Lembaga Madin Bondowoso Keluhkan Pencairan Dana BOP Covid-19

0
31

BONDOWOSO – Kementerian Agama (Kemenag) RI mengucurkan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Covid-19, untuk Madrasah Diniyah (Madin) di wilayah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Sebanyak 663 pada tahap awal, para lembaga bisa mencairkan dana covid 19. Namun, para lembaga Madin tersebut, keluhkan realisasinya di lapangan.

Menurut narasumber di Bondowoso menyebutkan, setiap Madin mendapatkan Rp 10 juta. Akan tetapi semua pengelola lembaga tidak menerima uang sebanyak itu. Hanya menerima Rp 5 juta, di sinyalir adanya kong kalikong antara FKDT Kabupaten dengan FKDT Kecamatan dalam pengadaan barang alat kesehatan.

“Kalau kita beli di online harga barang tersebut, lebih mahal,” kata dia.

“Kami selaku kepala MDTA tidak di beri tahu tentang tehnis pembelanjaan barang hanya di beri surat pemesan dari FKDT, dengan unsur paksaan, untuk membeli barang ke FKDT, bahkan ada beberapa FKDT kecamatan yang meminta uang 50 ribu rupiah untuk pengkondisian wartawan,” imbuhnya.

Setiap lembaga yang memperoleh bantuan BOP Covid-19 di suruh bayar Rp 5 juta untuk pembelian alat-alat penanganan Covid-19 yang disediakan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) kecamatan, padahal menurut ketua FKDT JATIM bapak Satuham Akbar, tugas FKDT sebagai tim monitoring.

Hal ini di benarkan oleh bendahara FKDT Kabupaten, Ustad Busro, tentang pebelian alat alat kesehatan sebesar 5 juta kepada FKDT Kecamatan dan 5 juta itu, dengan pembuatan SPJ saat di konfirmasi wartawan gempur news.

Ada sedikit diskriminasi kalau lembaga yang kepalanya seorang LSM tidak beli alat protokol kesehatan kepada FKDT.

Anehnya menurut kepala MD yang tidak mau disebutkan namanya barang yang diterimanya tidak sesuai harapan.

“Harga Gemicidal lamp yang seharusnya Rp 719,000 rupiah di onlen di jual sama fkft Rp 1.300,000-,. Masker hanya Rp 5 ribu dihargai Rp 10 ribu, tidak sesui dengan kebutuhan di lembaga harus beli 100 lembar.
Temperatur (Termo Gun) hanya Rp 285 ribu di hargai Rp 900,000 ribu, face shild satu buah Rp 4.800 di hargai Rp 22.000 dan alat semprot sepryer Rp 475.000 dijual Rp 600.000 masih banyak lagi lainnya. Yang jelas kami kecewa,” imbuhnya.”

Lembaga sudah dapat bantuan BOP Covid-19, dari pemerintah pusat kok malah terjadi seperti ini. Kami meminta kepada BPK untuk segera meng audit melalui badan resmi yaitu Kemenag Kabupaten Bondowoso. (ari) Bersambung…