
Sidoarjo, gempurnews.com – Birokrasi penggunaan ambulans di Puskesmas Wonoayu terkesan mbulet (ruwet-red). Akibatnya, pasien korban laka lantas meninggal gara-gara terlambat mendapatkan penanganan medis.
Diungkapkan salah seorang keluarga korban laka lantas. Setiap hari Minggu mobil ambulans Puskesmas Wonoayu hanya tidak dioperasikan karena ketiadaan sopir. Akibatnya, mobil ambulans hanya terparkir meski ada keadaan darurat.
Hal ini tentu tak sepadan dengan berbagai penghargaan yang diterima Pemkab Sidoarjo selama ini.
Seperti diketahui, visi dan misi Puskesmas sebagai pelayanan utama kesehatan masyarakat jelas tercederai pasalnya Pemkab Sidoarjo selalu menggelontorkan dana yang tidak sedikit dalam melayani kesehatan masyarakat.
Soal misi mobil ambulans yang selalu menangani keadaan darurat dan cepat, nampak tidak diberlakukan di Puskesmas Wonoayu ketika Hari Minggu.
Hal ini dikeluhkan keluarga korban laka yang dibawa ke Puskemas Wonoayu. “Pasien Munadi (50)warga Desa Wonoayu RT 03 / 02 cidera serius akhirnya tewas tak tertangani karena lambatnya penanganan akibat mobil ambulans Puskesmas Wonoayu waktu itu lama menunggu dan masih cari sopir untuk merujuk pasien ke RS Anwar Medika” ujar Achmad Soleh Keluarga korban.
Dari informasi yang terhimpun tidak bisa operasinya ambulans Puskesmas Wonoayu ketika itu beralasan tidak ada supir ketika hari Minggu, sehingga nggak bisa layani pasien meskipun dalam keadaan fatal darurat, “Hari Minggu ambulans libur dan bisa ditelpon driver,” ujar Budiono, Humas Puskesmas Wonoayu.
Lain lagi alasan Kadinkes Sidiarjo Dr Syaf Satriawarman, Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, bahwa Puskesmas Wonoayu tak mampu bayar supir ambulan.
“Kalau kita teriak-teriak Puskesmas katanya boleh BUUD yaa tetep harus gaji ke BUUD. Kalau bebannya ke BUUD ada keterbatasan pembiayaan gaji pokok. laa iku tek’e sopo kate bayari digawe urunan (lha itu siapa yang akan bayar patungan-red) nanti ditangkap polisi. Tidak boleh iyakan?,” kata Syam. (yuli)


