PROFESI MC BAHASA JAWA MASIH DIPANDANG SEBELAH MATA

455 0

Masih banyak masyarakat, terutama di kalangan kawula muda, memandang sebelah mata terhadap profesi MC (Master of Ceremony) bahasa Jawa. Padahal profesi bernuansa adat Jawa itu menjanjikan pendapatan yang tidak sedikit.

Untuk menjadi seorang MC tidak membutuhkan waktu yang lama. Cuma butuh sedikit hapalan bahasa Jawa halus. Dan punya sedikit keberanian bercuap-cuap di depan orang banyak.

Kurangnya minat anak muda menekuni profesi MC berbahasa Jawa selama ini karena adanya anggapan yg salah. Mereka mengira MC berbahasa Jawa hanya khusus digunakan di acara resepsi penganten adat Jawa. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Selain acara manten, MC berbahasa Jawa juga dibutuhkan untuk acara pinangan, khitanan, ulang tahun, peringatan hari besar, reuni, dll.

Tugas utama seorang MC untuk membawakan di suatu acara supaya berjalan lancar. Juga untuk mewakili tuan rumah menyampaikan maksud dan tujuan mengadakan acara. Di

Syarat baku seorang MC harus mampu berbicara lancar, menggunakan kata dan kalimat sederhana. Sehingga para pendengarnya mudah menerima dan cepat mengerti apa yang disampaikan.

 

untuk itu seorang MC dituntut untuk berkata jelas, berbahasa sederhana, tapi benar.

Akan merusak suasana dan memakan waktu, jika seorang MC menggunakan bahasa Jawa yg tidak dimengerti pendengarnya. Misal, bahasa keraton, bahasa kawi, yg di jaman sekarang sudah tidak dijadikan bahasa keseharian.

Sementara itu, di Kabupaten Lumajang ada seorang MC berbahasa Jawa yang sempat viral karena kepiawaiannya melakoni dunia MC. Dia bernama Muhamad Napi, penduduk Desa Dawuhan Wetan Kecamatan Rowokangkung

Kepada penulis Napi menuturkan, semula dirinya sama sekali tidak punya keinginan jadi MC. Kalau kemudian ia menjadi MC bahasa Jawa terlaris di Lumajang, itu hanya karena faktor kebetulan.

Pensiunan guru SD ini bertutur, sejak kecil dirinya senang bernyanyi, menari, dan mendengarkan lagu atau gending-gending Jawa. “Saya memang senang kesenian”, ujar Napi, yang pernah jadi pelatih bela diri Tapak Suci. Juga pelatih tari remo.Tari tradisionil khas Jawa Timur.

Suatu ketika ia diajak dalang wayang kulit Ki Hari Bawono untuk menjadi wira swara atau sinden pria. Setiap ikut pagelaran wayang kulit semalam suntuk, Napi memanfaatkan untuk belajar bahasa pedalangan.

Setelah merasa bisa berbahasa Jawa halus, Napi mulai mencoba tampil sebagai MC khusus berbahasa Jawa.

“Alhamdulillah. Setelah pertama kali tampil ngem-C di acara pengantin, saya dapat respon positif dari para undangan”, kata Napi yang alumni SPG Muhamadiyah Lumajang itu.

Menurut Napi, untuk menjadi seorang MC sebaiknya juga bisa bernyanyi. Juga harus hafal beberapa lagu dangdhut dan campursari. Ini untuk mengantisipasi apabila si tuan rumah atau tamu undangan minta dirinya bernyanyi.

“Bahkan sering tamu mengajak saya nyanyi berduet”, aku Napi, yg dikaruniai 3 anak dan 5 cucu

Selain ngem-C berbahasa Jawa, Napi juga bisa ngem-C berbahasa Madura.

Untuk jadi MC berbahasa Madura, Napi tidak perlu belajar. Karena dia memang dari keluarga Madura. Sejak kecil ia tinggal di lingkungan orang Madura

“Sehari-hari komunikasi dengan orang tua di rumah, saya pake bahasa Madura”, katanya

Ngem-C berbahasa Jawa apa Madura, tergantung permintaan orang yang mengundang. “Ada juga pengundang minta saya pake bahasa campuran Jawa-Madura”

Napi mengaku, uang dari hasil ngem-C mampu menunjang kesejahteraan keluarganya.

“Saya punya mobil juga dari hasil ngem-C”, pungkasnya.

Related Post