Pemprov NTB Resmi Patok Harga Tes PCR RP. 300 Ribu Rupiah

676 0

MATARAM – TARIF uji usap atau tes PCR di wilayah NTB akhirnya turun, kemarin. Dari semula Rp 450-500 ribu kini menjadi Rp 300 ribu. Penurunan tarif ini sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Kementerian Kesehatan mengenai standar harga tarif PCR.

“Mulai hari ini (kemarin, Red) sudah turun menjadi Rp 300 ribu,” kata Humas RSUD Provinsi NTB Solikin kepada GEMPURNEWS, kemarin (29/10).

Surat Edaran mengenai aturan penurunan tarif ini sebenarnya diterima pihak RSUD Provinsi NTB sejak 27 Oktober lalu. Namun penerapannya baru dilaksanakan 28 Oktober setelah koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTB dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) NTB.

Kebijakan penurunan tarif dilaksanakan setelah mendapat gelombang kritik dari masyarakat. Terkait aturan wajib membawa hasil negatif tes PCR sebagai syarat penerbangan. Aturan ini dinilai memberatkan. Karena masyarakat terpaksa menambah biaya untuk naik pesawat mencapai Rp 500 ribu.

“Yang datang melakukan Swab PCR memang sebagian besar penumpang pesawat. Kebetulan RSUD NTB ditunjuk sebagai laboratorium Swab PCR penumpang,” kata Solikin.

Pelayanan tes PCR diberikan RSUD NTB di gedung Graha Mandalika. Mulai pukul 08.00-12.00 Wita. Dalam sehari, ada 50 hingga 100 permintaan tes PCR dari masyarakat. Hasil tes PCR di RSUD NTB tidak melewati 1×24 jam.

“Sesuai SOP memang 1×24 jam. Tetapi bisa dioptimalkan, pagi Swab, nanti pukul 18.00 atau Maghrib sudah keluar hasilnya,” terangnya.

Untuk memudahkan masyarakat, hasil Swab PCR tidak harus ditunggu di rumah sakit. Khususnya bagi warga yang menginstal aplikasi PeduliLindungi. Mereka sudah bisa secara otomatis melihat hasilnya di aplikasi tersebut.

“Karena hasil Swab PCR itu akan dimasukkan ke aplikasi PeduliLindungi. Bisa juga nanti kami kirimkan file PDF melalui whatsApp agar tidak merepotkan warga menunggu atau mengambil hasilnya ke rumah sakit,” paparnya.

Tak hanya di RSUD Provinsi NTB, penurunan harga Swab PCR juga berlaku di semua rumah sakit di NTB. “Sudah (turun) sesuai edaran Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan (Kemenkes) tentang tarif RT PCR,” terang Direktur RSUD Kota Mataram dr. Hj Eka Nurhayati.

Tarif Swab PCR di RSUD Kota Mataram sama dengan RSUD Provinsi NTB Rp 300 ribu. Sedangkan tarif rapid antigen Rp 109 ribu.

Sebenarnya, penurunan tarif Swab PCR bukan menjadi solusi yang diharapkan masyarakat. Para penumpang yang ditemui Gempurnews di Bandara Internasional Lombok lebih berharap aturan tes PCR sebagai syarat penerbangan diganti rapid antigen seperti semula.

“Selain lebih murah, antigen bisa ditunggu paling lama 30 menit. Jadi memudahkan mobilitas kita dengan tetap taat protokol kesehatan,” ujar Yuli Lestari, salah satu penumpang.

Sementara itu, pemenuhan vaksin Covid-19 untuk seluruh penduduk terus diupayakan pemerintah. Salah satunya dengan memastikan ketersediaan stok vaksin Covid-19. Kemarin (28/10) Indonesia kedatangan Vaksin Sinovac dan Pfizer. Sehingga, Indonesia telah kedatangan 305.735.960 dosis.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Usman Kansong mengatakan sejak Selasa lalu (26/10) hingga kemarin, pemerintah mendatangkan empat tahap vaksin.Pada Selasa lalu, Indonesia kedatangan 4 juta vaksin Sinovac dalam bentuk jadi. Rabu (27/10), 4 juta dosis vaksin Sinovac juga kembali tiba. Lalu kemarin, datang 677.430 dosis vaksin Pfizer dan 4 juta vaksin Sinovac.

”Lancarnya kedatangan vaksin, membuat upaya percepatan dan perluasan program vaksinasi jadi lebih optimal,” kata Usman. Seperti arahan Presiden Joko Widodo, setiap vaksin jadi yang telah datang akan langsung secepatnya didistribusikan ke berbagai daerah. Tujuannya, penyuntikan vaksin di daerah berjalan lebih cepat.

Selain jaminan ketersediaan stok vaksin dan upaya percepatan vaksinasi, pemerintah juga terus memberikan edukasi kepada yang masih ragu dan enggan untuk divaksinasi. “Sekali lagi pemerintah menegaskan bahwa seluruh vaksin Covid-19 yang digunakan ini aman dan berkhasiat,” ungkapya.

Dalam kesempatan itu, Usman meminta masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan. ”Presiden Jokowi juga telah mengingatkan kita agar tetap mawas diri,” katanya. Alasannya kenaikan kasus masih terjadi meski jumlahnya kecil.

Pada kesempatan lain, Juru Bicara Kementerian Kesehatan terkait Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa kasus yang terus rendah merupakan salah satu indikator dari pandemi ke endemi. Pemerintah, menurutnya, menargetkan kasus harian maksimal hanya 2700 kasus.

Meski kasus rendah, Nadia menyatakan Indonesia juga bisa mengalami gelombang ketiga. ”Gelombang ketiga bisa terjadi meski vaksinasi tinggi,” ujarnya. Vaksinasi saja tidak cukup. Harus didukung juga dengan protokol kesehatan yang tertib dijalankan.

Virus Covid-19 yang dapat bermutasi menjadi salah satu perhatian. Misalnya ketiga ada varian Delta, berbagai negara mengalami gelombang kedua.

Yang terbaru, ada varian baru AY.4.2. Virus ini merupakan varian deltas yang mengalami mutasi. ”Tidak ada perbedaan gejala,” ungkap Nadia. Hingga saat ini belum diketahu kecepatan penularannya. (Dhw/robhin)

Related Post