BANDUNG BARAT – Program pemerintah dalam melaksanakan vaksinasi terkait Covid 19 terbukti dapat menurunkan penyebaran virus corona. Dengan tetap menjaga protokol kesehatan sehingga menurunnya Level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di setiap wilayah.
Namun ada saja kasus menimpa warga yang diduga efek dari penyuntikan vaksin tersebut, mulai dari rasa ngantuk, pegal-pegal hingga gejala lain yang lebih berat. Seperti yang dialami Oneng Nurjanah (52 tahun), Warga RT.006-RW 02 Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Dia adalah seorang janda cerai mati serta dalam keadaan stroke. Menurut pengakuan keluarga dan Oneng sendiri, melepuhnya badan yang dialaminya diduga setelah dilakukan vaksinasi yang dilaksanakan di wilayahnya. Semula Oneng hanya akan melakukan tensi darah dan menjelaskan bahwa dirinya memiliki riwayat alergi obat, namun oleh petugas Nakes, Oneng disarankan melaksanakan vaksin dengan alasan obat yang digunakan sekarang lain dari yang biasa digunakan sebelumnya.
Tiga hari setelah dilakukan vaksin, mulai timbul gejala melepuh yang terjadi pada area tubuh Oneng, sampai menghabiskan tiga buah sprei alas tempat tidur karena kulit menempel pada sprei yang digunakan, akhirnya digunakan alas daun pisang agar saat tidur tidak lengket antara badan dan alas tempat tidur.
Saat dikonfirmasi kepada pihak Pjs.Kepala Desa Cihanjuang, Asep ternyata belum mendapat laporan dari pihak Kadus. “Sampai hari ini belum ada laporan kepada saya, justeru baru mendapat informasi dari pihak wartawan.” Kata dia.
Idealnya, semua pihak terkait harus bersama-sama menangani hal ini, baik Puskesmas, pihak Desa dan juga pihak Satgas Covid Kecamatan.
“Saya tidak menyalahkan siapapun, namun seharusnya cepat tanggap dalam nenangani masalah ini, agar kami tidak dipersalahkan ada kejadian seperti ini. Namun karena ada kabar seperti sekarang ini, kami akan segera menurunkan petugas ke lapangan melakukan monitoring Ibu Oneng Nurjanah.” Ungkap Pjs.Kepala Desa Cihanjuang Asep kepada Wartawan.
Pantauan wartawan, keadaan Oneng Nurjanah sudah mulai membaik. Saat dimintai keterangan, pihak keluarga bercerita panjang lebar mengenai keadaan Oneng yang memiliki riwayat alergi obat. “Awalnya Oneng hanya akan ditensi darah saja, karena Oneng dalam keadaan stroke dan Oneng sudah menyatakan bahwa dirinya memiliki riwayat alergi obat.” Kata keluarga Oneng.
Menurut pengakuan keluarga, pihak Nakes yang menangani Oneng bersikukuh agar Oneng divaksin dengan alasan bahwa yang digunakan saat ini adalah obat luar. “Atas saran pihak nakes itu akhirnya Oneng bersedia untuk divaksin. Namun setelah tiga hari terjadi pengelupasan kulit seperti sekarang ini.” Ungkap salah seorang keluarga oneng yang tidak bersedia ditulis identitasnya.
Saat wartawan meminta konfirmasi kepada kepala Puskesmas Pembantu Desa Cihanjuang dr. Mia melalui handphone, dr.Mia menjelaskan jika kejadian ini memang sudah yang ke empat kalinya,
“Bu Oneng sebelumnya memang sering seperti itu dan kejadian ini memang sudah yang ke empat kalinya.” Terang dr. Mia.
dr Mia mengatakan pihaknya sudah melakukan penanganan penyesuaian, karena jika diberikan obat dikhawatirkan akan seperti itu lagi. Sebab dalam tubuh ibu Oneng itu sudah sensitif sekali, baik makanan maupun obat yang masuk bisa beresiko tinggi untuk kulitnya hingga melepuh.
“Akhirnya kami konsultasi kepada keluarganya biasa penanganannya seperti apa, karena ini kejadian yang ke empat kalinya akhirnya kami mengikuti seperti yang dilakukan oleh pihak keluarga, yakni pemberian ramuan herbal dan susu kambing. Untuk alergi vaksin dan alergi obat itu berbeda, setiap orang tidak akan pernah tahu jika kita ternyata sensitif terhadap obat tertentu kalo kita tidak terpapar dulu.” Tambahnya.
Dengan keadaan ibu Oneng alami, pihaknya tidak mungkin melakukan tes terhadap seluruh orang. Dari screening vaksin itu tidak ada namanya alergi obat, namun yang ditanyakan apakah pernah ada riwayat alergi vaksin karena dari Kemenkes nya, kami diarahkan nya ada alergi vaksin tidak ?
Karena sudah banyak yang divaksin menyatakan alergi obat, namun setelah divaksin baik-baik saja. Karena antara kandungan vaksin dan kandungan obat itu berbeda. Apalagi pada masa percepatan seperti sekarang ini, pihaknya sedang disibukan oleb kegiatan vaksin yang dilaksanakan dibeberapa tempat. Jadi dalam hal pantauan Ibu Oneng, pihaknya berbagi tugas.
“Kami juga akan mengunjungi Ibu Oneng.jika terjadi hal yang lebih buruk, dan tentunya kami akan melakukan tindakan medis yang lebih baik lagi. Kabarnya, Ibu Oneng sudah semakin baik. namun tetap kami kontrol perkembangannya. Kami sudah memiliki catatan untuk Ibu Oneng, bahwa kami tidak akan melakukan vaksinasi kedua untuk Ibu Oneng, karena Ibu Oneng ternyata tubuhnya sensitif banget.” Terang dr.Mia kapada wartawan melalui Handphone.
A.E.S


