Gunung Gajah Langu. Semua harus dilakukan dengan adat istiadat Cireundeu yaitu akur, rukun, repeh-rapih,” terang Abah Widi.

Sementara itu, Gun Gun Bahrul Hayat, Kasie Trantibum Kelurahan Leuwigajah yang mewakili Lurah mengaku menyambut baik kegiatan HPSN ini.

“Mungkin ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk bisa memperhatikan alam. Kita dari pemerintahan akan membantu untuk kedepannya. Apapun yang terjadi, ini merupakan warga kami,” jelas Gun Gun.

Diimbuhkannya pula, pihaknya merasa terpukul saat peristiwa yang menelan ratusan jiwa itu terjadi.

“Kami mesti bangkit, karena apapun yang dilakukan, bila tanpa campur tangan warga, mustahil bisa tercapai,” ujarnya.

Sampah bisa menjadi emas, katanya pula. “Tinggal kita yang olah seperti apa. Kita jaga alam dengan cara mendisiplinkan masyarakat tentang membuang sampah yang benar,” katanya.

Mengakhiri ucapannya, Kasie Trantibum ini menyampaikan terimakasihnya pada warga Cireundeu yang senantiasa mengingatkan tragedi sampah ini agar tidak terulang.

Saat gelaran HPSN berlangsung, beberapa pejabat pemerintahan Kelurahan tampak menghadiri acara HPSN, namun tidak satupun pejabat dari Dinas Pemkot Cimahi yang hadir.

“Kami sangat kecewa dengan para pejabat Pemkot Cimahi yang tidak hadir dalam acara mengenang meledaknya TPA Cireundeu. Padahal kejadian tersebut membuat 157 jiwa melayang, dan menjadi catatan khusus dalam agenda HPSN setiap tahunnya. Tolong perhatikan kami,” celetuk salah seorang warga yang tidak mau disebutkan identitasnya.**

Reporter: Achmad