BPBD Lumajang Minta Masyarakat Tetap Tenang

0
15

LUMAJANG – BPBD Kabupaten Lumajang, Jawa Timur meminta masyarakat di wilayahnya tetap tenang dan tidak panik terkait pemberitaan tentang aktivitas Gunung Semeru yang meningkat.

Menyusul aktivitas Gunung Semeru meluncurkan lava pijar dari Kawah Jonggring Saloko selama dua hari.

Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan dan Logistik BPBD Kabupaten Lumajang Wawan Hadi Siswoyo mengatakan bahwa Gunung Semeru masih dalam status Waspada Level II.

“Kami harapkan masyarakat Lumajang untuk tetap tenang, tidak usah panik dan resah, karena sesuai dengan laporan, aktivitas gunung api dari Pos Pantau Gunung Sawur menyebutkan Gunung Semeru tidak meletus, karena saat ini masih dalam status Waspada Level II,” ujar Wawan Hadi Siswoyo di kantornya, Senin, (30/11/2020), seperti dikutip dari Antara.

Dia menuturkan, hasil pendeteksian alat seismograf (perangkat yang mengukur dan mencatat gempa bumi) di Pos Pantau Gunung Sawur menyebutkan memang terjadi gempa tremor harmonik, letusan, hingga guguran lava pijar di puncak Gunung Semeru sejak Jumat, 27 November 2020.

“Gunung Semeru tidak meletus, tetapi memang terjadi letusan mulai Jumat 27 November 2020 dan memang mengeluarkan lava pijar yang mengarah ke areal Curah Kobokan sebanyak 13 kali dengan jarak luncur dari lidah lava/puncak sekitar 500-1.000 meter,” tuturnya.

Gunung Semeru erupsi mengeluarkan guguran awan panas dari kawah pada Jumat, 17 April 2020 (PVMBG)

Ia mengatakan, luncuran lava pijar tersebut masih jauh dari permukiman, hutan maupun area KRB (Kawasan Rawan Bencana) I, II dan III di Gunung Semeru, tetapi warga diimbau untuk tetap waspada.

“Saya mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km, dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru sebagai alur luncuran awan panas,” ujar dia.

Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai gugurnya kubah lava pijar di Kawah Jongring Seloko, sehingga BPBD Lumajang terus berkoordinasi dengan pihak perhutani dan TNBTS. Jal ini karena dikhawatirkan nanti luncuran lava pijarnya itu akan semakin panjang.

“Luncuran lava pijar itu dapat menyebabkan adanya kebakaran lahan dan hutan yang ada di lereng Gunung Semeru seperti beberapa tahun lalu,” ujar dia.

Wawan mengatakan pihaknya terus berkoordinasi secara intens dengan pihak Perhutani dan TNBTS, dengan saling memberikan informasi melalui jaring komunikasi untuk melaporkan setiap saat perkembangan hutan maupun aktivitas Gunung Semeru.

Sementara itu, pendakian ke Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mdpl ditutup sementara sejak 30 November 2020 karena aktivitas gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur tersebut mengalami peningkatan.

Penutupan jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa itu dikeluarkan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) telah mengeluarkan Surat Pengumunan Nomor : PG.10/T.B/BIDTEK.1/KSA/11/2020 tentang Penutupan Sementara Kegiatan Pendakian Gunung Semeru.( red)