LUMAJANG – Forum Jurnalis Independen Nasional Lumajang (F-JINLU), gelar diskusi internal anggota dengan tema “Mikul Duwur Mendem Jero”, bertempat di Sekretariat utama Jalan Iptu Jama’ari Gg 3 No 08, atau tepatnya di warung Kopi Cak Imam, Rabu (4/11).
Ketua F-JINLU Moch Misdi menyampaikan, kegiatan ini diikuti semua anggota aktif, ditambah komunitas lain termasuk para sesepuh kampung sebelah, yang sengaja diundang.
“Kami sengaja mengundang sesepuh untuk memberikan fatwa yang merujuk pada pentingnya saling menghormati antar sesama teman seprofesi,” kata pria berperawakan subur tersebut mengawali acara diskusi.
Pada kesempatan yang sama, Penasehat F-Jinlu, Prio Suwoko memperjelas tujuan digelarnya kegiatan rutinan ini sekaligus sebagai pembekalan internal agar bisa saling hormat menghormati sesama teman.
“Diskusi kecil semacam ini tentunya sudah sering kita lakukan. Namun kali ini dengan kesadaran diri kita berbicara mengenai nilai nilai yang berlaku universal, yaitu saling memberi rasa hormat antar sesama,” kata Prio Suwoko, lelaki dari Candipuro yang sudah lama menjadi wartawan DOR.
“Mikul duwur mendem jero sebaiknya dimaknai sebagai bentuk rujukan cara penghormatan kepada orang yang dianggap patut untuk dituakan,” imbuh Woko.
Namun ungkapan mikul duwur mendem jero tersebut kemudian diperluas maknannya dengan value yang berangkat dari realitas praksis dan operasional.
Mbah Kardji, salah satu sesepuh peserta diskusi menjabarkan lebih mendalam terkait makna mikul duwur mendem jero, ia menuturkannya dengan bahasa jawa.
“Mikul duwur mendem jero, artine paring panghormatan maring kanjeng sinuwun iku kelawan mikul tandu sebahu, maknane yo kuwi ora ole mung sejinjing nduwur lutut,” ujar Mbah Kardji dengan suara yang sedikit parau.
“Ibarat nduduk kuburan mung sajeroning sak meter, ojo ojo iku malah dianggep perilaku kurang ajar. Iso iso wong kampung podo ngamuk. Paling ora nduduk kubur iku yo sak meter setengahanlah. Luwih jero yo luwih apik,” terang Mbah Kardji.
Diskusi ini berlangsung santai dan tenang, hingga sampai akhirnya berkembang pada urusan norma paguyuban kelompok profesi yang berbasis media.
Sebagai komunitas, F-JINLU, masih kata Mbah Kardji, harus juga berlaku sebagai kelompok sosial yang berbasis ikatan batin dan punya relasi timbal balik diantara sesamanya.
Sama seperti urusan pemakaman bagi mereka yang terjangkit positif Covid-19 atau suspek, yang sekarang malah diambil alih oleh lembaga formal.
Persoalan itu kini menjadi rumit, malah kemudian mengemuka dalam realitas media, sebatas gambaran seolah ada dispute soal status medis. Pihak keluarga tak mau menerima fakta bahwa almarhum “terkonfirmasi positif”, setidaknya suspek .
Namun, karena diyakini jenasah itu positif atau suspek dan berpotensi menjadi carrier virus, pemakaman itu kemudian harus ditangani oleh lembaga resmi, dilaksanakan dengan SOP resmi pula.
“Tahapan berikutnya, Jenasah dibungkus plastik, dimasukkan dalam peti berlapis plastik, peti dipaku lalu dilapisi plastik lagi. Setelah itu, dikubur secepat mungkin. Nah itu yang sekaranga jadi perbincangan to?,” urai Mbah Kardji.
Lalu, enteng saja tim penguburan yang menjadi wakil dari kelompok formal itu membawa jenazah ke liang kubur. Seolah tanpa empati, tanpa doa-doa dan tanpa untaian bunga bunga jenazah. Pokoknya, angkut lalu ‘’blung” saja, masuk ke liang kubur. Tak kenal ini itu, tak ada relasi timbal balik. Yang penting cepet selesai, lalu lapor ke atas : ‘’Boss, selesai”.
Diakhir diskusi, disampaikan bahwa istilah mikul duwur mendem jero itu kini seolah sama sekali sudah tidak berlaku lagi. “Celakanya, basis sains-nya juga remang. Buat apa jenazah harus dibebat plastik mirip seperti mumi?,” pungkas Mbah Kardji sambil mengangkat alis matanya. (tim)


