LUMAJANG – Hari ini, jumat, 19 Nopember 2020 bertempat di areal lahan kelompok tani Adil Makmur, Desa Kabuaran Kecamatan Kunir, diadakan proses ubinan demplot oleh dinas pertanian terhadap padi jenis sertani seluas 0,47 Ha yang menggunakan Pupuk Organik Cair (POC) SARI LUHUR.
Hal ini dilaksanakan untuk memenuhi kaji terap, sebagaimana di instruksikan oleh Bupati Lumajang pada 2 oktober 2020.
Tampak hadir dalam kegiatan ini seluruh petugas penyuluh pertanian kecamatan Kunir dan anggota kelompok tani yang bersangkutan.
Dalam analisa yang disampaikan oleh koordinator PPL kecamatan Kunir, Tri Putranto, menurutnya bahwa panen saat ini sangat bagus apalagi diluar musim kebiasaan di kecamatan Kunir, lahan padi ini satu satunya yang ada di hamparan ini, idealnya padi ini harusnya tidak di panen pas di musim hujan sehingga panen lebih optimal.
Dari sample ubinan seluas 2,5 x 2,5 M2, didapatkan hasil 3,37 Kg, ini artinya potensi hasil 5,6 ton per hektar, dengan anakan produktif rata rata 19 dan per rumpun ketemu 147.

Dirinya optimis potensi hasil panen petani makin optimal, dia mengharapkan kepada petani mau mencoba pupuk ini sebagai solusi mahalnya pupuk non subsidi.
Di kesempatan terpisah ketua kelompok tani berharap pada anggotanya pindah cara bertaninya menggunakan pola pemupukan organik ini.
Sementara S. Budi Santoso, selaku perwakilan dari Sari Luhur menegaskan, bahwa sari luhur optimis akan mengganti pupuk kimia yang ada di Lumajang, dan dia akan menyempurnakan dan menyesuaikan , sehingga biaya Saprodi bagi petani dapat diminimalisir.
“Kami secara bertahap juga menyesuaikan mesin mesin produksi, sehingga nantinya biaya per hektar untuk pupuk ini kisaran dibawah 1 juta, sehingga petani kita mampu menekan biaya produksinya,” Ujar Budi Santoso.

Disisi lain ketua HKTI Lumajang, Iskhak Subagio, berpesan agar petani berubah cara pemupukannya dengan pola pemupukan organik, yang menurutnya lebih murah dan hasilnya optimal.
Disinggung mengenai kasus pupuk dari sampang yang masuk ke Lumajang, Iskhak menghimbau untuk stop mempermainkan pupuk subsidi karena berdampak langsung petani, apalagi untuk urea hari ni persak 50 kg harganya sudah tembus Rp 500 ribuan, jelas petani tidak akan sanggup membelinya, dia menghimbau agar semua yang terlibat dalam distribusi pupuk subsidi untuk berhenti mempermainkan pupuk subsidi.
“Harapan kami satu, pupuk subsidi sampai di petani dengan pola 6 (enam) tepat dan jangan ada dusta antara pihak pihak terkait, sehingga petani terlindungi dan tidak terdzolimi,” tegasnya.
Pemilik lahan ibu rusmini, Spd, SP menyatakan pemakaian pupuk organik ini menghemat biaya hingga 30% karena sudah tidak memerlukan pestisida apapun Alhamdulillah saya sudah 3 musim menggunakan pupuk organik ini, walau tantangan nya sangat berat yaitu dari pengedok dan pembanyonnya, tapi semua dikomunikasikan dengan baik karena misi saya memperbaiki kesuburan tanah demi anak cucu kita nanti
Sementara Hariyanto, selaku ketua kelompok tani menyambut baik kegiatan ini, dia berharap dapat dilibatkan dalam melaksanakan program “Lumajang Bumi Organik”, acara ditutup dengan acara makan bersama di tepi sawah, yang menunjukkan keakraban petani dengan petugas. (M Efendy)






