LONCENG

1309 0

Oleh : Sony

Pagi itu suasana nampak sepi, para penghuni dusun enggan keluar rumah, mereka lebih memilih menikmati sejuknya udara pagi, dengan hembusan angin yang diiringi hujan rintik rintik.

Sementara sebagian para pemuda dusun tersebut, harus tetap melangkah menembus hujan yang sejak subuh belum juga reda.

Mereka para pekerja perkebunan harus datang ke Loji untuk melakukan absen sebelum melakukan aktifitas dilahan milik pengusaha kaya yang menjadi tuan tanah, akan tetapi memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap warga dekat perkebunannya.

Para pekerja harus sedikit berlari untuk mengejar waktu, sebelum kedahuluan bunyi lonceng sebagai pertanda para pekerja harus sudah siap dengan tugasnya masing masing.

Sang bos, atau yang biasa dipanggil tuan Burhan, masih asyik diperaduannya dengan berselimut sutra dan penghangat lainnya, serta para punggowo yang selalu melayani apa apapun kebutuhan majikan tersebut.

Dengan usia yang sudah lanjut, sang bos tetap nampak muda dan memilik semangat yang cukup tinggi, terutama jika menyangkut tanaman yang dibudidaya diperkebunannya yang cukup luas dan subur.

Sang surya mulai menampakkan sinarnya, sementara hujan mulai reda, Burhan sehabis menikmati kopi pahit kesukaannya, serta menghisap cerutu yang selalu terselip di saku baju Koko kesayangannya.

Siang itu Burhan tidak seperti biasanya, yang selalu ditemani oleh dua orang pembantu setianya, akan tetapi saat itu dia berangkat sendirian berjalan menyusuri beberapa petak lahan kebun teh, sambil sekali waktu menyapa beberapa pekerja yang melakukan petik teh dikebun miliknya.

Waktu menunjukkan pukul 10 siang, hal itu ditandai dengan bunyi lonceng dari Loji, yang terdengar jelas meskipun jaraknya cukup jauh dari perkebunan tersebut.

Para pekerja istirahat sambil makan bontot yang dibawa dari rumah masing masing.

Burhan sang majikan terus, melangkah menyusuri petak lahan tanaman teh, sambil sesekali berhenti dan menghela nafas yang sudah mulai sesak karena dimakan usia.

Bunyi lonceng selalu ditunggu oleh para pekerja, sebagai tanda mereka harus siap siap mengusung teh yang mereka petik untuk dibawa ke Loji, sekaligus istirahat pulang.

Bunyi lonceng yang berdenting disiang hari, selalu dirindukan oleh para pekerja, dan suara itu selalu dirindukan oleh para pekerja harian tersebut.

Sementara suara yang setiap pagi dan siang berdentang, itu merupakan momok yang sangat menakutkan bagi Burhan, dan membuat dirinya lebih tunduk terhadap alam, dan berbagi rejeki dengan warga, dengan harapan dapat pengampunan dari sang pencipta.

Sambil duduk disela sela dedaunan teh yang nampak rimbun dan menghijau, Burhan merenungi perjalanan hidup sejak merintis hingga memiliki perkebunan yang cukup luas, dan dapat membuat semua keluarganya hidup mewah, tetapi dalam benaknya masih ada hal yang mengganjal fikirannya, menyangkut kehidupan dirinya yang sudah usia senja.

Dalam setiap saat, Burhan selalu resah dan tidak tenang, bukan takut kekurangan kebutuhan hidup keluarganya, akan tetapi rasa takut menggelayuti alam fikirannya, dalam menunggu bunyi lonceng.

Bunyi lonceng yang ditunggu Burhan, bukan bunyi yang selalu ditunggu oleh para pekerja kebun, akan tetapi suara lonceng sebagai tanda lepasnya roh kehidupannya, LONCENG KEMATIAN.**

Related Post

ALAMKU SURGAKU

Posted by - 17 July 2021 0
Oleh : Dadang.K Pagi itu sang surya enggan menampakkan sinarnya, anginpun berhembus kencang menggoyang dedaunan, disertai gemericik air hujan dan…

SURYAPUN BERSINAR LAGI

Posted by - 19 October 2020 0
(Oleh: Dadang, K) Ahmad termenung disudut ruangan kelas, sambil memandangi bangku dan meja yang berantakan serta lantai yang kotor bekas…

FIRASAT

Posted by - 20 December 2021 0
Oleh: Tri Udhayana Tak seperti biasanya, malam itu cuaca berasa sangat gerah sekali, anginpun serasa enggan berhembus, menambah suasana jengah.…

Kopi Spesial Buat Sahabat

Posted by - 6 December 2020 0
Brrumm…..!!Motor Udin menderu sebelum akhirnya dimatikan di depan rumah Somat. Sontak sambil terkejut, Somat pun memandang si Udin yang menyeringai.…

KEJUJURAN

Posted by - 9 October 2021 0
Oleh: AB Udayana Angin berhembus dari selatan menyibak rambutnya yang tergerai sebahu, senyum manisnya seakan tak pernah lepas dari bibir…