LUMAJANG – Rencana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) akan menerapkan nuansa pondok pesantren di Lapas II B Lumajang bakal direalisasikan.
Memorandum of understanding (MoU) antara lapas dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Lumajang sudah ditanda tangani, Kamis ( 23/9/2021).
Muhammad Muslim, Kepala Kemenag Lumajang mengungkapkan, Senin depan kegiatan pembinaan keagamaan sudah dilaksanakan.
“Program keagamaan Pesantren Lapas terdiri atas sejumlah tingkatan program. Mulai dari pengetahuan agama yang minim hingga sudah dianggap lebih tinggi pemahaman keagamannya,” ungkap Muslim.
Ia menyebut kegiatan pembinaan keagamaan tersebut diterapkan seperti layaknya pondok pesantren, yaitu mulai bangun tidur hingga tidur kembali.
“Yang jelas nuansa pembelajarannya dibuat seperti pesantren, dari bangun subuh hingga malam menjelang tidur lagi. Nanti kita launching bersamaan dengan hari santri,” ujarnya.
Muslim menjelaskan ada program baca tulis Alquran bagi napi yang belum bisa membaca atau menulis. Kalau sudah bisa, lanjut ke tahap selanjutntya. Ada juga program tartil. Kalau sudah lancar, ada lagi tilawah atau qari.
“Kalau sudah bisa, lanjut ke tahap menghafal atau tahfizul Quran. Nah, ini program unggulan kami di lapas,” katanya.
Menurut Muslim, target hafalan fleksibel. Hal tersebut sesuai kemampuan warga binaan. Selain itu, program lain seperti pembelajaran ilmu fikih, hadis, dan lainnya juga bakal diberikan. Terutama pembinaan dan pengetahuan tauhid atau akidah napi.
“Program itu ada yang sifatnya tentatif seperti pembelajaran atau pengobatan ala Nabi. Ada juga program istighotsah yang dilakukan sebulan sekali. Rerata program lainnya dua kali dalam sepekan. Sehingga, nuansa pondok pesantren mulai bangun hingga tidur lagi sangat terasa,” lanjutnya.
Sementara itu, Agus Wahono, Kalapas Kelas II B Lumajang, mengungkapkan, program tersebut sangat baik bagi warga binaannya. Apalagi para pengajar atau pembina keagamaan lebih banyak. Menurut dia, hal itu lebih bagus. Sebab, dari sisi kesiapan napi, pihaknya sudah sangat siap.
“Salama 24 jam pun kami siap,” ungkapnya.
Pihaknya akan melakukan kategorisasi keilmuan agama napi. Sebab, hal tersebut memudahkan proses pembelajaran agama.
“Kami akan memilah, mereka yang belum bisa baca atau belum bisa salat berkumpul jadi satu. Sedangkan yang sudah bisa akan berkumpul dengan yang bisa. Apalagi jika ada yang sudah mahir, maka bisa membantu lainnya mengajar,” pungkasnya. (bam/red)






