Tanda Tangan Disalah Gunakan, Ahli Waris Terancam Kehilangan Hak.

0
25

MALANG — Akibat memberikan kepercayaan penuh memberi tanda tangan untuk pengurusan surat tanah, ahli waris terancam kehilangan hak warisnya.

Wajah gelisah dan kecewa tampak pada keluarga Juanah, warga Desa Malangsuko, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang,
pasalnya, saat ini Juanah dan beberapa keluarganya yang berniat mengurusi surat tanah warisan dari salah satu kakeknya yang bernama Surachman, harus terhenti karena tanah yang dimaksud ternyata sudah di daftarkan oleh orang lain.

Djuana yang berniat mengurus administrasi mendapat pemberitahuan dari Kepala Desa (Kades) Malangsuko, M Soleh, bahwa surat yang diajukan ke desa tidak dapat di proses karena tanah yang dimaksud Djuana sudah didaftarkan oleh orang lain.

Djuana bingung dan mengaku kalau para ahli waris tidak ada satupun yang pernah mendaftarkan atau mengurusi surat tanah itu. DJuana sendiri mengurus surat itu berdasar surat Letter C yang di dapat dari desa.

Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata tanah yang dimaksud para ahli waris ini sudah dipindah tangan atau balik nama atas nama istri kakeknya.

Juana kaget bukan kepalang mengetahui itu, karena tanah itu bukanlah harta gono gini dari pernikahan almarhum kakeknya dengan neneknya yang bernama Partimah, yang menjadi atas nama dalam foto copy Akta Jual Beli(AJB) yang ditemukan.

Harta gono gini dari hasil pernikahan kakeknya sudah ditempati oleh salah seorang keponakan Partimah yang bernana Liana, karena dari pernikahan almarhum Surachman dan Partimah tidak mempunyai keturunan.

Namun isi dalam AJB itu terdapat keanehan, akad dalam AJB tersebut menerangkan bahwa Patimah menjual sekaligus membeli tanahnya sendiri denga tanda tangan Juana dan saudara-saudaranya lengkap, karena dalam Letter C yang ada, tertulis atas nama Surachman Partimah.

DJuana mengakui kalau dia dan ahli waris lainnya memang pernah memberikan tanda tangan untuk penjualan sebidang sawah guna biaya pengobatan Partimah saat sakit.

Namun pada kenyataannya, satu tanda tangan yang diberikan kepada Partimah untuk penjualan sawah disalah gunakan untuk mengurusi tanah yang lain tanpa sepengetahuan Juana dan saudara-saudaranya sehingga sekarang mereka tidak bisa mendaftarkan tanah itu dan terancam kehilangan hak mereka.

DJuana yg ingin melihat bukti asli dari surat itu, tidak pernah bisa melihat AJB yang menerangkan bahwa tanah hak waris keluarganya itu benar-benar sudah terdaftar atas nama Partimah, sehingga memunculkan banyak spekulasi yang macam-macam dari Djuana dan keluarga.

Djuana sempat menanyakan keberadaan AJB itu kepada Liana, namun dijawab bahwa AJB itu masih berada di Sigit dan belum diberikan kepada dirinya.

DJuana mencoba mencari informasi kepada Sigit, perangkat desa yang membantu pengurusan surat waktu itu,
Sigit mengatakan bahwa AJB itu sudah diberikan kepada Liana, karena yang meminta tolong pengurusan surat itu adalah Liana.

Djuana dan keluarga sempat mendapat saran untuk melaporkan kehilangan AJB itu guna mengurus lagi dari Kades Malangsuko, M.Soleh. Namun Djuana menolak karena dirinya tidak pernah merasa mengurus surat itu dan tidak pernah memiliki/ membawanya.

Kepala desa Malangsuko, M.Soleh, yang ditemui wartawan, mengatakan bahwa dirinya memang tidak berani melanjutkan proses pengurusan tanah yang diajukan oleh Djuana.

“Memang benar saya tidak bisa melanjutkan proses kepengurusan tanah itu (tanda tangan, red), karena tanah yang diajukan itu sudah teregister atau terdaftar berupa AJB.” jelas pria yang akrab dipanggil Soleh ini.

Lebih lanjut, Soleh juga mengiyakan soal dirinya menyuruh Djuana melaporkan kehilangan surat tersebut.
“Saya memang sempat menyarankan ibu Djuana membuat laporan kehilangan surat tersebut, agar pengurusan itu bisa dilanjutkan.” terang Soleh

Di sisi lain, Sigit yg sekarang menjadi sekdes di Desa Malangsuko setali tiga uang, mengiyakan adanya usulan untuk membuat surat kehilangan itu.

Karena dirinya sudah melakukan berbagai usaha agar Liana tidak mau bekerjasama dan memberikan AJB yang dimaksud, karena Liana sendiri memang tidak berhak atas harta yang tertuang dalam AJB itu.

“Betul kalau desa sempat menyarankan itu (laporan kehilangan), karena desa sendiri sudah tidak mampu mengingatkan dan meminta kesadaran Liana untuk mengakui dan menyerahkan AJB itu.” jelas Sigit.

“Saya sudah pernah meminta pernyataan kepada Liana bahwa AJB itu ada pada Liana (entah itu disimpan di rumah atau digadaikan).” sambung Sigit

Dan Sigit pun mengakui kalau yang mengurus AJB itu adalah atas permintaan Liana, sehingga saat ini dia mencoba meminta penjelasan kepasa Liana tentang keberadaan AJB itu

Sementara perangkat desa yang meminta tanda tangan kepada Djuana dan keluarga saat itu, Abdul Khamid yang dihubungi via ponselnya belum memberikan keterangan apapun.

Djuana dan keluarga mengaku tidak akan berhenti sampai disini saja, pihaknya akan terus mencari dan menelusuri siapa pihak-pihak yang sudah mencoba menipu dirinya dan ahli waris lainnya, bahkan tidak segan-segan jika harus melalui jalur hukum.( Midi/ bersambung)