Tersesat di Hutan, Pria Pencari Bibit Porang Ditemukan Selamat Dengan Kisah Mistisnya

0
58

BANYUWANGI – Pria pencari bibit porang yang hilang selama 4 hari akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Pria yang merupakan warga Dusun Sumbernanas, Kelurahan kalipuro Kec. Kalipuro itu berhasil ditemukan di hutan Petak 68 Perhutani Sumber Nanas, Kecamatan Kalipuro pada titik koordinat 8° 6’25.63″S 114°21’4.73″T. Pada Rabu (24/2) pukul 00.30 WIB.

Sebelumnya pria bernama Nurul Machrus (39) dinyatakan hilang pada Sabtu (20/2/2021), disaat mencari bibit porang dihutan petak 67 A RPH Gombeng, KPH Banyuwangi Utara.

Setelah dievakuasi, pria yang ditemukan dalam kondisi lemah itupun menceritakan cerita mistis yang dialami saat berada dihutan. Berawal saat Nurul merasa kesulitan mencari porang di kawasan hutan petak 67 A RPH Gombeng, KPH Banyuwangi Utara. Ia akhirnya berkeluh kesah sendiri.

“Saya bilang ‘yut putun riko mrene nggolek mangan. Heng niat nyalah. Wehono pangan apuwo yut’ (Mbah buyut cucumu datang ke sini mencari rezeki. Tidak berniat buruk. Tolong dikasih tahu lah Mbah),” ujar Nurul.

Tak berselang lama, lokasi yang sebelumnya tidak ada bibit tanaman yang dicari, tiba-tiba penuh dengan porang. Alangkah gembiranya Nurul. Ia pun bergegas mengambil tanaman tersebut hingga tiga ikat.

“Saya baru sadar hari sudah mulai gelap. Dalam hati saya, kalau pulang mati saya. Bisa masuk jurang mati saya,” terangnya.

Saat dilanda kekhawatiran, tiba-tiba Nurul mendengar suara orang batuk. Ternyata suara tersebut berasal dari seorang kakek tua yang kebetulan lewat dekat dengannya. Ia pun memberanikan diri bertanya ‘mau ke mana Mbah?’. Menurutnya, kakek tersebut menjawab menggunakan aksen Bahasa Madura.

“Saya mau pulang, Adik kok belum pulang?” kata Nurul menirukan suara kakek tersebut.

“Kalau saya pulang, saya takut mati Mbah. Takut masuk jurang,” jawab Nurul kala itu.

Kakek itu, kata Nurul, mencoba menenangkannya. Kakek itu mengatakan Nurul tidak bakal mati jika tersesat di lokasi itu.

“Dia bilang ‘kamu tidak akan mati di sini. Ayo ikut ke rumah saya’. Diajak lah saya ke atas ke rumahnya. Sampai ke atas, saya lihat ada empat rumah. Dua hadap ke timur, dua hadap ke utara. Atapnya pakai keduk (ijuk). Di depannya ada danau yang luas dan indah. Di tepinya banyak bunga-bunganya,” papar pria hilang itu.

“Dikasih kopi. Saya kan kena (penyakit) lambung. Saya tolak dan akhirnya dikasih air putih. Kemudian saya diajak makan, saya makan. Enak sekali Pak. Padahal cuma sayur satu, tidak pakai lauk. Sayur kesimbukan kalau kata orang Osing. Padahal, kalau sekarang saya tidak mau karena bau kesimbukan. Tapi enak sekali pas saya makan itu,” ujar Nurul melanjutkan cerita mistis kepada wartawan.

Betapa terkejutnya Nurul, tiba-tiba muncul empat ekor harimau tepat berada di sebelahnya. Tiga harimau berwarna kuning dan seekor berwarna hitam pekat. Harimau yang berwarna hitam ini mengaum keras sehingga mengganggu istirahatnya. Saat itu, Nurul merasa sudah familiar dengan kawanan harimau tersebut. Ia pun meminta agar harimau berwarna hitam berhenti mengaum dan membangunkannya pada keesokan harinya.

“Yang hitam besar ini teriak (mengaum). Kemudian saya bilang ‘cul cul ojo rame. Sun arep turu kesok isuk baen isun gugahen’ (cul-cul jangan ramai. Saya mau tidur. Besok pagi saja bangunkan saya). Akhirnya diam dan saya tidur,” ungkapnya.

