LUMAJANG – Komunitas petani organik “Wani Gosong” Jarit Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang, mengunjungi petani tembakau di dusun maduran Desa Sarikemuning Senduro Lumajang, Rabu (26/5/2022)
Kegiatan ini sebagai tindak lanjut dari proses pembelajaran pada petani tembakau yang ada untuk berpola pertanian organik.
Ali Sujarwo selaku koordinator menandaskan bahwa komunitas petani wani gosong yang ada dibawah koordinasinya menandaskan akan bergerak ke petani petani yang ada di kabupaten Lumajang, yang tertarik pada misi “Memayu Hayuning Bawono”.
“Misi ini adalah sebuah program yang berarti memperindah dunia yang sudah indah dengan cara memakai pola pemupukan organik berbahan dari alam yang di buat sendiri. Sehingga kita tidak merusak lahan pertanian kita dengan bahan kimia yang sudah mulai masuk ke lahan pertanian mulai tahun 70 an,” bebernya.
Masalahnya, sudah banyak ekosistem yang sudah rusak, terutama rantai makanan. Hal ini mengakibatkan lahan pertanian akan rentan oleh hama, belum lagi pencemaran air dari limbah rumah tangga yang di buang ke saluran air yang bermuara di lahan.
“Nah sekarang kita bisa lihat kan bagaimana rusaknya ekosistem kita, terutama rantai makanan. akibatnya lahan pertanian kita rentan oleh hama, belum lagi pencemaran air dari limbah rumah tangga yang di buang ke saluran air yang bermuara di lahan pertanian kita,” tandasnya.
Ali menambahkan, disisi lain kesuburan tanah makin tidak subur sehingga produktivitas lahan makin kecil, membuat tanah makin asam dan kandungan mikro organisme ditanah juga makin kecil rata rata dibawah 1% akibat penggunaan bahan kimia yang terlalu masiv.
“Saya akui petani sangat tergantung bahan kimia pabrikan di usaha pertaniannya, sehingga biaya produksinya makin naik,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengajak petani berpola organik, agar tidak tergantung pada pupuk dan obat-obatan kimia pabrikan, karena petani bisa membuat sendiri.
“Dalam minggu ini kita agendakan juga mengedukasi petani di dusun Karang Anyar Desa Burno Senduro, untuk mengolah kotoran sapi perah yang selama ini mencemari kali ireng ireng,” tuturnya.
Sementara Ketua dewan pimpinan cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Lumajang, Iskhak Subagio berkomentar kegiatan seperti ini sudah seharusnya di apresiasi oleh pemerintah daerah Kabupaten Lumajang, karena mereka adalah relawan petani yang membantu program Lumajang Bumi Organik.
“Berbicara tentang pertanian, kita harus bergerak bersama tanpa ego sektoral agar semua potensi yang ada di Kabupaten Lumajang bisa terlibat,” ujar Iskhak.
Dari minimnya anggaran di Dinas Pertanian, kehadiran para relawan tani ini bisa membawa warna lain karena petani bisa belajar bertani bersama untuk mewujudkan kemandirian petani itu sendiri.
Merubah pola pertanian berbasis kimia ke pola pertanian berbasis alam (organik), bukan lah hal mudah, kondisi ini diperparah dengan kurangnya petugas penyuluh pertanian lapangan,
“Dengan melibatkan semua komunitas berlatar belakang petani diharapkan langkah terwujud nya Lumajang bumi organik akan mudah di capai. Secara produksi padi kita surplus tetapi untuk jagung dan kedelai kita masih impor,” imbuhnya.
Menurutnya, pertanian yang selalu bertumbuh disela permasalahan petani itu sendiri merupakan bukti bahwa petani ini sangat tangguh dan tetap optimis dalam segala kondisi.Mereka tetap semangat bertani walaupun merugi.
“Jangan jadikan petani kita sebagai “pejudi sejati” perlu koordinasi dari tingkat daerah sampai pusat untuk memfokuskan kebijakan petani agar berpihak pada petani itu sendiri. Semua kementrian dan dinas harus terlibat aktif. Tujuannya menjadikan penyangga tatanan negara Indonesia (PETANI) menjadi makmur, karena Tiang agung negara Indonesia (TANI) menjadi jati diri bangsa Indonesia yang berbasis agraris. Kebijakan dan aturan perundangan harus berpihak pada petani bukan memasung petani itu sendiri ,” tandas Iskhak Subagio (red)

