MATARAM – Tidak semua daerah mewacanakan penerapan pembelajaran tatap muka (PTM) penuh. Ada juga yang masih bertahan dengan PTM terbatas.
”Kami sudah diskusikan ini bersama rekan-rekan di internal, untuk sekarang kami masih bertahan dengan yang ada dulu,” ungkap Kepala Dinas Dikbud Lombok Timur (Lotim) Achmad Dewanto, saat dikonfirmasi gempurnews (4/11).
Pihaknya tidak bisa memaksakan diri, untuk menggelar PTM penuh, atau hanya sekedar melaksanakan simulasi. Karena pusat sampai saat ini belum mengeluarkan regulasi terkait hal itu.
Bahkan Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, yang menjadi pedoman PTM masa pandemi sama sekali belum mengalami perubahan.
”Jadi kami ikuti yang ada,” tegas mantan kepala Bappeda Lotim ini.
Dibandingkan melaksanakan simulasi PTM penuh, Dinas Dikbud Lotim memilih memperpanjang jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kelas, selama ini untuk SD, durasi KBM dihitung 3×35 menit. Untuk SMP 3×45 menit.
”Maka kami akan menormalkan durasinya belajar seperti biasa, murid SD belajarnya dari jam 07.30-11.55 Wita, sedangkan yang siswa SMP dari 07.30 sampai 12.45 Wita,” jelasnya.
Meski demikian, pihaknya masih memberlakukan sistem shift atau blok.
”Hanya lama di sekolahnya yang kita tambah, tetapi untuk jadwal belajar, anak-anak masih bergantian, artinya tidak full,” tandas Dewanto.
Terpisah, Plt Kepala Disdik Lombok Tengah (Loteng) Lalu Muliawan juga mengatakan hal serupa. Pihaknya sampai saat ini belum memikirkan mengganti pola pembelajaran menjadi PTM penuh.
”Kita kan masih terikat dengan SKB empat menteri yang sebelumnya,” terang dia.
Dirinya memahami bagaimana permintaan sekolah, guru, hingga orang tua. Dengan PTM penuh juga bisa dijadikan sebagai langkah mengurangi dampak learning loss. ”Kami paham bahwa PTM penuh sangat banyak manfaatnya,” ujarnya.
Namun, Disdik Loteng tidak berani mengambil risiko. Acuannya adalah regulasi dari pemerintah pusat, dan rekomendasi dari Satgas Pencegahan Covid-19 Loteng.
Apalagi, Loteng akan dipadati wisatawan yang hendak menyaksikan gelaran World Superbike (WSBK) bulan ini, di Sirkuit Mandalika. ”Semua hal-hal ini harus kita perhatikan,” tegasnya.
Meski begitu, semua rencana masih dalam posisi tentatif. Semua kemungkinan pasti ada. Bertahan dengan PTM terbatas atau melangkah maju ke PTM penuh.
”Semuanya masih bisa berubah, tergantung bagaimana kondisi daerah kedepannya. Sambil PTM terbatas ini akan terus kami evaluasi,” pungkas Muliawan. (Dhw/robhin)






