Misteri Sumur Tua

1387 0

Oleh: Tri Udayana

 Tak seperti biasanya  angin berhembus kencang dan membawa hawa dingin, jalananpun nampak lengang bagai kampung tak berpenghuni. 

Mendekati penghujung malam, terpaan angin semakin kencang dan tak terarah, lalu hujanpun turun deras sekali dan sesekali diiringi oleh petir yang menggelegar memecah malam.

Entah darimana datangnya, seketika nampak sesosok bayangan disudut jalan persimpangan desa diantara rerimbunan pohon, semula sosok itu nampak biasa saja, namun lama kelamaan sosok itu kian jelas nampak seorang lelaki tua kurus berjenggot putih hampir sejengkal panjangnya.

Walaupun penampilanya tidak menyeramkan tetapi kehadirannya akan membuat merinding.

Ditengah malam, dengan guyuran air hujan dan Sambaran petir bersautan, lelaki tua dengan tubuh kurus, berjalan terseok – seok menapaki jalanan kampung yang mulai berlumpur.

Ketika hampir mendekati perempatan makam tua, begitu saja lelaki tua itu menghilang seakan tertelan malam.

Ternyata sejak kemunculan lelaki tua tadi kang Jayus, kang Toyib dan pakde Gendon mengamati dan mengintip perjalanan sang kakek tua, rupanya mereka bertiga memang sudah merencanakan hal ini karena ingin mengungkap misteri hilangnya beberapa warga belakangan ini.

Akan tetapi mereka dikejutkan suara jeritan seorang wanita , yang diyakini suara mbah Markah istri mbah jamin.

Mbah Markah menceritakan jika suaminya, Mbah Jamin tiba tiba menghilang, anehnya sarung, kopiah dan juga baju beskap lorek mbah jamin tergeletak dilantai dapur.

Kejadian tersebut membuat penghuni kampung tersebut merasa was was, takut akan keselamatannya.

“ Gak abis pikir aku, padahal kita kuntit sedemikian dekat , kok ya bisa kecolongan.” gerutu kang Toyib.

Jayuspun meras jengkel, Ia merasa yang paling muda dan kuat tetapi tidak dapat menangkap lelaki tua yang diduga jelmaan makhluk ghaib.

”Heemm…..andai saja manusia biasa, sudah aku hajar tu orang, sudah tua peyot berani bikin heboh di kampung sini.” hardik Jayus dengan muka merah.

Para sesepuh dikampung tersebut, mbah joyo, pakde Gendon berupaya menenangkan warga, dan mereka berjanji akan mencari tau apa sebenarnya yang membuat teror terhadap warga.

 Setelah berdoa bersama, mereka berbekal senter dan tongkat pemukul juga kentongan selama kurang lebih dua jam berkeliling, sampailah pada area penyisiran terakhir yaitu makam tertua dekat sungai blabakan. 

Disana masih terhampar tanah lapang yang dulunya bekas penjemuran krupuk ketika masih ada pabrik krupuk semprong milik wan tao keh.

Bulu kuduk mulai meremang, sana – sini jalanan masih becek dan licin, mereka dikejutkan suara erangan seseorang dibalik punden makam tua , semakin dekat semakin jelas, suara laki – laki mengerang kesakitan.

Dengan berhati – hati mereka mendekat, dan kemudian.

“Masya Allah…” Pekik somat mengaetkan yang lainnya.

“Hei, ada apa mat,,? Tanya jayus keras.

” cepat kemari semua, ini mbah jamin rupanya sedang terluka,” lanjut somat sambil membungkuk menghampiri Mbah Jamin.

Beramai- ramai mereka mendekat sekaligus menerangi areal makam tua itu, maka nampak jelas kondisi mbah jamin, setelah sampai kerumah mbah jamin, para warga yang berkumpul menanti cerita mbah jamin untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.

Sebagian sabar menunggu dan memberi waktu mbah Jamin menenangkan diri juga anak dan isttinya mengobati lukanya.

Namun tidak sedikit dari mereka yang tidak sabar ingin penjelasan. Sambil duduk berselonjor, mbah jamin mulai menceritakan awal kejadian sampai dirinya terluka.

Orang – orang yang ada disitu terdiam dan manggut – manggut berfikir seolah mencari jalan keluar.

Lalu suara berat pakde Gendon memecah sunyi.

“Saudara – saudaraku, agar kita tidak lagi dihantui cerita penuh teka – teki yang jadi momok dikampung kita ini, sebaiknya nanti pagi kita sama – sama telusuri apa yang telah diceritakan mbah jamin,” pinta pakde Gogon.

 Seperti yang diceritakan mbah jamin, lelaki tua yang misterius itu menuntunya untuk mengikutinya sampai makam kuno disamping pohon kedoyo besar dengan diameter hampir satu meter setengah. 

