LUMAJANG — Himpunan Kerukunan Tani Indonesia(HKTI) Lumajang, terus berupaya dengan berbagai inovasi dalam upaya memberikan nilai tambah kepada petani.
Kegiatan ini sangat positif dan tentunya harus didukung oleh stakeholder, serta berbagai elemen masyarakat sehingga apa yang sedang diupayakan tersebut dapat diterima oleh semua pihak yang pada gilirannya akan muncul simbiosis mutualisme, antara produsen dan konsumen.

Ketua HKTI Lumajang, Iskak Subagio, S.Sos, mengungkapkan seluk beluk yang dirasakan oleh petani saat ini, hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang akurat dari pemangku kebijkan tentang volume kebutuhan bahan pangan dan ketersediaan lahan petani, hal ini akan terus memunculkan sekulasi bagi para petani dalam menentukan jenis tanaman yang ada.

Kebutuhan bahan pangan oleh masyarakat, tidak semua dapat diakses, sehingga para petani dalam berusaha seperti bermain judi dan hanya berharap keberuntungan, bukan kepastian, tegas Iskak.
Menurutnya, pemangku kepentingan harus selalu update, memberikan informasi, penyuluhan, dan yang paling utama tentunya informasi tersebut harus sudah sampai kepetani sebelum menentukan jenis tanaman dan luas lahan untuk budidaya.
Hal ini menyangkut jumlah produsi dan konsumen, sehingga tidak terjadi over produksi yang mengakibatkan jatuhnya harga jual hasil panen, yang tentunya akan berakibat kerugian besar bahkan bisa mengakibatkan gulung tikar terhadap petani.
Diungkapkan, sebagai lembaga HKTI memiliki tanggungjawab dalam mengawal dan mendampingi petani dalam berupaya meningkatkan penghasilan, dan diharapkan peran serta dari pemerintah dalam melindungi para petani, karena petani selama ini masih belum mendapatkan jaminan dalam berusaha, disamping harga sarana produksi( Saprodi), yang harganya terus meningkat, sedangkan hasil para petani belum ada jaminan kepastian, terutama menyangkut harga disaat musim panen.
Salah satu upaya yang dapat dirasakan langsung oleh petani juga konsumen, yakni Gerbas Tani ( gerakan belanja sayur dilahan petani), yang sampai saat ini program ini sudah berlangsung menginjak tahun ketiga.
Disamping itu, gerbastani akan mempengaruhi pola hidup dalam mendapatkan kebutuhan sehari hari, terutama kebutuhan sayur, disamping sayurnya masih segar, para pembeli mendapatkan harga yang standard karena tidak melalui para pedagang, yang sudah melewati mata rantai perdagangan yang akan menyebabkan naiknya harga barang.
” Kami akan berupaya, dengan berbagai cara dalam meningkatkan pendapatan petani, disamping itu para petani dapat jaminan harga saat panen, itu yang terus kami perjuangkan,” tekad Iskak Subagio. ( Mistari Effendy)






