Tahun Baru dan Covid-19

0
176

Oleh: Deffa Salsabilah Rusyda *)

Tahun Baru dan Covid 19
Tahun merupakan masa periode bumi bergerak dalam orbitnya mengelilingi
matahari selama 1 kali. Dalam kalender Gregorian jarak rata-rata tahun kalender pada siklus lompatan lengkap 400 tahun adalah 365,2425 hari. Setelah tercapai 365 hari hitungan angka tersebut akan diulang kembali dari awal bersamaan dengan bertambahnya sebuah tahun, dari sinilah akan timbul istilah pergantian tahun yang baru atau lebih populer dengan istilah tahun baru.
Pergantian tahun merupakan suatu moment yang ditunggu oleh setiap orang,
beberapa dari mereka beranggapan saat tersebut merupakan kegiatan tahunan dan
tidak akan terulang kembali di tahun yang sama. Di Indonesia hampir seluruh masyarakat memaknai saat pergantian tahun dengan sebuah pesta perayaan, mereka memanfaatkan moment ini untuk makan-makan, bersenda gurau sepanjang malam pergantian tahun bahkan hingga pagi.
Pergantian tahun menuju 2021 ini sangat berbeda dengan pergantian tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan di seluruh dunia termasuk Indonesia mengalami suatu pandemi yaitu Covid 19. Proses yang terjadi sangatlah cepat
hingga dapat merubah seluruh aktivitas ataupun kebiasaan semua orang yang selalu dilakukan sebelumnya. Sebagai contoh adalah kebiasaan dari beberapa masyarakat
ketika berpergian hanya sebagian yang memakai masker, tetapi sekarang semua diwajibkan untuk menggunakan masker, selain itu harus menjaga jarak, bahkan dilarang untuk berkerumun dan di himbau untuk lebih banyak dirumah daripada di luar rumah jika tidak terlalu penting.
Merubah kebiasaan bukan perkara mudah untuk dilakukan oleh semua orang, namun masyarakat harus menyesuaikan untuk
menjalani kebiasaan baru jika tidak ingin mendapat hal buruk yang akan menimpanya.
Tahun baru yang identik dengan perayaan kini terasa begitu sunyi, berbeda
seperti tahun kemarin yang dapat merayakannya secara berkumpul, berpesta. Karena
pada tahun ini pemerintah menghimbau dan membatasi masyarakat untuk beraktifitas diluar rumah. Pemerintah melakukan hal ini untuk mengantisipasi agar tidak terjadi penambahan korban pasien covid 19. Tak sedikit di beberapa kota menerapkan pembatasan jam beraktivitas (jam malam) agar tidak terjadi adanya kerumunan disuatu tempat seperti kafe, restoran, supermarket dan lain lain terutama pada saat libur natal dan tahun baru. Apabila penerapan jam tersebut ada yang melanggar maka akan diberi sanksi dan diberikan denda.
Tindakan yang diberikan pemerintah itu memang merupakan tindakan yang baik untuk mengurangi atau memutus rantai covid 19 dikarenakan dapat mengurangi potensi masyarakat untuk berkumpul atau berkerumun. Namun, di sisi lain tindakan ini juga dapat meresahkan masyarakat terutama kepada mereka yang mata pencahariannya mengandalkan aktifitas orang ketika diluar rumah. Seperti pedagang kaki lima mereka terpaksa harus menutup tempat berjualannya pada jam yang ditetapkan terutama pada saat tahun baru. Padahal ini merupakan kesempatan untuk para pelaku usaha dalam mendapatkan keuntungan yang lebih.
Tidak hanya para pedagang saja tetapi masyarakat yang lain pun juga resah karena tidak dapat merayakan tahun baru seperti biasanya. Dari kisah tahun baru dan covid 19 tersebut tidak hanya sisi negatif yang kita
Lalami tetapi juga ada hikmah yang dapat kita petik. Ada dampak yang baik juga selain berpesta dan berkerumun, yang paling penting yaitu kesempatan untuk dapat lebih memahami arti atau makna dari pergantian tahun yang sebenarnya. Dalam hal ini kita dapat mengintropeksi diri dan merenung akan kesalahan tindakan atau keputusan yang diambil pada tahun sebelumnya.
Jarang sekali orang-orang memikirkan makna positif yang dapat dipetik dari pergantian tahun baru. Seperti halnya merefleksikan masa lalu ataupun sekarang baik itu perbuatan, tindakan, dan keputusan yang pernah diambil untuk dijadikan langkah menuju tahun depan yang lebih baik lagi. Refleksi merupakan saat dimana kita melakukan intropeksi diri terhadap berbagai macam perbuatan, tindakan, dan keputusan yang tanpa disadari dapat menyakiti ataupun merugikan orang lain. Disisi lain kita juga perlu memikirkan masa kini sebagai media strategi dalam memperbaiki masa lalu untuk masa depan. Semua itu harus diubah ke arah yang lebih bermanfaat dan tentunya lebih baik dari sebelumnya agar kedepannya tidak terulang kembali.
Refleksi bukanlah hal yang sulit asalkan mempunyai niat dari diri sendiri dan memiliki kemauan untuk melakukannya. Setiap orang memiliki pandangan berbeda tentang waktu yang mereka jalani, bukan hanya sekedar melihat detik jam atau arloji yang terus berputar melainkan lebih dilihat sebagai kesempatan, uang, dan karya yang terus berlangsung
tanpa berhenti dan tidak dapat kembali. Oleh karena itu, kita sebisa mungkin menghargai setiap kesempatan dan setiap momen yang datang karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya.

*) penulis adalah Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang