MALANG – gempurnews.com //EXPOTIVE 2024, sebuah acara spektakuler yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Luar Kampus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Malang (BEM UM), sukses mencuri perhatian publik pada 11 November 2024. Berlangsung di Graha Cakrawala dan Panggung Ganesha Gedung C9 Universitas Negeri Malang, acara ini berlangsung sepanjang hari, mulai pukul 07.00 hingga 20.00 WIB. Dengan tema besar yang berfokus pada pengembangan kreativitas dan kolaborasi antara mahasiswa serta pelaku usaha kecil, EXPOTIVE 2024 berhasil menyatukan berbagai elemen yang relevan bagi mahasiswa dan masyarakat luas.
Acara ini terdiri dari empat agenda utama yang menarik perhatian pengunjung. Pertama, ada seminar beasiswa yang menawarkan beragam informasi mengenai peluang beasiswa dalam dan luar negeri, membantu para mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan mereka. Kedua, ada expo pengenalan kampus yang memberi informasi kepada mahasiswa baru mengenai program studi, fasilitas, dan layanan di Universitas Negeri Malang. Agenda ketiga adalah bazar mahasiswa dan UMKM yang menyediakan produk-produk kreatif karya mahasiswa serta pelaku usaha kecil yang ingin mempromosikan produknya kepada pengunjung.
Namun, dari semua rangkaian kegiatan tersebut, agenda keempat yakni penampilan budaya menjadi daya tarik utama yang paling ditunggu-tunggu. Di panggung budaya ini, pengunjung disuguhi berbagai pertunjukan seni, mulai dari musik tradisional hingga tarian modern. Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian penonton adalah pertunjukan tari modern oleh kelompok Dance Daizee, yang dibawakan oleh mahasiswa Pendidikan Seni Tari dan Musik angkatan 2022. Tarian ini menjadi sorotan utama berkat keunikannya dan kemampuan para penari dalam menyajikan gerakan yang energik dan penuh ekspresi.
Dance Daizee dibawakan oleh lima penari berbakat, salah satunya adalah Risma, seorang mahasiswa yang turut tampil sebagai penari utama. Dalam wawancaranya, Risma mengungkapkan asal usul nama “Daizee” yang digunakan oleh kelompok mereka. Nama “Daizee” terinspirasi dari kata “daisy,” bunga kecil berwarna putih yang sering diasosiasikan dengan kelembutan dan keindahan.
Tambahan “zee” pada nama mereka merupakan representasi dari “Gen Z,” generasi muda yang penuh inovasi dan semangat. Nama ini mencerminkan filosofi kelompok mereka, yaitu menyajikan tarian yang indah dan penuh semangat dengan sentuhan keunikan generasi mereka.
Tarian yang mereka tampilkan pada acara tersebut memadukan berbagai gaya dansa modern dengan unsur tradisional yang disesuaikan dengan tema acara. Setiap gerakan tarian mencerminkan kebebasan, kreativitas, serta semangat muda, membuat Dance Daizee sangat populer di kalangan penonton, terutama di kalangan mahasiswa yang juga merupakan bagian dari generasi Z. Keberhasilan mereka dalam menyampaikan ekspresi dan emosi melalui tarian tidak hanya berhasil menghibur penonton, tetapi juga menginspirasi banyak mahasiswa lainnya untuk lebih berani mengekspresikan diri melalui seni.
Namun, terlepas dari keberhasilan kelompok Dance Daizee dalam menyuguhkan penampilan yang memukau, ada satu hal yang menuai kritik dari sebagian penonton, yaitu kostum yang dikenakan oleh para penari. Beberapa penonton berpendapat bahwa kostum yang dipilih terlalu terbuka dan kurang sesuai untuk acara kampus yang memiliki beragam audiens. Meskipun kostum tersebut dirancang agar selaras dengan gaya tarian yang mereka tampilkan, kritik yang disampaikan tersebut menunjukkan bahwa ada harapan dari sebagian penonton agar penampilan budaya di acara kampus tetap mempertimbangkan unsur kesopanan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya lokal dan suasana kampus.
Dalam seni tari modern, penggunaan kostum yang lebih terbuka memang sering kali dianggap sebagai bagian dari ekspresi artistik yang dapat menambah daya tarik visual dan mendukung kebebasan gerakan. Namun, di sisi lain, kostum yang terlalu terbuka dalam konteks acara kampus mungkin perlu dipertimbangkan kembali agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan bagi penonton tertentu, terutama bagi mereka yang memiliki pandangan konservatif atau berasal dari latar belakang budaya yang lebih tradisional. Mengingat bahwa Universitas Negeri Malang adalah lingkungan pendidikan dengan berbagai kalangan, sebaiknya pertimbangan dalam pemilihan kostum tidak hanya fokus pada estetika, tetapi juga pada nilai kesopanan dan keberagaman budaya.
Sebagai saran, kelompok Dance Daizee dan panitia penyelenggara bisa mempertimbangkan kostum yang lebih tertutup namun tetap stylish dan sesuai dengan tema tarian mereka. Kostum yang menampilkan ciri khas tradisional dengan sentuhan modern, misalnya, bisa menjadi alternatif yang tetap menarik perhatian tanpa meninggalkan unsur kesopanan. Selain itu, dengan memilih kostum yang mengakomodasi keberagaman budaya dan pandangan audiens, penampilan mereka juga bisa lebih diterima oleh berbagai kalangan, tanpa mengurangi nilai artistik dan ekspresi kreatif yang ingin disampaikan.
Secara keseluruhan, penampilan Dance Daizee dalam EXPOTIVE 2024 berhasil memberikan nuansa yang menyegarkan di acara tersebut dan memperkaya ragam budaya yang disuguhkan. Mereka menunjukkan bahwa tarian modern tetap bisa menjadi bagian dari acara kampus yang mengedepankan nilai budaya dan kreativitas. Ke depan, diharapkan kelompok tari mahasiswa seperti Dance Daizee dapat terus berinovasi dalam menciptakan karya-karya yang unik dan berkesan, serta lebih bijak dalam mempertimbangkan elemen-elemen yang sesuai dengan konteks acara.
(Penulis) : Vilia Denisa Aprilia
Editor/Publish : (R_80)






