Sepenggal Cerita Seorang Pengungsi Kerusuhan Wamena Asal Lumajang

389 0

 

LUMAJANG Gempurnews.com. — Rochmad, salah seorang pengungsi kerusuhan Wamena saat di temui Gempurnews.com di rumahnya, di kawasan Tekung Kabupaten Lumajang, mengisahkan pecahnya kerusuhan di Wamena.

Rochmad adalah warga Lumajang yang sudah 12 tahun bekerja sebagai sopir sewaan di Wamena. Saat kerusuhan terjadi, dia sedang berada di tempat tinggalnya.

Awal kejadian, dia hanya mendengar ada kerusuhan di jalan, disusul pembakaran rumah penduduk dan pertokoan. Saat itu, dia tengah melihat ada kepulan asap terlihat membubung tinggi menghiasi langit Wamena.

Pertikaian disertai pembantaian terus berlangsung. Situasi nampak tak terkendali. Melihat situasi seperti itu, Rochmad diungsikan oleh temannya asli Wamena ke sebuah gereja.

Di sana ia bergabung dengan sekitar 80 warga pendatang lainnya, setelah itu ia dipindahkan ke Polres Jayawijaya.

Awalnya, ia tak tahu kalau puluhan pendatang di gereja itu, termasuk dirinya, ternyata hanya dijadikan sandera.

“Waktu itu tidak tahu kalau kita yang dikumpulkan digereja ini disandera, tapi akhirnya ada orang yang bilang ini nanti bapak ibu semuanya mau ditukar di Polres dengan yang tertangkap di sana ada 6 orang,” kata Rochmad

“Tetapi kalau di sana tidak dikasih lepas, otomatis di sini nanti sekitar jam 6 lebih, selesai sudah semuanya,” lanjut Rochmad meniru kata orang itu.

Pertukaran pun akhirnya terjadi, namun tempat tinggal Rochmad sudah dibakar habis. Ia tidak tahu harus bagaimana., “Waktu itu saya tidak tahu lagi harus tinggal di mana. Harta yang saya miliki sudah lenyap dilalap api. Saya bertahan dengan satu pasang baju dan telepon genggam,” ungkap Rochmad.

Sejak rumahnya terbakar dan mengungsi di Polres, Rochmad juga berpindah-pindah dari tidur di markas polisi ke rumah temannya. Meski aktivitas di Wamena berangsur pulih, namun pekerjaannya belum kembali normal. “Bandara masih sepi, yang datang sehari masih lima orang,” ujar pria berambut lurus itu.

Sebenarnya Ia ingin kembali ke Jawa, namun tak kuasa melakukannya. “Saya mau pulang, keluarga saya di Jawa menangis terus. Tapi saya mau cari uang dulu buat uang saku, itu saja.”

“Saya cuma bisa berdoa ada yang mau nolong saya sampai saya bisa pulang. Saya enggak kuat, baru kali ini saya mengalami hal pahit seperti ini. Dulu tidak pernah seperti ini,” imbuh Rochmad, sambil bibirnya menyulut rokok.

“Disana, mereka memperlakukan kita seperti binatang,” sambungnya. “Saya bersyukur masih hidup, nyawa saya bisa tertolong. Kalau ingat teman-teman yang meninggal dibakar di dalam mobil hidup-hidup, di dalam ruko, kalau ingat itu saya ingin menangis,” ujarnya trauma.

Meski merasa kalut bila mengingat kerusuhan itu, tapi Rochmad meyakini masih dipercaya jika pendatang seperti dirinya diterima di Wamena, seandainya akan kembali kesana. Untuk sementara dia mengaku tidak ada niatan kembali kesana.

“Untuk saat sekarang saya yakin masih bisa diterima.Tidak tahu nanti.” ujarnya menutup perbincangan, sambil menyodorkan secangkir kopi yang sejak tadi disuguhkan kepada Tim Gempur.

Tanpa terasa waktu beranjak sore. Matahari mulai terbenam. Lampu lampu mulai menyala. Tamu Rochmad berdatangan. Akhirnya, kami pun berpamitan. (bam/red).

Related Post