Oleh: Sony
Seperti biasanya, Arman bangun pagi lebih dulu, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan pagi dan memasak air untuk ibunya.
Sejak dua tahun terakhir ibunya mengalami sakit sakitan sejak ditinggal sang suami menghadap sang Khaliq.
Tulang punggung keluarga menjadi tanggungjawabnya, sampai Arman harus merelakan berhenti sekolah karena tidak memiliki biaya.
Setelah pekerjaan rumahnya selesai, Arman bergegas mengambil gitar yang sudah usang, kemudian berpamitan kepada ibunya yang masih tiduran di sebuah dipan dari bambu yang sudah tua, buatan mendiang ayahnya.
Mbok, Arman berangkat ya, doakan dapat rejeki yang banyak, sambil mencium tangan ibunya dan memeluknya.
Nampak air bening meleleh dari pelupuk mata sang ibu, dengan mulut gemetaran ibunya mengusap rambut arman lalu memeluknya erat penuh kasihsayang.
Jangan lupa sarapan ya mbok, sudah Arman siapkan makanan di meja tengah, ibunya hanya mengangguk.
Dengan berat hati, Arman harus melangkah meninggalkan ibunya yang sakit sendirian, dengan berbekal gitar Arman menyusuri gang dan demi gang dikampung sebelahnya.
Sementara teman teman sebayanya, memakai seragam warna putih abu abu untuk mengikuti pelajaran disekolah masing masing.
Hatinya, merasa iri melihat keadaan ini, akan tetapi baginya kesembuhan ibunya segala galanya, dan harus diperjuangkan.
Gitar Arman berdenting dari rumah kerumah, uang recehan mulai didapatkan dari hasil mengamen.
Diujung jalan kampung, berdiri rumah megah, Armanpun seperti biasanya memetik gitarnya didepan tersebut, tetapi alangkah terkejutnya Arman ketika seorang lelaki keluar dari pintu garasi dan menyodorkan uang.
Arman hampir merasa malu dan hampir lari untuk menghindari pertemuannya dengan sang tuan rumah tersebut.
Man,… kesini, ujar lelaki tersebut yang ternyata dia adalah kepala sekolahnya waktu sekolah di SMP.
Arman diajak masuk kerumah, sambil minum teh hangat dan makan makanan kecil, obrolan panjang pun terjadi.
Sebelum pulang, Arman dikasih amplop warna coklat dan beberapa bungkus sembako.
Man, ini ada rejeki sedikit, bisa untuk membantu pengobatan ibumu, terus berjuang man, ujar lelaki parobaya tersebut, Arman hanya diam, lalu pamit pulang.
Diperjalanan, Arman tidak sadar menitikkan air mata, atas kebaikan guru yang telah memberikan banyak ilmu dan pelajaran hidup baginya.
“Assalamualaikum,” suara Arman mengetuk pintu dengan pelan.
Agak lama jawaban baru terdengar dari dalam rumah.
Dipeluknya ibunya yang duduk dikursi sambil menikmati makanan buatannya sejak pagi.
” Mbok, Alhamdulillah, tadi ketemu bapak Joko kepala sekolah, dan diberi uang cukup banyak untuk berobat,” ujar Arman.
Pecah tangis sang ibu, atas perjuangan buah hatinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang seharusnya masih sekolah bersama teman sebayanya.
“Nggak le, mbok sudah sehat, kamu simpan saja uang itu,” ujar ibunya.
Ibunya melangkah tertaih tatih, mendekati sebuah almari tua tempat menyimpan pakaian dan barang lainnya.
” Man, ini barang berharga buat mbok, cincin kawin dari bapakmu, mbok hanya bisa ngasih ini, pakailah le, ini sebagai ikatan sakral keluarga kita,” ujar ibunya sambil masukkan cincin ke jari manis Arman.
Arman merasa senang, mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, sebuah cincin yang mengikat lahir bathin orangtuanya dalam mengarungi suka-duka rumahtangga.
Sehabis sholat dhuhur, ibunya berpamitan tidur, dan Armanpun duduk diteras memandangi cincin dan menciumnya.
Sungguh luar biasa, sebuah kekuatan yang tidak bisa ditembus dengan fitnah, prahara, bencana, akan tetapi keluarganya tetap utuh dalam kehidupan damai meskipun sangat sederhana.
Menjelang sore, suara adzan dari mushola terdengar dengan jelas, para tetangga mulai bergegas untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Sementara ibunya masih tertidur pulas dikamarnya, dan armanpun bergegas untuk membangunkan ibunya.
Mbok, bangun mbok, sudah magrib, suara Arman pelan pelan sambil sedikit menggoyangkan kaki ibunya.
Akan tetapi tidak ada jawaban dan reaksi dari ibunya.
Arman tetap dengan sabar dan penuh kasihsayang, membangunkan ibunya, akan tetapi suasana tenang tersebut berubah menjadi ramai dengan jerit tangis Arman.
Suara tangisan Arman, didengar seluruh jamaah dari mushola, sehabis sholat warga masyarakat mendatanginya, ternyata didapat Arman sedang memeluk ibunya yang sudah tidak bernyawa.
Kabar kematian ibunya cepat menyebar ke seluruh penghuni kampung, dan malam itu juga ibunya dimakamkan didekat makam umum yang tidak jauh dari rumahnya.
Satu Minggu sudah berlalu, Arman sering merenung diteras sendirian, merenungi perjalanan hidupnya, dan mengenang kekuatan cinta orangtuanya yang begitu dahsyat, hanya kematian yang bisa memisahkannya.
Arman telah mendapatkan sebuah cincin mutiara yang sangat berharga, tetapi dalam hatinya ada yang lebih berharga dari itu, sebuah mutiara abadi telah meninggalkannya, yakni kepergian seorang ibu.






