GEGURITAN

(Oleh : AT. Udayana)

Kidung – Kidung ingsun angidung, angudang roso ngupoyo jiwa.

Nembang – nembang , nembangake ati kang kebak howo lan tondho.

Jeroning lenggah hanyondro kartiko, ngelerem manah metani ingkeng wewayangan, Gondho arum kumeluning dupo itu, memarem ati.
Lampahing bayu kang sumilir, asrepe nerka tumeko balung.

Advertisement

Bait – demi bait, baris – demi baris Ä£eguritan kuno itu dibaca berulang – ulang serta dihayati dengan seksama oleh mbah Cangklong, sambil sesekali mengelus – elus jenggotnya yang putih tipis dan mengepulkan asap Cangklong kebanggaannya seraya manggut – manggut.

Orang – orang disekitarnya tidaklah heran bila melihat Mbah Cangklong duduk menyendiri diteras rumahnya sepanjang malam, karena begitulah kebiasaan mbah Cangklong sehari – harinya terutama di malam hari.

Suatu kali Mbah Cangklong pernah bilang, merenung diwaktu malam adalah saat terbaik untuk mengoreksi diri, selain suasana yang hening juga tenang, tengah malam merupakan saat yang penuh Rahmat, kata para sepuh dikatakan sebagai waktu ijabah dan sering juga disebut tiga perempat malam yang mustajabah atau juga disebut longsor wengi yang Puspa Tajem.

Katanya siapa saja yang bisa memanfaatkan ‘saat’ tersebut akan di ijabahi apapun doa nya.

Menurut mbah Cangklong dirinya perlu memperbaiki hal – hal dimasa lalunya yang kurang baik, diantara ĺarutnya malam dirinya selalu menggali apapun yang kurang benar dalam dirinya, walau disadari jika tidak mungkin bisa membuat dirinya sempurna, merenungi kesalahan – kekhilafan lalu berjuang memperbaikinya adalah doa yang mustajab.

Semilirnya angin yang dingin terkadang menusuk tulang, heningnya malam terkadang serasa mencekam dan menciutkan hati, karena memperlihatkan betapa Agungnya karya ILLAHI.

Sesungguhnya manusia tiada sebanding dengan kebesaran alam yang begitu luas, dan sanggup menelan isi dunia ini kapan saja.

Bagi mbah Cangklong, sering kali manusia lupa akan siapa dirinya, sehingga tak sedikit yang sombong dupeh berharta dan berkasta.

Manusia sekarang ini mudah dimabukkan kesenangan duniawi, tak perduli benar atau tidak jalan hidup yang ditempuh yang penting hidupnya berkecukupan, dihormati orang lain dan jika memungkinkan bisa menguasai orang lain, ceketuk Mbah Cangklong saat geguyonan dengan para tamu.

Itulah yang kadang menjadi keprihatinan Mbah Cangklong, ketika dirinya berbincang di pertemuan lingkungan, tidak sedikit perbincangan yang mengatakan jika penghidupan sekarang ini terasa sulit, banyak balak penyakit juga bencana alam, seolah Yang Maha Agung Murka dengan menjatuhkan azab.

Masih tertanam tutur wejang mbah Cangklong, minggu kemarin sewaktu jagong gayeng dirumah pak RT somad, keluar sebuah kalimat bijak, “Kalau kita ingin jauh dari balak – bilahi dan diberikan kelancaran rejeki, maka dekatkanlah dirimu kepada Yang Maha Kuasa, mohonkan ampunan dan sesambatlah dengan ikhlas dan sungguh – sungguh, Akan tetapi doa bukan semata – mata kata ratapan belaka, yang terpenting adalah membenahi diri dan menata kembali agar bisa menempatkan mana yang diRidhlohi dan mana yang dilarang Allah ta’ala,” tutur Mbah Cangklong dengan suara pelan dan agak tertahan.

Apapun yang kita lakukan dan apa saja yang kita inginkan, ALLAH maha mengetahui, jadi kunci keselamatan juga kemuliaan hidup adalah sikap dan prilaku kita sendiri, oleh karenanya, harus selalu mawas diri dan berjuang mendekatkan hati dan jiwa kepada Yang Maha Khalik, lanjut Mbah Cangklong.

RELATED ARTICLES

Most Popular