Kirab Budaya 19 Kelenteng se-Jawa Bali di Banyuwangi Buktikan Kebhinekaan Masih Di Junjung Tinggi

851 0

Gempur News – Indonesia – Propinsi Jawa-Timur – Kabupaten Banyuwangi. KABAR DAERAH. Ketika NKRI Jadi Harga Mati, Kebinekaan Seakan Mendarah Daging di hati. hal ini mungkin menjadi sesuatu yang tak lagi asing di bicarakan. terkait kian maraknya pelanggaran – pelanggaran hukum yang kian mengancam kedaulatan NKRI.

Semboyan NKRI harga mati kini menjadi sebuah hal yang tidak akan luntur bagi masyarakat indonesia. tidak terkecyali daerah ujung timur jawa.

Banyuwangi, keragaman budaya dan adat istiadat yang masih kental, berpaduan dengan iringan ragam keseniannya. membuat daerah ini kental akan festifal budaya. namun daerah yang di kenal sebagai basis agama islam ini, ternyata di dalamnya juga masih terdapat banyak kepercayaan – kepercayaan yang beragam.

Hal ini yang membuat toleransi agama begitu tinggi. terbukti bila di banyak daerah, kepercayaan minoritas, acap kali tertutup publik, sangat beda dengan keberadaan kepercayaan minoritas di Kabupaten Banyuwangi yang sangat menjunjung tinggi perbedaan atau lebih umum kita kenal kebinekaan.

Hal ini terbukti, di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas. yang membuka lebar-lebar hubungan lintas agama. bahkan wujud dari dukungan itu nampak dari setiap kegiatan antar agama. gotong royong antar umat menjadikan sekecil apapun kegiatan agama menjadi festival rutin tahunan. hal ini yang mencerminkan sikap kebhinekaan telah mendara daging di hati rakyatnya

Sabtu lalu (17/3/2018), pelataran Klenteng Hoo Tong Bio, di penuhi sesak ribuan peserta kirab maupun penonton. Klenteng Hoo Tong Bio yang merupakan lokasi start dan finish kirab budaya Tionghoa. Seakan tak merasakan cuaca ekstrim yang membakar kulit, sekalipun di bawah terik matahari mereja harus berdesak-desaan. demi ikut meramaikan kirab budaya yang dilepas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Atraksi wisata di Banyuwangi memang kian memikat perhatian. Kali ini Banyuwangi menggelar Festival Imlek. Acara yang diisi dengan Kirab Budaya Tionghoa, diikuti 19 klenteng se-Jawa Bali dan Lombok.

Namun meski acara ini baru saja masuk dalam Banyuwangi Festival. tidaklah kalah meriah dengan festival- festival lainnya. dengan menampilkan arak-arakan barongsai, liong barongsai, dan Kim Sing. dengan jumlah patung yang diarak sebanyak 21 patung.

Semarak dalam memperingati, peringatan memperingati bertahtanya Kongco Tan Hu Cin Jin di Klenteng Hoo Tong Bio yang ke-234 th. Tan Hu Cin Jin merupakn leluhur yang menyelamatkan orang Tionghoa di Blambangan. di ikuti ribuan warga tionghoa dari seluru penjuru daerah menjadikan pesona festival ini sangat memukau. pasalnya kepercayaan yang hampir sekian lama tertutup publik kini membuka diri dengan kemegahannya

Susana menjelaskan kirab tersebut merupakan upacara ritual dengan tujuan agar masyarakat khususnya di Banyuwangi mendapatkan kesejahteraan, negara lebih makmur, dijauhkan dari marabahaya serta musim sesuai dengan waktunya.

“Jika musim penghujan ya hujan turun, jika musim kemarau ya panas karena jika semua sesuai dengan siklus maka pertanian akan subur dan berlimpah. Itu juga yang kita harapkan,” jelasnya.

Sebelum kirab dimulai, patung Kongco Ta Hu Cin Jin dan pengawalnya diletakan tandu yang dipenuhi dengan bunga. Lalu pintu utama klenteng ditutup rapat dan diletakkan Hu atau kertas jimat tepat di depan pintu. Menurut Susana, hal tersebut dilakukan karena pemilik rumah yaitu Kongco Ta Hu Cin Jin keluar untuk dikirab sehingga klenteng dalam keadaan kosong.

“Hu ini berfungsi untuk menolak bala dan marabahaya,” jelasnya. Bupati Anas mengatakan sangat mengapresiasi inisiatif warga Tionghoa Banyuwangi yang menginisiasi event ini. Bagi Anas, ini menunjukkan antusiasme seluruh warga yang ingin memajukan Banyuwangi.

Anas juga mengatakan festival di Banyuwangi bisa sebagai alat untuk mendorong solidaritas, kebudayaan, toleransi, tradisi dan inklusivisme. “Festival ini bisa menjadi penguat untuk menumbuhsuburkan toleransi antar umat beragama untuk bersama-sama membangun daerah,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Komda Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Jawa Timur, Go Se Kian, menjelaskan bahwa kirab ini juga sebagai upacara tolak bala untuk meminta keselamatan bagi seluruh warga Banyuwangi. “Hari ini kita melakukan kirab Kim Sing keliling kota untuk mengusir hawa-hawa negatif, agar seluruh umat dan warga Banyuwangi sehat sejahtera,” ujarnya.

Pemimpin umat di TITD Jawa Timur ini juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemkab Banyuwangi yang telah menjadikan tradisi kirab budaya ini sebagai salah satu agenda Banyuwangi festival.

“Dengan difestivalkannya kirab budaya ini kami merasa tersanjung. Ungkapan ini tidak hanya datang dari warga Tionghoa Banyuwangi, tapi dari seluruh umat Hoo Tong Bio yang hari ini hadir memeriahkan festival. Terima kasih Banyuwangi” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu wisatawan, Prasetyo (42), warga Tionghoa asal Surabaya yang mengaku hadir di kelenteng sejak pagi. “Sebenarnya sering lihat arak-arakan Kim Sing semacam ini. Tapi di Banyuwangi ini beda, lebih menarik karena dikemas dalam festival. Apalagi saya sering mendengar cerita tentang Banyuwangi, makanya saya tertarik datang langsung ke sini,” kata Prasetyo.

Tak ketinggalan, peserta kirab Hendi Kang Prabowo dari Kelenteng Po Hwa Kong, Lombok yang juga merasa bersemangat. “Dengan jadi peserta kirab hari ini, saya merasa senang bisa terlibat di salah satu event Banyuwangi Festival. Apalagi barongsai ditampilkan bareng dengan Barong khas Banyuwangi, ini menarik sekali,” kata Hendi. (*/Seagate)

Related Post