NAMAKU JOE

0
51

Oleh: OJ. Octaviano

Pagi itu udara terasa segar, sang surya menampakkan sinarnya menghangatkan seluruh isi muka bumi.

Para petani melakukan aktifitas dengan penuh semangat, ceria nampak diwajah mereka, terbersit harapan sebuah hasil penen dari jerih payahnya.

Sementara, Ari masih ogah ogahan untuk melepas selimutnya yang membungkus tubuhnya diatas ranjang.

Matanya sulit untuk diajak menikmati indahnya alam pagi itu, karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan seorang bakul jamu gendong yang bernama Joe.

Seminggu sebelumnya, ketika Ari asyik minum kopi bersama teman- temannya di warung langganannya yang berada di tepi jalan dekat persawahan, didatangilah seorang bakul jamu gendong.

Dengan suara pelan dan sopan, sibakul jamu menawarkan dagangannya, sambil minta permisi untuk duduk dikursi bambu yang sudah mulai usang.

“Monggo jamune mas, supaya sehat, kuat, semangat”, ujar sibakul jamu dengan suara pelan dan sedikit manja.

 Semua teman Ari mendekat dan membeli jamu gendong tadi, sambil melirik wajah manis sipenjual jamu.

Demikian juga Ari, diam-diam mencuri pandang, dan memperhatikan setiap gerak sibakul tadi, Ari berucap dalam hatinya betapa sempurnanya wajah perempuan ini.

Akan tetapi Ari tidak berani menggoda, juga tidak berani bertanya namanya, karena teman temannya juga saling mendekati.

Diam diam Ari terus memperhatikan setiap gerak wanita tersebut, rupanya Ari tertarik dengan kecantikan serta sikap wanita penjual jamu yang anggun dan memiliki tatakrama.

“Siapa namanya mbak”, tanya Tofa teman Ari yang saat itu ikut menikmati minum jamu.

” Oh njih nama saya Joe mas”, jawab perempuan tadi, suaranya yang halus terasa seperti hembusan angin yang menerpa udara panas, sehingga terasa sejuk.

Ari dengan serius mencatat nama yang tadi disebutkan, Joe, sebuah nama pendek yang disandang seorang perempuan yang sempurna di mata Ari.

Sejak saat itu, setiap mentari menjelang redup, Ari merasa gundah dan seperti ada yang hilang pada dirinya, teringat wajah manis sibakul jamu, yang bertemu seminggu sebelumnya.

Dadanya sesak, dan menyesal kenapa tidak menanyakan nama asli dan alamatnya atau nomer ponselnya, sejak pertemuan diwarung kopi tersebut Ari sering melamun dan selalu membayangkan wajah ayu seorang Joe.

Menyesal, mengapa dirinya saat ketemu tidak memberanikan diri untuk mendekati, dalam hatinya selalu membayangkan Joe, nama yang sangat pendek yang sulit untuk dilupakan.

Joeariyah, Joeminten, Joejuk, atau Joe siapa ya?…. Setiap saat Ari melamun dan membayangkan pemilik nama tersebut.

Pertemuan singkat di warung kopi tersebut membuat Ari sering melamun, menyendiri, bahkan sering melupakan tugas utamanya.

Oh Joe dimanakah kau,…. kapan kita bertemu lagi, aku selalu menunggumu di warung kopi, aku yakin kamu pasti datang, entah sampai kapan, doa Ari setiap saat. ( Medio maret’ 21).