MALANG Gempurnews.com —
Diperoleh dari berbagai sumber, Ivan, wartawan Media Nasional Gempurnews mencoba menuliskan sejarah perjalanan singkat Gunung Kawi. Berikut laporannya:
Dahulu kala, di Pulau Jawa pada tahun 1825 terjadi perang antara rakyat yang dipimpin Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Perang Jawa atau juga dikenal Perang Diponegoro ini berakhir pada tahun 1930 setelah Pangeran Diponegoro tertangkap pasukan Belanda. Sebagian pasukan Diponegoro yang selamat menyelamatkan diri dengan berpencar, termasuk Kiai Zakaria II.
Konon ia salah satu pasukan inti Pangeran Diponegoro. Ia adalah anak Kiai Zakaria, ulama dari Kerajaan Mataram dengan nama lain Raden Mas Soeryokoesomo atau Raden Mas Soeryodiatmodjo cucu Paku Buwono I.
Kiai Zakaria II memilih mengembara seorang diri sembari menyebarkan agama Islam. Ia berjalan kaki selama bertahun-tahun mulai dari Yogyakarta, Sleman, Nganjuk, Bojonegoro sampai Blitar.
Dalam setiap perjalanannya, ia sering menolong orang-orang yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang suku atau agamanya. Baginya setiap orang yang kesusahan wajib ditolong.
Pada suatu hari, di tengah perjalanannya, ia berjumpa dengan seorang wanita Tionghoa yang sedang hamil tua. Wanita itu bercerita kalau sudah beberapa lama tidak bertemu suaminya yang pergi ke Cina. Sebelum melahirkan ia ingin menyusul sang suami ke Cina agar kelak anaknya tahu siapa ayahnya. Namun uangnya tak cukup untuk ongkos naik kapal.
“Sudilah kakek menolong. Saya ingin anak dalam kandungan ini tahu siapa ayahnya. Kelak kami tidak akan melupakan kebaikan kakek,” kata wanita itu.
“Saya hanya bisa memberikan ini, semoga cukup membantumu. Pergilah nak, supaya anakmu bisa segera bertemu ayahnya,” ucap Kiai sembari memberikan beberapa keping uang yang nominalnya banyak sisa bekal dari Mataram. Ia kembali melanjutkan perjalanan setelah wanita itu dengan perasaan haru mengucap rasa terimakasih.
Pengembaraan Kiai Zakaria II berakhir di tepi Sungai Brantas di Desa Sanan, Kesamben, Blitar. Ia berjumpa dengan seorang warga setempat bernama Tasiman yang menanyakan asal-usulnya.
Tidak ingin jati dirinya terkuak karena khawatir keberadaannya diketahui Belanda, ia menjawab, “Kulo niki sajugo (Saya ini sendirian)”. Tasiman mengira nama lelaki separuh baya itu Jugo. Sejak saat itu ia dikenal dengan nama Mbah Djoego atau Eyang Djoego.
Pada suatu hari, desa itu terkena wabah penyakit menular hingga banyak penduduk yang mati. Mbah Djoego berusaha mengobati warga yang sakit dengan ramuan jamu buatannya sembari berdoa dan upayanya berhasil. Warga menyanjungnya tetapi ia bersikap rendah diri.
“Semua ini berkat pertolongan Tuhan, saya sebagai manusia biasa hanya sebagai perantara yang memohon melalui doa,” ucap Mbah Djoego.
Kabar kehebatan Mbah Djoego yang mampu menyembuhkan penyakit menyebar luas hingga banyak orang yang datang untuk berguru dan masuk Islam. Raden Mas Iman Soedjono, cicit Hamengku Buwono I yang juga muridnya semasa di Mataram tidak luput mendengar kabar itu.
“Kami di Mataram mendengar kabar tentang seorang kakek sakti yang berhasil sembuhkan warga dari wabah penyakit menular. Kami yakin itu guru karena itu saya kemarin ingin menyusul. Masih banyak ilmu yang perlu saya pelajari. Izinkanlah saya ikut guru,” ujar Soedjono sembari sungkem di kaki Mbah Djoego.