Orang – orang hampir tidak percaya jika ternyata ada lorong kecil dibagian bawah sebelah kanan pohon menyerupai goa.

Seketika mereka harus berhenti, karena terhalangi bongkah pohon yang roboh dan pecah – pecah dan berduri, rupanya inilah yang melukai mbah jamin semalam.

Karena suasana gelap dan licin juga tanpa persiapan yang cukup apalagi medannya lumayan berbahaya
bersama – sama mereka membersihkan jalan agar bisa melanjutkan ketempat yang dituju.

Hampir satu jam sibuk, akhirnya perjalanan dilanjutkan sampai akhirnya menemukan lubang besar seperti sumur tua.

Mereka saling berpandangan sejenak, berfikir keras menduga apa sebenarnya yang terjadi, mengapa kakek misterius itu menunjukkan pada mbah jamin agar menuju tempat itu.

Diantara kemasgulan orang – orang kampung, tiba – tiba terdengar suara samar sepertinya orang bercakap-cakap.

Yang ada disitu merasa merinding walau pada pagi hari, beberapa waktu lamanya berdiam, akhirnya pakde punya ide.

” Coba mari kita lempar atau jatuhkan beberapa batu kedalam sumur ini, kita lihat reaksinya”.

Merekapun sepakat lalu menjatuhkan beberapa batu, tak disangka ada reaksi dari dalam sumur yang sangat mengejutkan mereka.

“Haiiiiii….adakah orang diatas sana? tolonglah kami banyak yang terluka disini,” suara dari dalam sumur itu mengejutkan sekaligus membahagiakan para warga yang datang.

“Pakde..! Bukannya itu suara kang markum? Aku kenal betul suaranya,” thoyib bicara lantang.

Meski mereka setuju, namun merekapun ragu, benarkah itu markum sesungguhnya atau yang lain?

Kembali mereka hening.

Thoyib yang merasa yakin itu sahabatnya maka ia pun mendekati bibir sumur.

“heiiiii…markuuuuum. engkaukah itu? ” teriak Thoyib.

“Hooii kang thoyib, yaaaa…aku dan kawan – kawan terluka tolonglah aku,” jawab suara dari dalam sumur.

Tak lama kemuduan mereka sibuk merakit bambu dan kayu seadanya untuk membuat tangga darurat.

Beberapa saat dalam ketegangan akhirnya muncul dari dalam sumur, markum disokong thoyib dibelakangnya.

“Astaghfirullah, ada apa sampai kalian tercebur sumur itu? ” Tanya jayus diikuti yang lain.

“Sudahlah, nanti saja tanya – tanya sekarang kita bantu yang masih didalam. ” Ujar thoyib setengah berteriak.

Ternyata sumur tua itu tadinya makam kuno jaman belanda, minggu lalu ketika kang Siman merumput disana menemukan benda aneh berupa cangkir kopi namun bertatakan emas murni, ketika tercabut cangkirnya dari tanah, seketika tanahnya ambrol hampir selutut dalamnya dengan diameter lubang kurang lebih satu meter.

Dia sangat terkejut apalagi diantara gundukan tanah mencorong sinar menyilaukan.

Begitu melihat tumpukan emas itu mereka dikelabui sifat tamak hingga tanpa sadar semua menumpuk disatu titik pusat lubang, dan merekapun mengalami naasnya.

Tanah itu jebol dan ambrol sehingga membentuk sumur.

Menurut mereka didalam sumur itu memang banyak barang-barang perhiasan, akan tetapi juga banyak tulang tengkorak berserakan.

Sosok lelaki tua yang menyelamatkan warga itupun masih misteri dan melegenda *

Related Post

SURYAPUN BERSINAR LAGI

Posted by - 19 October 2020 0
(Oleh: Dadang, K) Ahmad termenung disudut ruangan kelas, sambil memandangi bangku dan meja yang berantakan serta lantai yang kotor bekas…

MUTIARA YANG HILANG

Posted by - 2 October 2021 0
Oleh: Sony Seperti biasanya, Arman bangun pagi lebih dulu, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan pagi dan memasak air untuk ibunya. Sejak…

Kopi Spesial Buat Sahabat

Posted by - 6 December 2020 0
Brrumm…..!!Motor Udin menderu sebelum akhirnya dimatikan di depan rumah Somat. Sontak sambil terkejut, Somat pun memandang si Udin yang menyeringai.…

FIRASAT

Posted by - 20 December 2021 0
Oleh: Tri Udhayana Tak seperti biasanya, malam itu cuaca berasa sangat gerah sekali, anginpun serasa enggan berhembus, menambah suasana jengah.…

MUTIARA YANG HILANG

Posted by - 31 August 2020 0
  Pagi itu suasana langit terlihat mendung, sang surya enggan menampakkan sinarnya, sementara ocehan burung juga tak terdengar, hanya hembusan…