BANYUWANGI – Pantai Cacalan adalah salah satu destinasi wisata di Kabupaten Banyuwangi yang dikelola oleh masyarakat sekitar.
Dulunya Pantai Cacalan adalah pantai yang sepi, hanya beberapa nelayan yang singgah dan memarkirkan perahu di pantainya.
Masriyah (55) adalah salah seorang warga Sukowidi yang membuka warung kecil di Pantai Cacalan sebelas tahun yang lalu.
Kala itu ia menjual kopi untuk nelayan yang berangkat melaut atau sedang memperbaiki jaring di sekitar pantai.
Masriyah bercerita bahwa cuma dirinya sejak dulu yang berjualan kopi di tempat ini.
“Dulu belum ada apa-apa. Kosong semua. Cuma saya yang jualan di sini,” kata Masriyah.
Tak hanya siang hari. Masriyah juga melayani kopi dan jajanan saat malam hari Tak jarang ia dan suaminya memilih tidur di gubuk kecilnya.
Untuk penerangan, Masriyah menyalur listrik dari rumah warga terdekat.
“Yang penting ada cahayanya. Sinar lampunya kecil soalnya nyalur. Kan pelangganya nelayan. Mereka banyaknya malam,” kata Masriyah.
Ketika kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Pantai Cacalan mulai dirintis, kegiatan demi kegiatan mulai sering digelar.
Seperti tradisi Rabu Wekasan dan lomba layang-layang di Pantai Cacalan bekerja sama dengan PLN UP3 Banyuwangi.
Sejak saat itu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Pantai Cacalan mulai bertambah.
Hanya saja saat pandemi Covid 19, kunjungan wisatawan ke Pantai Cacalan menurun drastis. Namun keadaan tersebut membaik sejak penerapan new normal.
Hari ini Masriyah masih berjualan kopi di tepi pantai. Ia mengaku perubahan Pantai Cacalan menjadi destinasi wisata di Kabupaten Banyuwangi berdampak besar bagi perekonomian keluarganya.
Sedikit demi sedikit, ia bisa memperbaiki warungnyanya menjadi lebih baik. Ia juga mempekerjakan 3 orang membantu mengelola warungnya.
“Semoga pandemi segera berlalu terus banyak wisatawan lagi yang datang. Amiin,” pungkas Masriyah. (ist)






