Polres Barut Amankan Warga Diduga Mencuri Buah Sawit Dan Pengrusakan Kantor PT. AGU

0
7

BAROTO UTARA -Kantor Kemitraan PT. Antang Ganda Utama(AGU) yang dibawah naungan PT.Dhanistha Surya Nusantara(DSN) menjadi korban amukan sekelompok warga Desa Pandran Raya, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito Utara, Kalteng Sabtu (14/11/20).

Selain pengrusakan kantor, sekelompok warga tersebut, juga merusak beberapa fasilitas lainnya seperti peralatan elektronik komputer dan kendaraan roda empat milik PT.AGU serta sempat menahan manager kemitraan didalam ruangan kantor.

Mereka menahan manager kemitraan dengan maksud, untuk menukarkan dengan 16 orang warga yang sudah ditahan oleh pihak kepolisian.

Manager SSL PT.DSN Group, Said Abdullah didampingi General Manager DSN Group, Raju Wardana serta Norman Putra di Kantor PWI Barito Utara menjelaskan, bahwa penahanan 16 orang warga Desa Pandran Raya tersebut bukanlah atas laporan dari PT.AGU.

Menurutnya, penangkapan 16 orang warga Desa Pandran Raya,ketika pihak Kepolisian sedang melakukan patroli diwilayah perkebunan Sawit PT.AGU tersebut dan melihat adanya aktivitas warga, dilahan yang sudah disepakti pada saat mediasi di Polres Barito Utara yang tidak boleh dilakukan pemanenan.

“Kami tidak ada melaporkan warga yang melakukan aksi pencurian tersebut, namun dilahan tersebut sudah disepakati bahwa tidak boleh ada aktivitas pemanenan maupun lainnya, sehingga anggota kepolisian yang sedang patroli didaerah tersebut, melihat adanya aktivitas pemanenan tandan kelapa sawit oleh warga, mereka langsung diambil tindakan hukum dengan mengamankan sejumlah warga tersebut,” ungkap Said,Kamis (19/11/20).

Said juga menyampaikan, bahwa aksi pencurian TBS dilahan PT.AGU juga sudah sering dilakukan oleh oknum warga sejak empat bulan yang lalu sehingga perusahaan mengalami kerugian sampai miliaran rupiah.

Sementara itu, Sekretaris Kelompok Tani Kebun Lolo, Bahana Edwin mengungkapkan bahwa pada saat kejadian pengrusakan fasilitas kantor kemitraan tersebut, pihaknya sedang ada pertemuan di Desa Sikan, sehingga tidak mengetahui atas adanya pengrusakan tersebut.
“Baru pada malam harinya sehabis kejadian, kami mendapatkan kabar mengenai adanya peristiwa pengrusakan terhadap kantor kemitraan perusahaan tersebut,” terang Bahana. 

Atas peristiwa tersebut, aparat dari Polres Barito Utara menahan 16 orang oknum warga termasuk lima orang anak masih bawah umur,yang dibawa untuk diperiksa di Polres Barito Utara, sedangkan lima orang anak tersebut dipulangkan,sehingga tinggal 11 orang ditahan. 

Kepala Bidang Humas Polda Kalimantan Tengah Kombes Hendra Rochmawan, Senin (16/11/20)lalu membenarkan, bahwa polisi sedang menangani masalah di Desa Pandran Raya.”Berdasarkan penjelasan dari pihak Polres, lahan tersebut secara sah milik PT.AGU. Karena legalitasnya sah ada HGU di situ. Perusahaan sudah melakukan edukasi dan memberikan informasi tentang masalah ini,”jelas Hendra.

Ada pihak oknum warga desa Pandran Raya,yang diduga melakukan pemanenan buah kelapa sawit di Blok M Estate Pandran, sehingga polisi mengambil langkah dan tindak hukum terukur disana,yang dilakukan secara profesional. 

Dilokasi kebun sawit ini, tempat kejadian perkara (TKP) merupakan areal HGU dengan sertifikat nomor.15040109200003 Keputusan Bupati Barito Utara Nomor. 118.45/450/2003 tentang perpanjangan pemberian izin lokasi untuk perkebunan sawit. Persetujuan Bupati Barito Utara Nomor.544/bid/BU .410/2020 tentang perubahan luas lahan PT. AGU.

Hendra menyampaikan terhadap warga yang diduga, melanggar hukum dikenakan pelanggaran Pasal 362 junto 363 KUHP, tentang pencurian dan ada pula yang dikenakan UU Nomor.12 tahun 1951 tentang senjata tajam(sajam).

“Bagi yang masih di bawah umur, kita lakukan pembinaan,”jelas Kombes Hendra.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sepakat Desa Pandran Raya Dirukayan, Senin siang meminta kepada Polres Barito Utara agar bisa melepas warga yang ditahan.

“Masalah tersebut sudah lebih dahulu dibicarakan dengan pimpinan tertinggi PT.AGU di Jakarta, kita minta kembali ke status quo, lalu semua pihak duduk bersama untuk

menyelesaikan masalah di Desa Pandran Raya.Ada warga yang dari kebun turut ditahan,”ungkap Dirukayan.

Sedangkan Kuasa Hukum Warga Pandran Raya, Jubendri Lusfernando sangat menyayangkan langkah yang ditempuh PT. AGU, karena selama ini pihak warga sangat bersabar.

“Masalah utama, warga dari kelompok tani di luar Pandran Raya, yang justru menikmati hasil kebun sawit kemitraan. Mereka meminta perusahaan bersikap adil, karena lahan masuk Desa Pandran Raya,”terang Juben.  (SS).