Permintaan itu dijawab Mbah Djoego dengan anggukan sembari meminta muridnya kembali berdiri. Sejak saat itu warga setempat tahu siapa sebenarnya Mbah Djoego. Mereka kemudian begitu menghormatinya dan banyak yang menjadi muridnya.
Pada suatu hari Mbah Djoego mendapatkan firasat tentang kematiannya dan sesuai petunjuk ia harus dimakamkan di lereng Gunung Kawi Malang. Ia lantas meminta tolong Soedjono dan sejumlah warga pergi ke gunung untuk babat alas. Itulah legenda gunung Kawi, Kisah Mbah Djoego Religius dan Suka Menolong.
Tahun Baru Islam 1441 Hijriyah atau 1 Muharam dalam kalender masyarakat Jawa disebut dengan 1 Suro. Tanggal 1 Suro akan jatuh pada tanggal 1 September 2019 atau Minggu besok.
Dikutip dari berbagai sumber, 1 Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Raja Mataram Islam Sultan Agung-lah yang mengenalkan kalender Jawa tersebut.
Sebagai pemeluk Islam yang taat dan demi memperkuat Kerajaan Mataran Islam dengan tradisi Jawa dan pengaruh Islam dari kekuatan asing, dia menggabungkan penanggalan Islam yang banyak dianut oleh masyarakat pesisir dengan penanggalan Hindu atau Saka yang dipakai masyarakat Hindu Kejawen. Mengingat sejarahnya tersebut, 1 Suro dianggap sebagai hari yang sakral, sehingga sampai saat ini masih diperingati oleh masyarakat Jawa.
Ribuan pengunjung menyaksikan Gebyar Ritual 1 Suro Pesarean Gunung Kawi, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (01/09/2019) siang.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyarakat Wonosari, Gunung Kawi, selalu menggelar gebyar ritual 1 Suro dengan menampilkan beberapa kegiatan, seperti ikrar tumpeng di pesarean Eyang Djugo alias Kyai Zakaria dan Raden Mas Iman Soedjono. Dilanjutkan pembakaran sengkala, di Stadion Gebyar Suro, Gunung Kawi.
Tradisi yang selalu menarik perhatian wisatawan domestik ini menambah semangat warga sekitar Gunung Kawi untuk memeriahkannya. Salah satunya dengan menjual produk-produk hasil olahan khas Wonosari. Hal tersebut sebagai wujud syukur karena adanya dua pesarean yang bisa meningkatkan perekonomian, sosial, dan budaya masyarakat Gunung Kawi, terutama mengenai akulturasi kebudayaan.
Memperingati Tahun Baru Jawa, 1 Suro, warga sekitar Gunung Kawi Desa Wonosari Kabupaten Malang menggelar ritual serah sesaji. Mereka membawa seserahan berupa aneka hasil pertanian mulai dari ubi-ubian, buah-buahan, nasi dengan aneka lauk ke Makam Kyai Jaka Ria (Mah Djoego) dan Raden Mas Imam Soedjono yang terletak di atas lereng Gunung Kawi.
“Seserah sesaji ini merupakan ungkapan syukur warga atas kelimpahan rezeki selama ini. Mereka berharap kedepan rezeki semakin berlimpah,” kata Atok, seorang pengunjung dari Lumajang

Di Makam Kyai Jaka Ria (Mah Djoego) dan Raden Mas Imam Soedjono dilakukan doa dan pembacaan tahlil dipimpin ulama setempat. Selesai berdoa, warga kemudian berebut aneka sesaji berupa makanan dan buah-buahan. “Biar dapat berkah,” kata Sayid Jamal pengunjung asal Surabaya yang menyaksikan kejadian itu.
Upacara ini merupakan simbol akulturasi budaya dan agama, yakni budaya Jawa, Tionghoa, Islam, Hindu, Budha dan Kristen. Pengunjung dan peserta ritual berasal dari keyakinan dan budaya yang berbeda.
Kegiatan ini menyedot perhatian masyarakat luas, ribuan warga memadati Gunung Kawi.
(Ivan)


