Ditemukan Batu Bata Merah Kuno di Alas Sumur Bondowoso

1215 0

BONDOWOSO – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso (Dindikbud) Bondowoso bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim telah merampungkan proses ekskavasi awal atau penggalian di Desa Alas Sumur, Pujer, Kabupaten Bondowoso.

Hasilnya, pada titik galian ke 2 di samping sumur lama, tim menemukan struktur batu bata merah kuno 9 lapis pada kedalaman 5 meter.

Temuan batu bata merah di titik penggalian 2 serupa dengan batu bata merah kuno yang ditemukan di sumur baru dan lama.

Struktur batu bata merah kuno itu punya kemiripan ukuran panjang 30 cm, lebar 17 cm dan ketebalan 5 cm. Selain itu, teknik pembuatannya juga sama yakni dengan cara gosok atau kosot.

Artinya, struktur batu bata merah kuno yang ditemukan di sumur baru diduga membentang sampai sumur lama, panjangnya sekitar 20 meter.

Dari hasil geolistrik Tim Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), struktur batu bata merah itu diperkirakan tak terputus sampai sumur lama saja. Melainkan berlanjut hingga kebun sengon dengan total panjang 48 cm.

Sedangkan perkiraan area sebaran arkeologis di Desa Alas Sumur mencapai 2,2 hektare.

Kasi Sejarah Dan Kepurbakalaan Dindikbud Bondowoso, Heri Kusdaryanto mengatakan, struktur batu bata kuno merah itu diduga merupakan dinding pagar sebuah bangunan.

Bangunan yang dilindungi oleh dinding pagar hingga kini masih menjadi teka-teki. Sebab, perlu proses ekskavasi lanjutan untuk memastikannya.

“Struktur batu bata merah kuno tersebut diduga memanjang dan membentuk segi empat. Kemungkinan struktur ini bagian terluar dari bangunan entah itu taman pertirtaan, tempat suci atau permukiman, banyak kemungkinan,” kata Heri, Sabtu (19/12/2020).

Heri menjelaskan, dalam naskah Kitab Negarakertagama, Raja keempat Majapahit, Hayam Wuruk pernah melakukan perjalanan ke ujung timur Pulau Jawa.

Pemimpin Majapahit pada 1350-1389 Masehi ini melakukan perjalanan dari Silobango, Jember menuju utara yakni wilayah Dewarame, Dukun dan Pakembangan.

Kemudian, raja yang membawa Majapahit berada dipuncak kejayaan ini memutuskan bermalam di Pakembangan.

“Kemungkinan, wilayah Pakembangan yang dimaksud adalah Desa Alas Sumur. Dalam cerita, jalan yang dilalui Hayam Wuruk datar atau berada di cekungan antara Gunung Argopuro dan Raung,” jelasnya.

Karena Hayam Wuruk bermalam, diprediksi terdapat permukiman kuno di Pakembangan.

Dugaan ada permukiman kuno yang terpendam dalam tanah Desa Alas Sumur menguat setelah ditemukan fragmen porselen kalsedon hijau berasal dari Dinasti Yuan antara abad ke 13-14.

Selain itu juga, fragmen porselen putih berasal dari Dinasti Yuan awal atau Dinasti Song akhir abad 12-13.
Porselen biasanya digunakan untuk hiasan rumah atau peralatan makan.

Fragmen porselen tersebut ditemukan warga Desa Alas Sumur, Abdul Ghani secara bersamaan dengan batu bata merah kuno saat menggali sumur baru di samping kanan rumah.

“Dari beberapa catatan, pada abad 14 atau tahun 1400-an Gunung Raung meletus dan diduga mengubur daerah Pakembangan. Wilayah tersebut pun hilang,” ucapnya.

Peristiwa hilangnya wilayah Pakembangan karena letusan Gunung Raung ini, tak pelak mengingatkan tim ekskavasi awal pada tragedi Pompeii, Italia.

Kota zaman Romawi Kuno tersebut hancur akibat letusan Gunung Vesuvius sekitar 79 Masehi.

Bangunan beserta warga Pompeii terkubur abu vulkanik Gunung Vesuvius.

Puing-puing Kota Pompeii berhasil ditemukan setelah 1500-an tahun terkubur. Pada tahun 1748, Pompeii resmi digali.

Para arkeolog menemukan reruntuhan bangunan dan jasad masyarakat Pompeii yang terawetkan oleh gelombang panas piroklastik.

“Seandainya sama dengan di Pompeii, tentu sangat menarik. Sementara di beberapa tempat, warga Desa Alas Sumur menemukan daun dan ranting pohon yang terawetkan lapisan vulkanis saat menggali tanah. Berdasar itu, kemungkinan struktur di Alas Sumur juga terawetkan,” pungkasnya. (red).
Dari berbagai sumber.

Related Post