LUMAJANG — Dalam melakukan budidaya tanaman, petani selalu dalam pihak yang lemah, hal ini dikarenakan belum optimalnya pihak terkait dalam memberikan jaminan harga masa panen, hal ini menimbulkan sebuah spekulasi bisnis yang berharap harap cemas.
Ganang, warga desa Sumbersuko, kecamatan Sumbersuko – Lumajang yang merupakan petani tembakau, menyampaikan jika dirinya dengan petani tembakau lainnya merasa usaha yang digelutinya penuh dengan resiko, mengingat petani tidak bisa menentukan harga pasar, akan tetapi masih tergantung kepada produksi hasil panen dan permintaan.
Akan tetapi dirinya masih bersyukur, karena masa panen tahun ini harganya cukup bagus, antara 45 sampai 50 ribu rupiah, akan tetapi dirinya juga masih belum tenang, dikarenakan harga tersebut bukan standart akan tetapi kebetulan petani didaerahnya jarang yang menanam tembakau.
“Teman teman petani, tahun ini banyak yang tidak tanam tembakau karena kapok dengan harga yang anjlok saat panen tahun lalu,” Ujar Ganang.
Iskhak Subagio, SE, ketua HKTI Lumajang membenarkan apa yang disampaikan para petani, menurutnya jaminan bagi petani tembakau tentang hasil panen belum ada kepastian, sehingga petani sering menjadi korban dalam budidaya.
Disampaikan dari laporan APTI ( Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Kabupaten Lumajang, jika harga saat ini cukup bagus dan menguntungkan bagi petani tembakau, dan diprediksi harga tersebut masih bisa bertahan untuk tahun kedepan.
Sebenarnya pihak terkait sudah saatnya segera membuat regulasi, atau terobosan terobosan yang dapat membantu petani dalam menjamin usahanya, sehingga para petani lebih optimal dan merasa ada jaminan harga hasil taninya, tegas Iskhak Subagio.
Sistem informasi yang akurat tentang jumlah kebutuhan dan juga luas areal tanam, sangat mutlak sebagai proteksi terhadap petani, ini akan menjamin harga layak ditingkat petani
saat ini petani adalah GAMBLER sejati karena dalam proses bertaninya selalu menggunakan judi dalam tanda kutip sehingga antara harapan dan kenyataannya sangat jauh, sehingga banyak petani yang merugi, Lanjutnya. (Red)