Pagi keesokan harinya, pria hilang itu terjaga dari tidurnya. Dia merasa heran karena empat ekor harimau yang menemaninya saat malam sudah tidak ada. Ia pun bergegas mencari sang kakek tua untuk pamitan pulang ke rumah.

Kakek itu pun mempersilakannya untuk pulang. Namun sebelum pulang, Nurul diminta untuk sarapan pagi terlebih dahulu. Usai sarapan, muncul 4 wanita yang akan mengantarnya. Meski sudah tua, empat perempuan tersebut memiliki paras rupawan. Seingat Nurul, ia diantar oleh empat perempuan tersebut dengan mengendarai sebuah kereta.

“Naik kereta. Tapi saya nggak sadar yang narik kereta itu apa. Antara sadar dan tidak,” sebutnya.

Ia pun diturunkan di tengah hutan. Saat itu, dua orang perempuan pengantarnya berkata agar Nurul berjalan lurus ke arah Selatan. Namun dirinya memberontak karena arah selatan yang ditunjuk oleh perempuan tersebut adalah arah sebaliknya.

“Saya berontak. Salah ini. Itu ke utara bukan selatan. Sumbernanas arahnya ke Selatan. ‘Kamu jangan ikuti kata hatimu, ikuti apa yang saya bilang’. Dia bilang seperti itu,” ungkap Nurul.

Namu (68), bapak mertua pria hilang itu menyatakan, proses ditemukannya korban sangat rumit. Tidak masuk dalam logika masyarakat kebanyakan. Pada malam sebelum Nurul ditemukan, dirinya mendengar sebuah teriakan minta tolong dari arah hutan. Padahal, jarak terdekat antara rumah warga dengan hutan lebih dari 1 kilometer. Suara yang terdengar pun suara seorang wanita, bukan suara Nurul.

Namu yang penasaran kemudian bertanya kepada anak dan cucunya. Rupanya, mereka juga mendengar suara serupa. Tak sampai di situ saja, warga kampung juga mendengar suara itu. Seluruh warga keluar rumah.

“Warga itu ramai-ramai mencari di hutan tapi tidak ketemu. Lalu pulang. Sekitar jam 11 malam ada suara wanita berteriak dari arah hutan. Ternyata warga sekampung juga mendengarkannya,” kata Samu.

Berbekal senter dan pencahayaan lainnya, puluhan warga memasuki hutan. Suara tersebut berganti menjadi suara seorang pria. Yakni suara Nurul. Namun anehnya, warga sekitar melihat Nurul berlarian menjauhi warga. Hingga akhirnya, Namu menangis dan berteriak memohon Nurul untuk berhenti berlari.

Saking kencangnya berlari, rombongan warga pun berhenti. Bukan karena tidak sanggup mengejar, namun jalur pelarian Nurul tidak layak untuk diikuti. Nurul menerjang semak belukar dan rerumputan tinggi.

Bahkan, jalur Nurul berlari tidak menimbulkan bekas apa pun. “Dikejar warga malah anak saya berlari menjauh. Setelah itu saya panggil dia, saya bilang ‘kalau dia anak saya dan saya minta untuk berhenti’. Barulah berhenti,” kata Namu.

Kejadian aneh lainnya dirasakan saat warga sudah bertemu dengan Nurul. Mereka tak bisa pulang karena jalur sudah tertutup dengan semak belukar. Dengan menggunakan parang yang dibawa Nurul, akses jalan menuju pulang akhirnya ditemukan.

“Waktu mau pulang, kami semua sempat kebingungan. Karena tidak ada jejak apa pun. Satu pun rumput yang terpijak juga tidak tampak,” kata Namu.

Warga Lingkungan Sumbernanas mengakui peristiwa berbau mistis tersebut. Namun tidak dengan tim SAR yang melakukan pencarian. Mereka berpedoman, korban kemungkinan mengalami dehidrasi atau kecapekan sehingga terjadi penurunan konsentrasi.

“Alhamdulillah, lewat tengah malam tadi korban bisa dievakuasi dengan kondisi selamat. Terlepas dari cerita korban, mungkin korban ini linglung sesaat. Mungkin korban ini kecapekan sehingga lupa dan bingung jalan pulang,” kata Koordinator Pos Basarnas Banyuwangi, Wahyu Setia Budi.