Gempur News, 25 Oktober 2024Pak Eko, Petani Pisang dari Kebonsari yang Berjuang Menempuh Pendidikan S2 di UMSIDA dengan Metode Daring

39 0

Lumajang – Di tengah kesibukannya sebagai petani pisang di Desa Kebonsari, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Pak Eko, seorang petani pisang yang penuh semangat dan gigih, sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Dengan metode daring yang digunakannya, Pak Eko berhasil mengatur waktu dan kesibukannya dalam belajar serta bekerja di ladang, menginspirasi banyak orang di sekitarnya. Pak Eko masih menjalani kuliahnya dan belum menyelesaikan studinya, namun ketekunan dan kedisiplinannya telah menjadi contoh yang menginspirasi.

Pak Eko memilih UMSIDA, yang merupakan PTS terbaik nomor dua di Jawa Timur dan kedelapan di tingkat nasional, sebagai tempat untuk mendalami pendidikan lebih lanjut. Ia berkuliah di program Magister Pendidikan (M.Pd.), di mana ia belajar tentang berbagai materi seperti manajemen mutu pendidikan, kepemimpinan, manajemen dalam perspektif Islam, serta sumber daya manusia. Meskipun pekerjaannya sebagai petani tidak terkait langsung dengan dunia pendidikan, ia yakin bahwa ilmu yang ia peroleh di bangku kuliah akan berguna untuk pengembangan diri dan masyarakat di desanya.

Metode daring yang diambil Pak Eko bukanlah metode online atau offline yang biasa dikenal, melainkan metode daring yang memberi fleksibilitas dalam mengikuti kelas tanpa harus hadir di kampus atau terikat dengan jadwal kelas online secara langsung. Dengan metode ini, Pak Eko bisa mengakses materi dan tugas kapan saja sesuai dengan jadwalnya sendiri. Ini sangat membantunya, mengingat pekerjaannya di kebun pisang memerlukan waktu dan perhatian penuh. “Saya bisa belajar di sela-sela pekerjaan, dan bisa tetap menyelesaikan kewajiban sebagai petani,” ungkap Pak Eko.

Di tengah perjalanan studinya, tantangan terus datang silih berganti. Pada saat momen pendaftaran terakhir, misalnya, ibunda Pak Eko jatuh sakit dan membutuhkan perawatan intensif. Sebagai seorang anak yang bertanggung jawab, Pak Eko tetap mendampingi ibunya tanpa mengorbankan proses pendaftarannya. Meski berat, ia berhasil melalui situasi tersebut tanpa mengabaikan kewajibannya baik sebagai anak maupun calon mahasiswa. Berkat fleksibilitas yang diberikan metode daring ini, Pak Eko mampu menyeimbangkan tanggung jawabnya di rumah dan di kampus.

Meski Pak Eko belum menyelesaikan pendidikannya, ia terus belajar tentang manajemen pendidikan, kepemimpinan, manajemen mutu, serta pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadist. Baginya, ilmu ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari dan di bidang pertanian yang ia tekuni. Pak Eko meyakini bahwa ilmu yang diperolehnya ini akan membawa banyak manfaat bagi dirinya dan masyarakat sekitarnya. “Meskipun saya tidak bekerja di lembaga pendidikan, saya yakin ilmu ini sangat berguna untuk kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengelola lahan dan usaha saya,” tambahnya.

Kisah Pak Eko menjadi inspirasi bagi warga Desa Kebonsari dan masyarakat luas. Sebagai seorang petani yang penuh tanggung jawab, ia tetap bersemangat untuk menuntut ilmu dan memperkaya diri, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan. “Saya berharap bisa terus belajar dan berkontribusi untuk desa ini. Ilmu itu penting, apa pun profesinya, selama bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan,” tutup Pak Eko dengan senyum penuh keyakinan.

Dengan tekad kuat dan metode daring yang fleksibel, Pak Eko membuktikan bahwa tidak ada batasan untuk terus belajar, meski usia, profesi, atau waktu terkadang menjadi tantangan. Pak Eko adalah inspirasi nyata bahwa semangat belajar dapat membawa perubahan positif, bahkan dari balik kebun pisang di desa yang tenang.

Related Post