BLITAR – Kurangnya informasi tentang Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium yang tidak diperjual belikan lagi, serta kefanatikan warga pada BBM premium yang lebih menguntungkan, menjadi celah pelaku pemalsuan BBM warga Binangun Blitar yang merubah BBM jenis pertalite ke premium.
Mr X, satu di antara warga Kecamatan Binangun Blitar yang tidak mau disebutkan namanya mengaku tertipu karena sebelum pelaku pemalsuan BBM jenis premium ditangkap polisi ia dan beberapa warga Binangun lainnya selalu menggunakan BBM premium yang diperjual belikan di toko-toko kelontong sekitar rumahnya.
Menurutnya, harga pertalite di daerahnya memang lebih murah daripada premium. Namun karena sudah fanatik dengan premium, maka warga tetap membelinya meski harganya lebih mahal dari pertalite.
Selain itu, ia juga mengaku kurang mengetahui jika BBM jenis premium sudah tidak keluar lagi di pasaran. Sehingga ia dan beberapa warga Binangun lainnya tetap percaya BBM jenis premium (yang ternyata palsu) itu, meski warnanya memang agak berbeda atau lebih mencolok dari aslinya.
Hingga saat ini, kata dia, tidak ada efek apapun dari kendaraannya yang selalu diberikan BBM premium palsu itu.
AKBP Adhitya Panji Anom, Kapolres Blitar membenarkan di wilayah Binangun mayoritas warga masih fanatik dengan BBM premium sehingga meski harganya lebih mahal dari pertalite, warga Binangun tetap memilih BBM premium yang dirasa lebih nyaman untuk kendaraannya.
Ia menjelaskan penjual BBM jenis premium palsu ini memberikan list harga yang terpampang di luar tokonya. Di antaranya Pertamax Rp 14 ribu, Pertalite Rp 10 ribu & Premium (palsu) Rp 12 ribu.
Karena kefanatikan warga dengan BBM premium dan kurangnya informasi terkini terkait premium yang sudah tidak keluar lagi, lelaki inisial ES (54) warga Desa dan Kecamatan Binangun pelaku pemalsuan BBM ini mencari peluang untuk memalsukan BBM yang awalnya berjenis pertalite menjadi jenis premium karena harganya yang lebih mahal di wilayahnya dan lebih menguntungkan [red]
Editor : dhw_robhin
