Vertical Garden SeKota Cimahi Terkesan Terbengkalai

941 0

CIMAHI – Rona wajah Kota Cimahi akan semakin asri tatkala disetiap sudut Kota ditanam berbagai tanaman hias dengan berbagai jenis dan warna, namun kenyataannya beberapa taman tampak kurang terawat sehingga terkesan semrawut.

Khususnya Vertical Garden (Taman Vertikal) di tiga Kecamatan yang tersebar di sudut-sudut Kota, beberapa wilayah memang masih terawat baik seperti di Jalan Pasantren, namun hampir 80% sisanya tampak terbengkalai, seakan tidak dilakukan perawatan.

Dari mulai botol putih yang diperuntukkan mensuplai air bagi tanaman hias, sudah banyak yang raib entah kemana. Demikian pula dengan pot tanaman hias, bahkan pagar penyangga dari besi pun ikut hilang.

Keadaan ini membuat prihatin para pemerhati lingkungan yang peduli akan keindahan rona wajah Kota Cimahi. Masalahnya bukan pada pekerjaannya yang memang sudah selesai, namun lebih dari sisi perawatannya yang mengesankan tidak ada biaya perawatan bagi tanaman yang telah ditanam di Vertical Garden.

Salah seorang aktifis lingkungan hidup dan tanggap pengurangan resiko bencana mengatakan, kurang lebih 80% lebih memang sudah tidak terawat alias terbengkalai.

yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan

“Terkait masalah Vertical Garden kurang lebih 80% lebih memang sudah tidak terawat alias terbengkalai.” Kata aktivis yang enggan disebutkan namanya tersebut, Sabtu (4/12/2021).

Menurut dirinya, mungkin disisi lain memang ada program kerja yang sudah sukses dan berhasil. Namun jika sukses yang dimaksud hanya sekedar melaksanakan pekerjaannya saja, itu tak ada gunanya.

“Itu nonsen atau omong kosong namanya. Bukankah seharusnya ads program keberlanjutanya, yakni perwatannya. Sebab, jika hal itu tidak dilakukan, wajar akan terlihat seperti, kumuh dan terbengkalai.” Ungkap tokoh pemuda sekaligus aktifis lingkungan tersebut.

Senada dengan itu, pemerhati dan aktifis lingkungan hidup lain juga mengomentari hal tersebut. Dikatakan olehnya, setelah pekerjaan selesai dan seiring berjalannya waktu tidak juga ada pekerjaaan keberlanjutan , tentu memberikan kesan kumuh.

“Akhirnya bukan keindahan yang didapatkan, malah jadi kesan negatif dan bikin mata yang melihat jadi sakit.” Ujar Mister X.

Lebih lanjut ia mencoba menyampaikan solusi yang mungkin bisa dilakukan, yaitu, apakah akan dikerjakan oleh pihak wilayah dalam hal ini RW, atau oleh dinas itu sendiri, atau mungkin juga dikerjakan berkolaborasi dengan komunitas atau organisasi yang ada di
masyarakat.

Dampaknya, kata dia, akan ada tanggung jawab secara moril bagi wilayah setempat juga pemerintahnya sendiri. Sangat disayangkan, jika anggaran sudah dibuat namun tidak bermanfaat.

“Jadi sampah. Yaa..ngapain?” (Safe’i)

Related Post